Aqal Penilai Kebaikan: Ma'rifah Ramadhan (8)
Melalui Aqal yang Allah berikan ini, kita mampu membedakan apakah satu tindakan itu baik atau buruk. Baik karena tindakan itu menimbulkan kekacauan, kerusakan dan kerugian juga tindakan tersebut tidak berkesusaian dengan harkat diri manusia.
RAMADHAN
Prof Dr KH Kholid Al Walid
2/25/20262 min read


Ibn Sina yang dikenal sebagai Filosof muslim paling cerdas berkata begini :
"Keledai memiliki kemampuan untuk membawa beban, sedangkan kuda selain memiliki kemampuan membawa beban juga bisa berlari dengan cepat ke medan laga jika kuda tersebut tidak mampu berlari cepat maka kuda tersebut sama dengan keledai. Manusia memiliki Awal jika manusia tak menggunakannya maka dirinya sama dengan hewan".
Bagi para filosof bahwa manusia merupakan hewan yang berakal. Aqal merupakan fashl atau diferensial atau pembeda khusus antara manusia dengan binatang.
Secara etimologis, kata ‘aql berarti “mengikat” atau “menahan.” Aqal mengikat manusia dari kesalahan, menahan dari dorongan instingtif yang membutakan, dan mengarahkan kepada kebenaran. Namun dalam filsafat Islam, pengertiannya berkembang jauh melampaui fungsi etis-praktis.
Bagi para filosof, akal adalah daya yang mampu: mengabstraksikan bentuk dari materi, menangkap universal dari particular, memahami sebab di balik akibat, dan mengarahkan jiwa menuju kesempurnaan intelektual.
Aqal memiliki empat tingkatan: Aqal Potensial (al-‘aql bi al-quwwah) – kemampuan dasar manusia untuk mengetahui. Aqal Aktual (al-‘aql bi al-fi‘l) – akal yang telah memahami bentuk-bentuk universal. Aqal Perolehan (al-‘aql al-mustafad) – akal yang tersinari oleh realitas intelektual yang lebih tinggi. Aqal Aktif (al-‘aql al-fa‘al)– entitas kosmis yang memancarkan bentuk-bentuk pengetahuan ke dalam jiwa manusia.
Ibn Sina memperdalam teori aqal dengan pendekatan psikologis-metafisis. Ia memandang jiwa manusia sebagai substansi immaterial yang memiliki daya rasional. Bahkan dalam pandangannya Aqal adalah puncak fakultas jiwa dan kesempurnaan manusia terletak pada aktualisasi akalnya. kebahagiaan tertinggi al-sa‘adah) yang dicapai manusia adalah kebahagiaan intelektual—yakni ketika jiwa mencapai penyatuan pengetahuan dengan realitas universal.
Al-Qur'an sendiri dibanyak ayatnya menggunakan kata Aql ini dan menunjukkan bahwa Aql adalah anugerah Allah bagi manusia digunakan untuk memahami ayat-ayat semesta dan menyerap pengetahuan. Namun pada saat yang sama Al-Qur'an menunjukkan banyak manusia tidak menggunakan aqalnya.
Melalui Aqal yang Allah berikan inilah kita mampu membedakan apakah satu tindakan itu baik atau buruk. Baik karena tindakan itu menimbulkan kekacauan, kerusakan dan kerugian juga tindakan tersebut tidak berkesusaian dengan harkat diri manusia. Sebagai contoh ketika seseorang berjalan tanpa busana jelas aqal menyatakan itu sesuatu yang buruk.
وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ
Mereka juga berkata, “Andaikan dahulu kami mendengarkan atau menggunakan akal (peringatan itu), tentulah kami tidak termasuk ke dalam (golongan) para penghuni (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala).” (QS. Al-Mulk [67]:10)
Aqal adalah anugerah Allah yang paling istimewa pada diri manusia selain berfungsi untuk membimbing manusia memiliki beragam pengetahuan juga alat yang membuat manusia memiliki kemampuan untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan. ***
