Allahu Akbar, Pujian yang Sebenarnya | Khutbah Idul Fitri 1447 H

Dunia dengan segala pernak-perniknya telah membawa kita terombang-ambing. Tiba-tiba saja waktu melesat, secepat kilat, dan hidup seakan perjalanan yang singkat. Mungkin telah berlalu puluhan hari raya, dan kemudian kita disadarkan: berapa lama lagi usia kita tersisa? Telah berapa kali bulan suci Ramadhan menyapa dan adakah ia mengubah kita?

KHUTBAH

KH Miftah Fauzi Rakhmat

3/24/20267 min read

Bismillahirrahmanirrahim.

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Ali Sayyidina Muhammad.

Khutbah Pertama

Assalamu’alaika ayyuhan Nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh

Assalamu’alaina wa ‘ala ‘Ibadilahis Shalihin

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

اللّـهُمَّ أهْلَ الْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ، وَأهْلَ الْجُودِ وَالْجَبَرُوتِ، وَأهْلَ الْعَفْوِ وَالرَّحْمَةِ، وَأهْلَ التَّقْوى وَالْمَغْفِرَةِ، أسْاَلُكَ بِحَقِّ هذَا الْيَومِ الَّذي جَعَلْتَهُ لِلْمُسْلِمينَ عيداً، وَ لُِمحَمَّد (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ) ذُخْراً وَشَرَفاً وَمَزيْداً، أنْ تُصَلِّيَ عَلى مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد، وَأنْ تُدْخِلَني في كُلِّ خَيْر أدْخَلْتَ فيهِ مُحَمَّداً وَآلَ مُحَمَّد، وَأنْ تُخْرِجَني مِنْ كُلِّ سُوء أخْرَجْتَ مِنْهُ مُحَمَّداً وَآلَ مُحَمَّد (صَلَواتُكَ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمْ) ، اَللّـهُمَّ إنّي أسْاَلُكَ خَيْرَ ما سَألَكَ مِنْهُ عِبادُكَ الصّالِحُونَ ، وَأعُوذُ بِكَ مِمَّا اسْتعاذَ مِنْهُ عِبادُكَ الْصّالِحُونَ»

Allahu Akbar 7x wa lillahil hamd.

Hadirin dan Hadirat, ‘Aidin dan ‘Aidat, Faizin dan Faizat.

Pekik takbir menggema, kemarin, pagi ini dan hari ini. Kalimatnya sama, lantunannya sama, dan demikian pula keharuan yang menyelimutinya. Keharuan yang membawa kita pada syukur Tuhan. Keharuan yang mengingatkan pada kenangan, akan orang-orang tersayang yang kembali ke haribaan. Akan handai taulan dan kerabat yang kini tak bersama kita berlebaran. Akan mereka yang telah menempuh perjalanan panjang ke kampung keabadian. Keharuan yang mengantarkan kita pada doa mereka yang terbaring kesakitan, yang menjemput hari raya dengan berbagai kesempitan. Dengan ujian, dengan ketidakpunyaan, dengan keterasingan. Mereka yang dengan lisannya bertakbir dan hati mereka menyimpan kerinduan, ingin bergabung dengan keluarga terkasih, ingin tersungkur di hadapan orangtua tercinta, dan ingin menatap wajah-wajah yang ramah, dan memeluk mereka sepenuh kehangatan.

Dan di berbagai tempat di belahan dunia, takbir berkumandang mengguncangkan jagat raya. Untuk beberapa saat, manusia bergabung dengan alam semesta yang selama ini tak pernah berhenti memuja penciptaNya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا

Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Isrā' [17]:44)

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar wa lillahil hamd.

Takbir kita sesungguhnya adalah pujian. Takbir kita adalah ungkap syukur pada Tuhan. Takbir kita membesarkan nikmat dan karuniaNya. Takbir kita menghilangkan diri kita dalam ketidakberartian. Yang ada hanya Dia, yang kuasa hanya Dia, yang terjadi semua kehendakNya. Dengan takbir, kita pasrah pada setiap ketentuan.

