As-Sajjad hingga Imam Jafar Shadiq
Setelah wafat Al-Husein bin Ali di Karbala, kaum Muslim Syiah meyakini bahwa kepemimpinan dan otoritas keagamaan Islam beralih kepada Ali bin Husein yang bergelar As-Sajjad, putra cucu Rasulullah saw yang selamat dari pembantaian di Karbala.
SEJARAH
11/13/20253 min read


Setelah wafat Al-Husein bin Ali di Karbala, kaum Muslim Syiah meyakini bahwa kepemimpinan dan otoritas keagamaan Islam beralih kepada Ali bin Husein yang bergelar As-Sajjad, putra cucu Rasulullah saw yang selamat dari pembantaian di Karbala, Iraq.
Ali bin Husain lahir di Madinah, 15 Jumadil Ula 36 H. Di kalangan sufi dikenal dengan nama Imam Ali Zainal Abidin. Hampir semua tarekat sufi menghubungkan sanad guru spiritual kepada Ali Zainal Abidin, kemudian kepada Ali dan Rasulullah saw.
As-Sajjad dikenal orang yang zuhud, dermawan, dan banyak menghabiskan waktu dalam ibadah, sujud, dan doa. Dalam melantunkan doa tidak lepas air mata. Suatu hari pengikutnya mendapatinya sedang terisak-isak menangis seraya menggumamkan kalimat, “La ilaha illallah, haqqan haqqa. La ilaha illallah ta`abidan wa riqqa. La ilaha illallah imanan wa shidqa (tidak ada tuhan kecuali Allah yang sebenar-benarnya. Tidak ada tuhan kecuali Allah dengan keimanan dan ketulusan).”
“Ya Sayyidi,” tegurnya, “belum jugakah datang waktunya dukamu berhenti dan tangismu berkurang.”
“Bagaimana engkau ini,” kata Ali, “Yakub bin Ishaq adalah Nabi dan putra Nabi. Ia mempunyai dua belas putra. Seorang di antara mereka hilang dan Yakub menderita. Matanya buta karena sering menangis dan rambutnya beruban. Padahal, anak yang ditangisinya masih hidup di dunia. Aku melihat ayahku, saudaraku, dan tujuh belas saudaraku dibantai di depanku. Mungkinkah hilang dukaku dan berkurang tangisanku?”
Seorang perawi hadis, Al-Zuhri, berujar, “Aku tidak menjumpai seorang pun dari keluarga Rasulullah saw yang lebih utama dari putra Husein.”
Mengenai kesalehannya, diceritakan saat hendak shalat wajah As-Sajjad pucat dan badannya gemetar. Ketika ditanya mengapa demikian, ia menjawab, “Kamu tidak mengetahui di hadapan siapa aku berdiri (shalat) dan kepada siapa aku munajat.”
Sejarah mengisahkan bahwa nasib As-Sajjad tidak mulus. Yazid bin Muawiyah dan Abdul Malik, penguasa Dinasti Umayyah, mengikat As-Sajjad dengan rantai seperti binatang di depan umum. As-Sajjad digiring dari Damaskus ke Madinah. Perlakukan tidak manusiawi pada keturunan Rasulullah saw itu membangkitkan rasa simpati umat sehingga banyak yang menjadi pengikutnya. Khawatir umat akan dimanfaatkan oleh As-Sajjad untuk melawan, maka Al-Walid bin Abdul Malik bin Marwan, meracuni makanannya hingga mengembuskan nafas terakhir pada 25 Muharram 95 H. dan dikuburkan di Jannatul Baqi, Madinah.
Setelah wafat As-Sajjad, yang menjadi pelanjut pemimpin Islam adalah Muhammad Al-Baqir. Beliau adalah putra pasangan As-Sajjad dan Fathimah binti Hasan yang lahir di Madinah pada 1 Rajab 57 H. Ia menikah dan dikaruniai delapan anak: Imam Jafar Shadiq, Abdullah, Ibrahim, Ubaidillah, Reza, Ali, Zainab, dan Ummu Salamah.
