Al-Birr, Kebaikan yang Utuh: Ma'rifat Ramadhan

Dalam bahasa Arab klasik, kata barr juga berarti daratan—tanah yang luas dan kokoh—berlawanan dengan laut (al-baḥr) seakan mengisyaratkan bahwa al-birr merupakan kebaikan yang memiliki tempat berpijak atau memilki dasar yang kuat.

RAMADHAN

PROF DR KH KHOLID AL WALID MAG

3/4/20262 min read

Kata lain yang digunakan al-Qur'an untuk mengekspresikan kebaikan adalah al-birr. Kata ini menurut para ahli bahasa Arab bukan sekadar menunjuk pada perbuatan baik, tetapi pada kualitas kebaikan yang mendalam, utuh, dan menyatu dengan kepribadian manusia.

Secara bahasa al-birr mengandung makna kelapangan, keluasan, dan ketulusan. Dalam bahasa Arab klasik, kata barr juga berarti daratan—tanah yang luas dan kokoh—berlawanan dengan laut (al-baḥr) seakan mengisyaratkan bahwa al-birr merupakan kebaikan yang memiliki tempat berpijak atau memilki dasar yang kuat.

Hal ini kita dapat temukan pada ayat :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS Ar-Rūm [30]:41)

Maka al-birr bukan hanya tindakan insidental, tetapi kebaikan itu sudah menjadi karakter. Ayat berikut di dalam al-Qur'an adalah yang paling spesifik menjelaskan tentang al-birr :

۞ لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفِى الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ

"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (QS Al-Baqarah [2]:177)

Pada ayat ini menunjukkan bahwa al-birr memiliki tiga dimensi utama :

Pertama, dimensi teologis: keimanan kepada Allah dan hari akhir. Kedua, dimensi sosial: solidaritas dan kepedulian terhadap sesama. Ketiga, dimensi akhlak personal: kesabaran, keteguhan, dan integritas.

Orang-orang yang kebaikan telah menjadi karakter dirinya dan kita hanya melihat kebaikan pada setiap perkataannya dan perbuatannya. Orang seperti ini disebut oleh Al-Qur'an sebagai al-Abror.

اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍۙ

"Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan." (QS Al-Infiṭār [82]:13)

Sehingga kita bisa merumuskan bahwa kebaikan dalam istilah al-birr lebih dekat kepada konsep virtue (keutamaan) daripada sekadar good deed (perbuatan baik). Ia adalah keadaan jiwa yang bersih dan stabil dalam kebaikan dan menghasilkan perbuatan baik secara spontan karena kebaikan telah mengkarakter padanya.

Kebaikan tersebut terhasilkan dari keimanan, kecintaan dan berorientasi pada harapan keridhoan Allah SWT dan bukan hanya bersifat musiman.

Ia bagaikan pohon yang akarnya menghujam ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Buahnya dinikmati oleh banyak orang, tetapi akarnya tersembunyi dalam kedalaman batin.

Karena itu al-Qur'an mengaitkan al-Birr ini dengan ketakwaan pada Allah SWT :

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

"Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya." (QS Al-Mā'idah [5]:2)

Ketika kita diperintahkan untuk "Birr al-Walidain" (berbuat kebaikan kepada kedua orangtua) maka kebaikan itu memang berangkat dari ketulusan hati, kecintaan, terus menerus dan harapan akan keridhoan Allah SWT bukan dalam tujuan material yang tersembunyi dalam kebaikan sikap yang ditunjukkan.

Karenanya upaya dan proses kita memperbaiki diri adalah upaya untuk mencapai maqom Al-Abror:

رَبَّنَآ اِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُّنَادِيْ لِلْاِيْمَانِ اَنْ اٰمِنُوْا بِرَبِّكُمْ فَاٰمَنَّا ۖرَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّاٰتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْاَبْرَارِۚ

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru pada keimanan, yaitu ‘Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,’ maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang selalu berbuat kebaikan." (QS Āli ‘Imrān [3]:193) ***