Dunia dengan segala pernak-perniknya telah membawa kita terombang-ambing. Tiba-tiba saja waktu melesat, secepat kilat, dan hidup seakan perjalanan yang singkat. Mungkin telah berlalu puluhan hari raya, dan kemudian kita disadarkan: berapa lama lagi usia kita tersisa? Telah berapa kali bulan suci Ramadhan menyapa dan adakah ia mengubah kita? Kita menjadi makhluk-makhluk yang lelah dengan kehidupan dan bulan suci Ramadhan memberikan pada kita telaga peristirahatan. Sungguh, seperti sebuah riwayat dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah: إنّ هذه القلوب تملّ كما تملُّ الأبدان، فابتغوا لها طرائف الحكم (Rawdhatul Wa’izhin, 414; Hikmah Nahjul Balaghah) sesungguhnya hati kita itu bisa kelelahan sebagaimana lelahnya badan, karena itu berikan padanya sentuhan-sentuhan hikmah.

Seperti tubuh, ruh kita bisa lelah, bisa jenuh, bisa capek, bisa bosan. Maka berikan padanya keindahan-keindahan kebijaksanaan. Tharaifal hikam, demikian ia disebut, bisa berupa kalimat inspiratif, syair-syair penggugah atau pengalaman yang bermakna. Penawar bagi ruh itu bisa jadi senyuman indah kerabat, pelukan hangat orangtua, tersungkur di haribaan mereka. Atau perjalanan pulang ke kampung halaman. Kita, manusia modern yang hidup di era disrupsi, era media serba instan yang menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Kita, manusia zaman ini yang mudah sekali terpengaruh berita-berita tak berdasar, kabar-kabar yang tidak benar dan segudang permasalahan yang besar…teramat membutuhkan oase untuk sejenak beristirahat. Teduhnya taman di tengah terik sahara kehidupan yang menyengat.

Oase itu bernama bulan suci Ramadhan. Telaga itu adalah saat-saat ketika hati melembut dalam doa-doa dini hari, ketika terbangun di waktu sahur. Adzan Subuh dan Maghrib yang terasa berbeda dari bulan yang lainnya. Bukankah bila satu indera tak digunakan, indera lain akan menunjukkan kekuatan. Bila mata tak melihat, telinga mendadak menjadi sangat tajam dan akurat. Ketika tubuh melemah di bulan suci, ruh kita justru melangit meninggi. Ketika tubuh merendah, hati justru terobati.

Itulah mengapa bulan Suci Ramadhan disebut sebagai Rabi’ul Qur’an, musim seminya al-Qur’an. Ibarat musim semi yang datang setelah musim dingin. Angin berhembus berguguran, menjadikan pepohonan sebatang kayu tanpa dedaunan. Ia mati seperti tanpa kehidupan. Lalu datanglah musim semi, daun baru tumbuh, batang baru terlihat. Ia hidup kembali.

Sebelum bulan suci, kita ini tubuh-tubuh dengan ruh yang kepayahan. Dan bulan suci menyegarkan kembali ruh kita, meniupkan padanya semangat menempuh perjalanan. Dengan al-Qur’an dan hikmah yang dihadirkan. Menurut riwayat Ibnu Hibban, turun ayat Surat Ali Imran 190-191 pada Baginda Nabi Saw. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka. (QS. Āli ‘Imrān [3]:190-191)

Ketika turun ayat ini, Baginda Nabi Saw menangis semalaman hingga tiba waktu Subuh seraya menggumamkan, “وَيْلٌ لِمَنْ قَرَأَهَا وَلَمْ يَتَفَكَّرْ فِيْهَا” Sengsaralah orang yang membaca al-Qur’an dan tidak mentafakkurinya. Barangkali maknanya, celakalah orang yang membaca kitab suci dan tidak menyembuhkan penyakit hatinya. Malanglah orang yang membaca al-Qur’an dan tidak memperoleh penawar bagi kelelahan ruhnya. Al-Qur’an tidak menjadi penyembuh bagi luka batinnya. Kita berlindung kepada Allah Swt dari yang demikian.

