Agama Pelita Kebaikan: Ma’rifah Ramadhan (9)
Pendidikan agama di sekolah-sekolah dasar itu bersifat doktrin dan kecenderungan hanya pada fikih. Anak-anak tidak dilatih untuk belajar agama secara kritis.
RAMADHAN
Prof DR KH Kholid Al Walid
2/26/20262 min read
Mengapa Tuhan menurunkan Nabi dan agama? Pertanyaan ini sesungguhnya pertanyaan tingkat dasar. Namun sayangnya pendidikan agama kita di sekolah-sekolah dasar itu bersifat doktrin dan kecenderungan hanya pada fikih. Anak-anak kita tidak dilatih untuk belajar agama secara kritis.
Namun demikian karena pada pertanyaan ini ada persoalan substantial maka para filosof muslim menjadikan pertanyaan tersebut sebagai diskursus dalam studi Filsafat Agama.
Secara sederhana, kitalah yang memerlukan kehadiran para Nabi dan agama. Kenapa? Karena kita tidak memiliki kemampuan untuk dapat terhubung secara langsung dengan Tuhan karena kemampuan kita yang terbatas. Kita memerlukan Nabi yang dapat memberikan kepada kita penjelasan pesan-pesan langit.
Agama hadir untuk memberikan tuntunan bagi manusia mencapai tujuan hakikinya yang tidak cukup aqal untuk memahaminya atau memang aqal tidak mampu memikirkannya seperti bagaimana untuk terhubung dengan Tuhan dan lainnya.
Para Nabi membawa agama sebagai tuntunan keyakinan dan aturan yang dengan mengikutinya manusia dapat sampai pada tujuan yang diharapkan.
Agama memberikan nilai baik pada tindakan, ucapan, keyakinan bahkan asupan makanan, mana makanan yang layak bagi manusia dan mana yang tidak.
Dalam tindakan, agama mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Banyak hal yang sebelumnya di anggap baik, tapi setelah kehadiran agama berubah menjadi buruk dan bisa juga sebaliknya. Agama diturunkan untuk secara khusus mengarahkan manusia sesuai yang diharapkan Allah SWT.
Bagi para sufi bahwa agama adalah jalan bagi para pecinta untuk menjumpai kekasihnya. Jalaluddin Rumi berkata :
“Agama bukanlah bentuk lahirnya,
tetapi api yang membakar diri hingga fana dalam Tuhan.”
Intinya, agama menyepuh manusia untuk menjadi mulia, membuka cakrawala pengetahuan yang tidak mungkin dicapai dengan aqal dan mengajarkan cara terhubung dengan Pencipta Semesta.
Walau banyak pula kesalah tafsiran terhadap agama. Agama yang intinya mengajak kebaikan dan menjauhi keburukan justru sumber kekacauan, konflik dan tindakan teror. (Sekali lagi: karena penafsiran yang salah).
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗوَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗيُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖوَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur. (QS Al-Baqarah [2]:185) ***
