BENARKAH HIDUP YANG TAK DIRENUNGKAN TAK LAYAK DIJALANI?
Dalam tradisi Yunani klasik, perenungan (theoria) bukanlah sekadar menyiasati hidup dengan ilusi-ilusi yang kita ciptakan, melainkan cara menata hidup agar selaras dengan kebaikan (to agathon). Ia dimaksudkan sebagai fondasi kehidupan etis, bukan sebagai aktivitas mental yang berdiri sendiri dan terlepas dari kehidupan.
KHAZANAH
Dr Haidar Bagir
1/5/20262 min read


“Hidup yang tak direnungkan tak layak dijalani,” kata Aristoteles. Ucapan ini kerap dipahami sebagai seruan agar manusia hidup reflektif, tidak sekadar mengikuti kebiasaan atau dorongan naluriah. Dalam tradisi Yunani klasik, perenungan (theoria) bukanlah sekadar menyiasati hidup dengan ilusi-ilusi yang kita ciptakan, melainkan cara menata hidup agar selaras dengan kebaikan (to agathon). Ia dimaksudkan sebagai fondasi kehidupan etis, bukan sebagai aktivitas mental yang berdiri sendiri dan terlepas dari kehidupan.
Masalahnya, pengalaman manusia modern memperlihatkan sisi lain yang problematis. Perenungan sering kali tidak berhenti pada kebijaksanaan, tetapi menjelma menjadi beban. Intelektualitas dan kapasitas berfilsafat—yang sering dipuja sebagai anugerah—kadang justru menjadi semacam kutukan. Kesadaran yang tajam secara berlebihan membuat manusia melihat terlalu banyak kemungkinan, terlalu banyak kontradiksi, terlalu banyak tekor makna dalam kehidupan. Akibatnya, hidup malah tidak lagi dijalani, melainkan terus-menerus ditimbang, diragukan, dan ditunda —demi mengejar sesuatu yang kemungkinan besar tidak ada. Sehingga perenungan justru menjadi rangkaian kekecewaan dan ketidakpuasan tanpa ujung.
Tentang inilah Kierkegaard mengatakan, “Anxiety is the dizziness of freedom.” Kebebasan berpikir dan kesadaran reflektif tidak selalu membebaskan; ia bisa memusingkan, melumpuhkan, dan menjerumuskan manusia ke dalam kecemasan yang mendalam.
Bagi Kierkegaard, problemnya bukan pada berpikir itu sendiri, melainkan pada berpikir yang terlepas dari keberanian untuk hidup. Ia menyindir manusia modern yang “terlalu objektif” sampai lupa bagaimana caranya eksis. Dalam nada ironis, ia menulis bahwa manusia kini mengetahui begitu banyak tentang hidup, tetapi justru lupa bagaimana menjalaninya. Intelektualitas, jika tidak dibumikan dalam pilihan etis dan komitmen eksistensial, berubah menjadi penyakit jiwa.
Di sinilah pentingnya membaca ulang ucapan Aristoteles secara hati-hati. Menurut saya, ucapannya hanya dapat dibenarkan jika perenungan dipahami sebagai sarana untuk mencegah hidup yang dangkal dan otomatis sebagaimana robot, atau malah zombie—bukan sebagai ajakan untuk tenggelam dalam limbo ketidakyakinan tanpa ujung. Mungkin itu juga sebabnya, Kierkegaard akhirnya bicara tentang "leap of faith" (lompatan keimanan). Inilah keberanian untuk berkomitmen secara eksistensial ketika akal dan kepastian rasional berhenti memberi jaminan. Jika ini yang dimaksud perenungan, maka Aristoteles telah benar. Tapi jika itu berarti kecongkakan yang membunuh kerendahan hati dan batas-batas rasionalitas manusia, maka jangan-jangan perenungan justru menjadikan hidup tak layak dijalani.
Hidup yang tidak direnungkan memang mudah kehilangan arah, hidup tanpa prinsip, dan gampang diombang-ambingkan oleh keadaan. Tetapi hidup yang hanya direnungkan, tanpa dijalani, juga sama bermasalahnya.
Jika hidup dangkal lahir dari ketiadaan perenungan, maka hidup yang cemas dan lumpuh bisa lahir dari perenungan yang kehilangan orientasi etis. Keduanya sama-sama hampa. Yang satu miskin kesadaran, yang lain kelebihan kesadaran tetapi kekurangan keberanian. Dalam kedua kasus, kebahagiaan sejati tetap tidak tercapai, karena hidup gagal menyentuh kedalaman spiritual dan makna moralnya.
Karena itu, perenungan yang benar harus diselamatkan dari kutukan intelektualitas itu sendiri. Ia tidak boleh berhenti pada kesadaran yang membongkar segalanya, tetapi harus berujung pada pembentukan kepekaan hati.
Sejalan dengan etika kebajikan Aristoteles dan peringatan eksistensial Kierkegaard, refleksi sejati menuntut keberanian untuk memilih, berkomitmen, dan hidup dengan kebaikan hati—meski tanpa jaminan kepastian rasional.
Maka, jika boleh saya merevisi ucapan Aristoteles, saya akan mengatakannya demikian: “Hidup yang tak dijalani dengan kebaikan hati, tak layak dijalani.” Sebab perenungan menemukan pembenarannya bukan ketika ia membuat kita semakin sadar akan absurditas hidup, melainkan ketika ia memberi kita keberanian untuk tetap hidup secara etis dan manusiawi—bahkan di tengah absurditas itu sendiri.
SELAMAT MENJALANI TAHUN BARU 2026 DENGAN KEBAIKAN HATI DAN KEBAHAGIAAN!
