Al-Quran: Tali Allah yang Terulur
Kita tidak boleh menganggap Al-Qur’an sebagai kitab yang bersifat duniawi. Kita tidak bisa hanya berhenti pada tafsiran dari tingkatan Arabiyun Mubīn dan menganggap itu sudah cukup. Ini adalah titik awal dari keagungan yang harus kita pahami dan membawa kita menuju tingkat-tingkat lebih tinggi dari Al-Qur’an.
AL-QURAN
Prof Saedi Amoli (Pimpinan Lembaga Penelitian Filsafat dan Irfan Isra' Qom)
1/1/20263 min read


Bismillāh al-Raẖmān al-Raẖīm.
Yang terhormat saudara saya Dr. Kholid Al Walid dari Indonesia yang telah berkunjung ke Lembaga Penelitian Filsafat dan ‘Irfan Isra' Qom, pada tanggal, 27 Februari 2025.
Kami sangat menghargai kedatangan beliau dan berharap semoga Allah memberikan kesuksesan dan kebahagiaan. Alhamdulillah, keberhasilan Dr. Kholid Al Walid dalam karya-karya filsafat dan ‘irfan—terutama dalam ajaran Hikmah Muta’aliyah—sangat terasa. Beliau merupakan salah satu pelajar yang pernah menggali ilmu dari ayah saya, Ayatullah Javadi Amoli. Saat ini, beliau sedang mendalami topik untuk menulis buku Filsafat Al-Qur’an, setelah sebelumnya berhasil menulis buku Filsafat Manusia dan Filsafat Sabar.
Beberapa referensi dari karya Ayatullah Javadi Amoli tentang Al-Qur’an menjadi sumber yang sangat bermanfaat bagi buku Filsafat Al-Qur’an yang sedang beliau tulis. Ayatullah Javadi Amoli meyakini bahwa tidak ada referensi yang dapat memperkenalkan Al-Qur’an selain Al-Qur’an itu sendiri. Dalam Tafsir Tematik Al-Qur’an yang ditulis Ayatullah Javadi Amoli, beliau mengembangkan pola bagaimana Al-Qur’an menjelaskan dirinya kepada manusia. Pada jilid pertama, beliau membahas filosofi keberadaan Al-Qur’an itu sendiri, seperti yang tercantum dalam ayat:
وَإِنَّهُ فِىٓ أُمِّ ٱلْكِتَٰبِ لَدَيْنَا لَعَلِىٌّ حَكِيْمٌ
“Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, benar-benar (bernilai) tinggi dan penuh hikmah.” (QS. Al-Zukhruf [43]: 4)
Meskipun pada tingkat turunannya menggunakan bahasa Arab yang jelas (‘Arabiyun Mubīn), namun pada tingkat tertinggi adalah ‘Aliyun Ḫakīm. Dan di antara tingkatan ‘Aliyun Ḫakīm dengan tingkatan Arabiyun Mubīn ini dijembatani melalui risalah dan wahyu Ilahi.
Mulla Sadra dalam karya-karyanya menjelaskan bahwa Al-Qur’an memiliki tingkatan-tingkatan. Tingkatan pertama adalah tingkatan Lahut, yang di dalamnya terkandung nama-nama Ilahi, kemudian tingkatan Malakut, dan terakhir Mulki. Al-Qur’an yang ada bersama kita saat ini adalah Arabiyun Mubīn dan merupakan tingkat mulki dari Al-Qur’an. Jika Allah berfirman dalam Al-Qur’an “Inna anzalnahu” (Sesungguhnya Kami menurunkannya), artinya Kami telah membawa kebenaran Ilahiyah dan ilmiah ini ke muka bumi sebagai petunjuk umat manusia.
Menurut Ayatullah Javadi Amoli, Al-Qur’an turun dengan cara tajalli, bukan dengan cara tajaffi. Makna tajalli adalah bahwa ia tetap berada pada setiap tingkatan—dari yang rendah, menengah, hingga yang tertinggi.
Oleh karena itu, kita tidak boleh menganggap Al-Qur’an sebagai kitab yang bersifat duniawi. Kita tidak bisa hanya berhenti pada tafsiran dari tingkatan Arabiyun Mubīn dan menganggap itu sudah cukup. Ini adalah titik awal dari keagungan yang harus kita pahami dan membawa kita menuju tingkat-tingkat lebih tinggi dari Al-Qur’an.
Kadang-kadang Al-Qur’an disebut sebagai Ḫablul Matin (Tali yang kokoh), yang menurut Ayatullah Javadi Amoli, bukan sekadar tali yang dilemparkan, melainkan tali yang terulur menghubungkan ‘tangan’ Allah dengan tangan umat manusia. Jika kita mengkaji Al-Qur’an dengan pemahaman seperti ini, kita akan tahu bahwa apa yang tercantum dalam Al-Qur’an adalah tanda yang hadir dari kedalaman realitas Malakut dan Jabarut yang menyampaikan pesan-pesan Ilahi. Maka, kita akan mendapatkan tafsir Al-Qur’an yang sangat fundamental.
Buku Filsafat Al-Qur’an yang ada di tangan pembaca ini merupakan penyingkapan makna bahwa Allah telah mengirimkan tali yang kokoh ini untuk umat manusia agar berpegang teguh pada petunjuk-Nya, untuk berkembang, menjadi lebih dekat dengan sifat-sifat Ilahi, berperilaku sesuai dengan akhlak Ilahi, menuntut ilmu Ilahi, dan pada puncaknya menjadi Manusia Ilahi.
Ayatullah Javadi Amoli juga telah menyusun karya lain yang ditujukan untuk menjawab keraguan-keraguan dan masalah-masalah yang ada dalam dunia modern saat ini, yang diberi judul Al-Waẖy wa al-Nubuwwah (Wahyu dan Kenabian), yang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Persia. Dalam buku ini, terdapat banyak aspek yang dibahas mengenai Al-Qur’an dan proses penurunannya dari tempat yang mulia di sisi Allah hingga menjadi bahasa Arab yang jelas. Proses ini harus dijelaskan dengan menggunakan pendekatan bahasa yang dapat dipahami oleh masyarakat modern tentang bagaimana penurunan Al-Qur’an ini berlangsung dan bagaimana proses penyempurnaan yang harus ditempuh oleh umat manusia.
Semoga Allah menambahkan keberkahan kepada Dr. Kholid Al Walid dan semakin sukses dalam melayani masyarakat yang mengkaji Al-Qur’an. ***
Qom (Iran), 27 Januari 2025
Prof. Saedi Amoli