Saudara sekalian rahimakumullah, ‘Aidin dan ‘Aidat, Faizin dan Faizat.

Takbir adalah ungkapan syukur kita ketika hati kita itu disembuhkan. Ketika kita ditenangkan, ditenteramkan setelah goncangan. Setelah ujian demi ujian kehidupan. Seperti kumandang di perang Khandaq, ketika terjadi mubarazah, perang duel dua jagoan: ksatria Islam dan pasukan kekufuran. Sayyidina Ali di satu sisi dan ‘Amr bin Abdil Wudd di sisi lainnya. Tatkala ‘Amr meloncati parit yang tak seorang pun sanggup melakukan. Ketika ia berkata kepada barisan kaum Muslimin:

وَاِذْ قَالَتْ طَّاۤىِٕفَةٌ مِّنْهُمْ يٰٓاَهْلَ يَثْرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوْا ۚوَيَسْتَأْذِنُ فَرِيْقٌ مِّنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُوْلُوْنَ اِنَّ بُيُوْتَنَا عَوْرَةٌ ۗوَمَا هِيَ بِعَوْرَةٍ ۗاِنْ يُّرِيْدُوْنَ اِلَّا فِرَارًا

(Ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata, “Wahai penduduk Yasrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu. Maka, kembalilah kamu!” Sebagian dari mereka meminta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga).” Padahal, rumah-rumah itu tidak terbuka. Mereka hanya ingin lari (dari peperangan). (QS. Al-Aḥzāb [33]:13)

Adalah Sayyidina Ali yang menjawab tantangan itu. Kemudian terjadilah duel. Pedang yang berdentang, perisai yang beradu. Debu-debu yang mengepul menutup pemandangan. Ketika denting pedang berhenti, dan debu-debu turun perlahan, kaum Muslimin melihat Sayyidina Ali berdiri di atas jasad ‘Amr bin Abdil Wudd yang membeku. Serentak Baginda Nabi Saw bertakbir: Allahu akbar, Allahu akbar diikuti oleh gemuruh takbir kaum Mukminin. Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Pemandangan itu menjadi penawar bagi kesulitan, penenteram bagi yang ketakutan. Ia menjadi tharaifal hikam yang menguatkan.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ اقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمَدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ارْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ وَ الْبَشَرِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنُ بِنَظَرٍ وَأُذُنَّ بِخَبَرٍ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَنَ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرِ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنِي بِمَلائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أَمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلَّمُوا تَسْلِيمًا

Allahu Akbar 5 x wa lillahil hamd.

Hadirin dan Hadirat, ‘Aidin dan ‘Aidat, Faizin dan Faizat, Saudara sekalian rahimakumullah.

Selamat menikmati saat ketika kita berhari raya. Teriring salam shalawat pada Baginda Nabi Rasulullah Muhammad al-Mustafa Saw, dan keluarganya yang mulia, para sahabatnya yang setia. Kita ucapkan salam perpisahan pada sebaik-baik bulan yang telah menyertai kita. Telaga peristirahatan setahun sekali bagi jiwa-jiwa yang lelah itu. Inilah bulan yang bagi para kekasih Allah Swt adalah hari raya yang sesungguhnya. ‘Iedu li-Awliya’illah, hari raya para kekasih Allah Swt. Mereka yang merindukan bulan suci sebelum kedatangannya. Dan yang menangis sebelum kepergiannya. Mereka yang berharap kemuliaan malam qadar dan saat-saat ketika hati melembut di dalamnya.