Al-Baqir merupakan sosok yang dihormati dan dikenal sebagai pemuka agama yang menguasai ilmu-ilmu hikmah dan hadis. Mengenai keilmuannya, lbnu Hajar Al-Haitami berkomentar, “Muhammad Al-Baqir telah menyingkapkan rahasia-rahasia pengetahuan dan kebijaksanaan, serta membentangkan prinsip-prinsip agama. Tidak sorang pun dapat menyangkal kepribadiannya yang mulia, pengetahuan yang diberikan Allah, kearifan yang dikaruniakan Allah dan tanggung jawab serta rasa syukurnya terhadap penyebaran pengetahuan. Muhammad Al-Baqir adalah seorang yang suci dan pemimpin spiritual yang sangat berbakat.”
Sama seperti ayahnya, Al-Baqir juga dimusuhi penguasa Dinasti Umayyah. Segala bentuk kecaman, ancaman, dan tipu daya tidak berhasil memalingkan umat dari Al-Baqir. Akhirnya penguasa meracuni makanannya hingga wafat pada Senin, 7 Dzulhijah 114 H. dan dikuburkan di Jannatul Baqi, Madinah. Kemudian salah satu putranya, Imam Jafar Ash-Shadiq menjadi pelanjutnya.
Imam Jafar bin Muhammad As-Shadiq lahir di Madinah pada 17 Rabiul Awwal 83 H./20 April 702 M. Sejak kecil Imam Jafar dididik oleh ayahnya. Pada usia 12 tahun, Imam Jafar menyaksikan kejahatan Dinasti Umayyah, terutama masa Al-Walid I (86-89 H.) dan Sulaiman (96-99 H.), serta menyaksikan keadilan Umar bin Abdul Aziz (99-101 H.).
Masa kehidupan Imam Jafar penuh dengan pergolakan politik antara Dinasti Umayyah dengan Dinasti Abbasiyah yang saling berebut kekuasaan. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh Imam Jafar untuk meyebarkan ilmu sehingga memiliki empat ribu murid yang terdiri dari para ulama dan ilmuwan, seperti Abi Musa Jabir bin Hayyan (Geber) yang dikenal ahli matematika dan kimia, Hisyam bin Al-Hakam, Mu’min Thaq, Zararah, Muhammad bin Muslim, Aban bin Taghlib, Hisyam bin Salim, Huraiz, Hisyam Kaibi Nassabah, dan beberapa fuqaha seperti Abi Hanifah, Al-Qadi As-Sukuni, Malik bin Anas, Ahmad bin Hanbal, Asy-Syafii, dan lainnya.
Abu Hanifah, pendiri mazhab Hanafiyah, bercerita tentang pertemuannya dengan Imam Jafar ketika diundang penguasa Dinasti Abbasiyah. Abu Hanifah merasa kagum saat memandang Imam Jafar yang duduk penuh wibawa. Dalam pertemuan itu, Al-Mansur—penguasa Dinasti Abbasiyah—meminta Abu Hanifah agar menyampaikan pertanyaan kepada Imam Jafar. Terjadilah dialog. Pertanyaan demi pertanyaan dijawab oleh Imam Jafar. Orang-orang yang hadir pun segera mengetahui ilmu Imam Jafar yang di atas para ulama. Abu Hanifah berkata kepada Al-Mansur, “Tidakkah telah aku katakan bahwa dalam soal keilmuan, orang yang paling ‘alim dan mengetahui adalah Jafar bin Muhammad.”
Dalam sebuah riwayat disebutkan Imam Jafar Ash-Shadiq berkata, “Hadis-hadis yang aku keluarkan adalah hadis-hadis dari bapakku. Hadis-hadis dari bapakku adalah dari kakekku. Hadis-hadis dari kakekku adalah dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Hadis-hadis dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib adalah hadis-hadis dari Rasulullah saw dan hadis-hadis dari Rasulullah saw adalah wahyu Allah Azza wa Jalla.”
Nasib Imam Jafar sama seperti bapak dan kakeknya. Pada tanggal 25 Syawal 148 H./13 Desember 765 M., Imam Jafar wafat akibat racun yang ditanam dalam makanan atas perintah Mansur Al-Dawaliki, penguasa Dinasti Abbasiyah. Imam Jafar dikuburkan oleh putranya, Musa Al-Kazhim, di Jannatul Baqi, Madinah.
Sesuai dengan ketentuan nash, kepemimpinan beralih kepada Imam Musa bin Jafar. Imam Musa yang digelari Al-Kazhim lahir pada Ahad, 7 Shafar 128 H. di kota Abwa. Ibu Imam Musa bernama Hamidah, seorang wanita berkebangsaan Andalusia (Spanyol). Sejak masa kecil Imam Musa telah menunjukkan kepandaiannya. ***
