Apakah Fisika Membatalkan Tuhan dan Kausalitas?
Klaim bahwa fisika modern—terutama fisika kuantum—telah membatalkan Tuhan dan prinsip kausalitas semakin sering diulang dalam diskursus populer maupun semi-akademik.
FILSAFAT
Mohammad Adlany, Ph.D
1/15/20262 min read


Klaim bahwa fisika modern—terutama fisika kuantum—telah membatalkan Tuhan dan prinsip kausalitas semakin sering diulang dalam diskursus populer maupun semi-akademik.
Ketidakpastian, probabilitas intrinsik, dan runtuhnya determinisme klasik dianggap cukup untuk menyimpulkan bahwa realitas tidak lagi membutuhkan sebab metafisis, apalagi Tuhan sebagai Sebab Pertama. Tulisan ini berargumen bahwa klaim tersebut tidak hanya keliru, tetapi juga bertumpu pada kesalahan filosofis mendasar: penyempitan makna kausalitas dan kekeliruan kategori antara keberadaan (wujud) dan perilaku (gerak).
Premis Dasar Klaim Saintifik-Reduksionis
Klaim “fisika membatalkan Tuhan/kausalitas” umumnya bertumpu pada tiga asumsi implisit:
1. Kausalitas disamakan dengan determinisme fisik.
2. Jika suatu peristiwa tidak deterministik, maka ia tidak memiliki sebab.
3. Jika peristiwa fisik tidak memiliki sebab, maka realitas tidak membutuhkan sebab pertama (Tuhan).
Ketiga asumsi ini tampak ilmiah, tetapi secara filosofis rapuh.
Kritik Pertama: Kekeliruan dalam Memahami Kausalitas
Dalam filsafat tradisional, kausalitas tidak pernah disamakan dengan keteraturan matematis atau prediktabilitas empiris. Sebab didefinisikan sebagai faktor eksistensial—yakni sesuatu yang tanpanya suatu entitas tidak akan ada. Dengan demikian, kausalitas tidak menjelaskan bagaimana sesuatu bergerak, melainkan mengapa sesuatu ada.
Fisika—baik klasik maupun kuantum—tidak pernah bergerak pada level ini. Ia tidak menjawab mengapa realitas ada, melainkan bagaimana realitas yang sudah ada berperilaku atau bergerak. Maka, bahkan jika seluruh hukum fisika bersifat probabilistik, hal itu tidak menyentuh pertanyaan ontologis tentang dasar keberadaan realitas itu sendiri.
Kritik Kedua: Distingsi antara Perilaku dan Eksistensi
Fenomena kuantum sepenuhnya berada pada ranah perilaku, pergerakan, perubahan, atau transformasi: transisi keadaan, hasil pengukuran, peluruhan, dan interaksi partikel. Semua ini adalah gerak dan perubahan dari sesuatu yang sudah eksis.
Dalam filsafat, gerak tidak membutuhkan sebab eksistensial, karena tidak ada eksistensi baru yang diciptakan di dalamnya. Gerak hanya membutuhkan pengaruh atau efek, bukan sebab eksistensial. Oleh karena itu, ketidakpastian kuantum tidak meniadakan sebab ontologis, karena ia sama sekali tidak berbicara tentang penciptaan atau dasar keberadaan.
Mengatakan “fisika kuantum meniadakan sebab” sama kelirunya dengan mengatakan “ketidakpastian arah angin meniadakan keberadaan atmosfer”.
Kritik Ketiga: Kekeliruan Kategoris
Argumen saintifik-ateistik melakukan kekeliruan kategoris dengan cara berikut:
1. Kausalitas metafisis (ontologis) direduksi menjadi kausalitas fisik (dinamis).
2. Ketika kausalitas fisik bersifat probabilistik, kausalitas metafisis dianggap gugur.
Padahal, kedua jenis kausalitas ini bekerja pada tingkat realitas yang berbeda. Menolak kausalitas ontologis karena ketidakpastian fisik sama dengan menolak keberadaan makna karena ketidakpastian bahasa.
Implikasi terhadap Konsep Tuhan
Tuhan dalam filsafat—khususnya dalam filsafat Islam—bukanlah “penjelas celah” (God of the gaps) yang bekerja hanya ketika hukum fisika gagal. Tuhan adalah Sebab Eksistensial Mutlak, yang menjadi dasar keberadaan segala sesuatu, termasuk hukum-hukum fisika itu sendiri.
Fisika kuantum, betapapun radikalnya, tetap mengandaikan:
1. Keberadaan realitas,
2. Keberadaan struktur matematis,
3. Keberadaan potensi dan aktualisasi.
Semua ini secara ontologis bersifat kontingen (mungkin-ada, mumkin al-wujud) dan dengan demikian tetap membutuhkan wujud-niscaya (wajib al-wujud).
Fisika Kuantum sebagai Kritik atas Mekanisme, Bukan atas Tuhan
Yang sebenarnya runtuh dalam fisika kuantum bukanlah Tuhan atau kausalitas metafisis, melainkan:
1. Determinisme mekanistik Newtonian,
2. Pandangan bahwa alam semesta adalah mesin tertutup,
3. Reduksi realitas menjadi relasi matematis belaka.
Dalam pengertian ini, fisika kuantum justru lebih dekat dengan metafisika klasik daripada fisika mekanistik modern. Ia mengakui keterbatasan prediksi, keterbukaan kemungkinan, dan ketaktereduksian realitas pada hukum deterministik.
Formulasi Argumen Filosofis
Argumen dapat dirumuskan secara ringkas sebagai berikut:
1. Kausalitas metafisis menjelaskan eksistensi, bukan perilaku.
2. Fisika kuantum hanya menjelaskan perilaku sistem yang sudah eksis.
3. Ketidakpastian perilaku tidak meniadakan sebab eksistensial.
4. Perilaku fisik bersifat kontingen atau mungkin dan tidak menjelaskan keberadaannya sendiri.
5. Maka, fisika—termasuk fisika kuantum—tidak membatalkan kausalitas metafisis maupun Tuhan sebagai dasar keberadaan.
Penutup
Klaim bahwa fisika membatalkan Tuhan dan kausalitas adalah produk dari reduksionisme filosofis, bukan temuan ilmiah. Ia lahir dari penyempitan makna kausalitas dan kegagalan membedakan antara wujud dan perilaku. Dengan memulihkan distingsi ontologis ini, menjadi jelas bahwa fisika kuantum tidak menyingkirkan Tuhan, melainkan hanya menggugurkan ilusi bahwa hukum-hukum fisik dapat berdiri sebagai penjelasan terakhir atas realitas. ***
