Bagaimana agar Hidup Berlimpah?
Perjalanan batin jiwa menuju Allah melalui wilayah (kepemimpinan spiritual) para Imam, frasa "وَأَرْغِدْ عَيْشِيْ" bukan sekadar permohonan untuk kelimpahan materi, melainkan seruan mendalam untuk transformasi eksistensial yang menyentuh lapisan terdalam hati.
TASAWUF
Dr Dimitri Mahayana
1/14/20262 min read


وَأَرْغِدْ عَيْشِي
(Frasa ini berasal dari Doa Abu Hamzah al-Thumali, yang diriwayatkan dari Imam Ali bin al-Husain Zainul Abidin as.
Dan buatlah hidupku berlimpah (atau: buatlah hidupku nyaman, luas, dan mewah dalam rezeki serta kemudahan).
Analisis Etimologis
Kata "أَرْغِدْ" (arghid) adalah bentuk imperatif (perintah) dari akar kata Arab ر-غ-د (rā'-ghayn-dāl), yang secara dasar berarti "kelimpahan", "kemudahan", "kesenangan", atau "kehidupan yang nyaman dan berlimpah".
Akar ini muncul dalam bahasa Arab klasik untuk menggambarkan sesuatu yang luas, mudah, dan penuh berkah, tanpa kesulitan atau kekurangan. Misalnya, dalam Al-Quran (QS. Al-Baqarah: 35), kata "رَغَدًا" (raghadan) digunakan dalam perintah kepada Adam dan Hawa: "وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا" yang berarti "dan makanlah dari padanya (surga) dengan berlimpah di mana saja kamu berdua kehendaki". Di sini, raghd menyiratkan kelimpahan tanpa batas, baik secara fisik maupun metaforis.
Kata "عَيْشِيْ" ('aysyī) berasal dari akar ع-ي-ش ('ayn-yā'-shīn), yang berarti "hidup" atau "kehidupan" dalam arti sehari-hari, termasuk mata pencaharian dan kesejahteraan. Sufiks "-ī" menunjukkan kepemilikan pertama orang (hidupku).
Secara etimologis, 'aysh terkait dengan konsep hayāh (kehidupan), tapi lebih fokus pada aspek temporal dan duniawi, seperti rezeki dan kenyamanan hidup. Dalam bahasa Arab Islam, kombinasi ini ("arghid 'aysyī") sering digunakan dalam doa untuk memohon rezeki halal yang luas, mencerminkan pengaruh bahasa Qurani yang menekankan keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Tafsiran 'Irfani
Perjalanan batin jiwa menuju Allah melalui wilayah (kepemimpinan spiritual) para Imam, frasa "وَأَرْغِدْ عَيْشِيْ" bukan sekadar permohonan untuk kelimpahan materi, melainkan seruan mendalam untuk transformasi eksistensial yang menyentuh lapisan terdalam hati.
Raghd memiliki makna zahir (luar) dan batin (dalam), Raghd bukanlah kemewahan duniawi yang fana, tapi manifestasi rahmat Ilahi yang meluap dalam jiwa, di mana kehidupan menjadi "luas" melalui ma'rifah (pengetahuan intuitif) Allah dan kedekatan dengan Ahlul Bait sebagai pintu gerbang kebenaran.
Secara irfani, "عَيْشِيْ" (hidupku) melambangkan eksistensi manusia yang terperangkap dalam dualitas dunia-akhirat, sementara "أَرْغِدْ" adalah panggilan untuk ekspansi spiritual: membersihkan jiwa dari keterikatan (zuhd yang sejati), sehingga hidup menjadi "berlimpah" dengan cahaya wujud mutlak (al-wujud al-muthlaq). Hal ini adalah proses tajalli (manifestasi) Ilahi, di mana kelimpahan sejati adalah hilangnya ego (fana') dalam keabadian Allah, bukan akumulasi harta.
Dalam konteks Doa Abu Hamzah, frasa ini menyentuh hati dengan mengingatkan bahwa raghd duniawi hanyalah bayang-bayang dari raghd ukhrawi (akhirat), di mana jiwa yang murni menikmati surga batin melalui tawassul kepada Nabiyullah Muhammad Saw dan Ahlubaitnya yang suci as. Ini membangkitkan rasa haibah (ketakjuban) dan uns (keintiman) dengan Tuhan. Dan ini membuat doa ini menjadi perjalanan ruhani yang menyembuhkan luka eksistensial.
'Irfan sebagai pemahaman aspek batin agama adalah ilmu hati yang hidup, bukan teori semata.
Wa arghid 'aisyii, dengan demikian, menjadi cermin bagi hamba untuk merenung: kelimpahan hidup bukan dari dunia, tapi dari rahmat yang meluap saat jiwa berserah total kepada Sang Pencipta, menyentuh kedalaman emosi spiritual dengan harapan dan kerendahan hati.
Ini sangat terkait dengan doa Rajab, Yaa Man Arjuuhu min kulli khoirin, ... di mana di dalamnya , seorang hamba menenggelamkan diri dalam harapan akan kelimpahan mudawamah (terus menerus) dari Seluruh KebaikanNya , melalui KabaikanNya semata.
Yaa Allah karuniakan kami ma'rifah dan membaca Doa Abu Hamzah dan mencicipi manisnya persahabatan dengan Muhammad saw dan keluarganya as melaluinya dengan keberkahan Rajab dan Para KekasihMu yang lahir di Bulan Mulia ini . Shalawat!
Wa maa taufiiqi illa billah, 'alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib.
Jakarta, 17 Rajab 1447 H.
