Amarah: Mengelola Api Batin (Refleksi Etis-Spiritual dari Mahajjat al-Bayḍāʾ)
Seseorang bisa bersikap tegas tanpa membenci, berani tanpa melukai, dan kritis tanpa kehilangan welas asih.
TASAWUF
1/23/20261 min read


Amarah adalah bagian dari pengalaman manusia. Ia hadir dalam diri siapa pun—tanpa memandang latar belakang mazhab, aliran, atau identitas keagamaan.
Dalam kitab Mahajjat al-Bayḍāʾ, Syaikh Fayḍ Kāshānī mengajak kita melihat amarah secara lebih jernih: bukan sebagai musuh iman, tetapi sebagai energi batin yang perlu diarahkan.
Menurut Fayḍ Kāshānī bahwa amarah diciptakan sebagai kekuatan untuk melindungi diri dan menjaga nilai kebenaran. Tanpa amarah, manusia mudah tunduk pada ketidakadilan. Namun, masalah muncul ketika amarah tidak lagi dikendalikan oleh kesadaran. Ia menulis:
“Amarah yang keluar dari kendali akal akan berbalik membinasakan pemiliknya.” (Mahajjat al-Bayḍāʾ)
Artinya, yang merusak bukan amarah itu sendiri, melainkan amarah yang dikendalikan ego. Ketika marah hanya untuk membela harga diri, kelompok, atau identitas, amarah berubah menjadi api yang membakar hubungan dan ketenangan batin.
Sebaliknya, Mahajjat al-Bayḍāʾ juga mengingatkan bahwa mematikan amarah sepenuhnya bukan tanda kedewasaan spiritual. Jiwa yang tidak pernah marah sama sekali sering kali kehilangan kepekaan terhadap ketidakadilan. Karena itu, yang ditekankan bukan penghapusan, melainkan keseimbangan.
Fayḍ Kāshānī menyebut keadaan ideal sebagai amarah yang berada di bawah bimbingan akal dan nilai-nilai moral:
“Keutamaan amarah adalah ketika ia berada di bawah arahan akal dan agama.” (Mahajjat al-Bayḍāʾ)
Dalam kondisi ini, seseorang bisa bersikap tegas tanpa membenci, berani tanpa melukai, dan kritis tanpa kehilangan welas asih. Amarah semacam ini tidak berisik, tidak mencari pembenaran, dan tidak meninggalkan dendam.
Bagi pembaca masa kini, pesan (kitab) Mahajjat al-Bayḍāʾ sangat relevan bahwa amarah tidak boleh menjadi identitas, apalagi alat saling meniadakan. Ia hanya boleh menjadi respons sadar terhadap ketidakadilan, lalu berhenti ketika tugasnya selesai.
Dengan kata lain, amarah yang lahir dari ego mempersempit hati, sedangkan amarah yang lahir dari kesadaran memperluas kemanusiaan. Inilah inti penyucian amarah yang ditawarkan Fayḍ Kāshāni, yakni jalan tengah yang tenang, dewasa, dan inklusif. ***