Ada satu hal lagi yang dapat menyembuhkan luka batin dan lelah jiwa kita itu. Ialah ujian dan musibat. Dalam sebuah doa dari cucunda Nabi Saw, Imam Sajjad as yang diajarkan pada Abu Hamzah al-Tsumali: a tuaddibni bil ‘uqubah? Tuhanku, apakah mesti dengan akibat perbuatan Engkau mendidik kami. Ayahanda beliu Sayyidina Husain as menyampaikan: "لَوْ لَا ثَلَاثَةٌ مَا وَضَعَ ابْنُ آدَمَ رَأْسَهُ لِشَيْ‏ءٍ: الْفَقْرُ وَ الْمَرَضُ وَ الْمَوْتُ‏" (Nuzhatun Nazhir wa Tanbihul Khathir, 80). Sekiranya tidak ada tiga hal, tidak akan menunduk kepala manusia: kefakiran, sakit, dan kematian.

Tiga hal itu kerap menjadi penyembuh justru bagi ruh yang tengah sakit. Saat kita diuji oleh kefakiran, oleh derita sakit berkepanjangan dan oleh kematian. Keterpisahan kita dengan orang-orang yang kita sayang: belahan jiwa kita, dengan bagian besar dari hidup kita. Kita disadarkan.

Karena itu, marilah kini kita mengenang. Di saat kita berhari raya. Bersama kita ada saudara-saudara yang diuji dengan musibah banjir bandang, di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Doa kita untuk mereka. Ada juga yang berlebaran di pengungsian.

Lalu layangkan pandang nun jauh pada saudara kita di Palestina. Mereka yang tak henti berjuang melawan penindasan. Mereka yang hati mereka tetap hidup di tengah dunia yang seolah berhenti mempedulikan. Kata para ulama, ada dua jenis kematian yang membuat manusia menundukkan kepalanya dalam ketaklukan: ar-ruju’ al-idhtirari dan ar-ruju’ al-ikhtiyari. Kembali yang terpaksa, dan kembali yang suka rela. Siap tidak siap, malakal maut itu akan tiba. Dan ada yang memilih untuk menjemputnya lebih dahulu. Mereka hidup seakan-akan setiap hari adalah hari terakhir mereka. Itulah jalan para syuhada. Jalan para pecinta teladan kekasih hati dan sebuah kerinduan suci pada Yang Dinanti.

Di bulan suci ini kita menyaksikan bagaimana sebuah bangsa, Republik Islam Iran di saat sedang berpuasa, mempertahankan nilai-nilai agama. Mereka berjuang untuk kemerdekaan saudara-saudara mereka di Palestina. Karena itu mereka diperangi. Rudal demi rudal menghantam bertubi. Mereka kehilangan para petinggi negeri. Bahkan sang kepala negara, yang juga seorang ulama, Allamah Ayatullah al—Uzhma Sayyid Ali al-Husani al-Khamenei syahid dalam sebuah serangan keji. Beliau gugur bersama sang istri, bersama menantu, kerabat dan cucu. Alangkah indahnya jalan kembali. Inilah kematian yang menghidupkan. Sungguh, hidup ada pada kematian yang menaklukkan. Dan kematian ada pada kehidupan yang ditaklukkan. Syahid adalah kematian yang memberikan kesaksian: Hayhat minna adz dzillah! Pantang umat Islam menerima kehinaan. Pantang tunduk pada kezaliman.

Dalam saat-saat seperti itu, kita melihat bagaimana pekik takbir mengemuka. Kali ini, sebagai ungkap syukur pada Tuhan, betapa dalam setiap kesulitan nikmat Tuhan tetap tak terperikan. Allahu Akbar menggema sebagai bentuk perlawanan. Sebagai ungkap penguatan. Tak ada ketakutan. Yang ada hanya sepenuh kepasrahan. Tak ada kegelisahan. Yang ada hanya keindahan. Meski satu demi satu berguguran, panji perjuangan takkan pernah jatuh ke bumi, ia hanya berpindah tangan.

