Berbuat Baik kepada Alam: Marifah Ramadhan
Alam merupakan ayat-ayat atau jejak-jenak keberadaan Allah, terbentang sebagai bukti keagungan-Nya, mengajak manusia untuk memiliki kesadaran ruhaniah.
RAMADHAN
PROF DR KH KHOLID AL WALID
3/12/20262 min read


Problem kita adalah melihat alam sebagai objek yang bisa kita eksploitasi sesuai keperluan kita. Bahkan ada manusia-manusia serakah yang tak pernah merasa cukup ia dengan kekuasaannya mengeksploitasi alam semesta.untuk memenuhi hasratnya menjadi penguasa bumi ini.
Maka kehancuran alam semesta ini terjadi dan efeknya mengerikan. Banjir di sana-sini, kebocoran lapisan ozon, panas yang meningkat dari hari ke hari, anomali cuaca, peperangan dan sebagainya.
Mengapa ini terjadi? Karena cara pandang manusia yang materialistik. Cara pandang bahwa semesta yang terbentang ini tidak lebih sebagai benda-benda materi yang berada dalam kekuasaan manusia. Manusia yang memiliki kuasa dapat mengeksploitasi sesuai kehendaknya.
Dalam satu seminar seorang pemateri menampilkan satu film pendek tentang research yang dibiayai oleh orang-orang kaya dunia. Research itu tentang mereproduksi massal bagian-bagian diri manusia dalam tujuan untuk membuat manusia bisa meremajakan kembali anggota tubuh mereka sehingga bisa bertahan hidup yang panjang. Melihatnya membuat kepala saya pusing dan perut saya mual.
Orang-orang kaya itu membiayai research bukan dalam tujuan pengembangan pengetahuan tapi justru ingin melawan ketentuan Tuhan agar tidak terjadi kematian bagi mereka.
Sangat berbeda sungguh sangat berbeda dengan Islam. Islam mengajarkan kita untuk melihat segala sesuatu yang ada ini sebagai hamba Allah.
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا
"Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." (QS Al-Isrā' [17]:44)
Alam merupakan ayat-ayat atau jejak-jenak keberadaan Allah, terbentang sebagai bukti keagungan-Nya, mengajak manusia untuk memiliki kesadaran ruhaniah. Gunung yang menjulang, sungai yang mengalir, langit yang terbentang, bintang-bintang yang gemerlap, bumi yang terhampar, semuanya berbicara dalam bahasa keheningan tentang ke Maha Mutlakan Allah SWT.
Para Sufi menyebut alam ini sebagai manifestasi-Nya :
وَلِلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
"Hanya milik Allah timur dan barat. Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui." (QS Al-Baqarah [2]:115)
Maka mengeksploitasinya membuat seluruh struktur semesta ini mengalami gangguan dan merupakan bagian dari upaya menghapus jejak-jejak Ilahi. Al-Qur'an menyebutkan :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS Ar-Rūm [30]:41)
Dalam akhlak Islam tidak boleh mencabut satu pohon tanpa menggantikan dengan benih yang baru. Bahkan ketika Bonu Amin seorang Sufi perempuan melihat pohon kurma yang kering ia menangis dan berkata: "Aku mendengar rintihan kurma ini dan kelak dia akan menuntut di akhirat tuannya yang menanamnya tapi tidak merawatnya."
Alam adalah hamba Allah dan merupakan saudara manusia. Para sufi menyebut alam semesta sebagai makrokosmos dan menyebut manusia sebagai mikrokosmos. ***