Inilah makna takbir yang kita kumandangkan. Kepasrahan kita kepada setiap ketentuan. Allhu akbar, Allah Maha besar dari setiap tantangan. Allahu akbar, Allah Maha besar dari setiap permasalahan. Allahu akbar, Allah maha besar dari setiap kesulitan. Allahu akbar, Allah Maha besar dari setiap kegelisahan. Allahu akbar, Allah Maha besar dari setiap ketakutan.

Mari gumamkan Allahu akbar ketika kita berlepas dari tanah lapang ini. Saat kita menyalami sanak saudara dan famili. Ketika kita memaafkan sesama, melapangkan dada seraya berkata: apa pun masalah yang kita miliki, ada Allah Ta’ala yang Maha besar dari segalanya. Apa pun kesalahan yang kita jalani, ada ampunan Allah Ta’ala yang menyelimuti. Selama kita bertaubat, sepanjang kita kembali, selama kita saling mengasihi. Mari kita ucapkan takbir setiap kali ada ujian menghampiri. Allah Maha besar. Allah Maha besar.

Ya Allah ya Tuhan kami, telah kelu lidah kami karena banyaknya dosa kami. Telah hilang wibawa wajah kami. Dengan wajah yang mana kami harus menyeru-Mu setelah dosa-dosa membuat wajah kami muram. Dengan lidah yang mana kami harus memanggil-Mu setelah maksiat membuat lidah kami bungkam. Tuhan kami, inilah kami yang bertambah panjang usia kami bertambah juga dosa-dosa kami. Bertambah panjang musibah dan penderitaan kami, tapi bertambah panjang juga harapan kami karena luasnya ampunan-Mu.

Ya Allah ya Tuhan kami, buruk benar apa yang telah kami lakukan, tapi sungguh indah benar maaf-Mu dan ampunan. Tuhan kai, lama derita kami, rapuh tulang kami, ringkih tubuh kami, sedangkan dosa kami bertumpuk di atas punggung kami. Kepada-Mu wahai Junjungan, kami adukan kefakiran dan kemiskinan kami, kelemahan dan ketidakberdayaan kami. Maka izinkanlah kami menyeru-Mu pada hari Fitri kami. Perkenankan doa kami, penuhi hajat kami, dekatkan ijabah doa kami. Kami menunggu ampunanMu seperti yang ditunggu para pendosa. Sungguh kami tidak akan pernah berputus asa dari rahmat-Mu selamanya.

Ya Allah ya Tuhan kami, apakah akan Kaubakar dengan neraka wajah kami yang sudah rebah beribadah kepadamu di bulan suci Ramadhan. Apakah akan Kaubakar dengan neraka lisan kami yang telah mendawamkan al-Qur’an. Apakah akan Kaubakar dengan neraka hati kami yang telah pasrah menerima ketentuan, yang memanggil nama-Mu penuh harap di waktu-waktu sahur yang dirindukan. Apakah akan Kaubakar dengan neraka tubuh yang sudah rukuk dan sujud di waktu-waktu malam?

Ya Allah, bagimu segala pujian. Padamu juga segala takbir kami sampaikan. Mahabenar Engkau. Mahabesar Engkau. Terpujilah Engkau dalam segala keadaan. Allahu akbar, Allahu akbar, walillahil hamd.

يَا دَائِمَ ٱلْفَضْلِ عَلَىٰ ٱلْبَريِّةِ يَا بَاسِطَ ٱلْيَدَيْنِ بِٱلْعَطِيَّةِ يَا صَاحِبَ ٱلْمَوَاهِبِ ٱلسَّنِيَّةِ

صَلِّ عَلَىٰ مُحَمِّدٍ وَآلِهِ خَيْرِ ٱلْوَرَىٰ سَجِيَّةً وَٱغْفِرْ لَنَا يَا ذَٱ ٱلْعُلَىٰ فِي هٰذِهِ ٱلْعَشِيَّةِ

@miftahrakhmat and family, 1447 H.

Mohon maaf lahir dan batin 🙏🏼🙏🏼🙏🏼