Bijaksana itu inti Kebaikan: Marifah Ramadhan

Ada nilai yang tinggi pada kebijaksanaan. Semakin bijaksana seseorang semakin baik karena dirinya akan banyak memberikan manfaat bagi orang lain.

RAMADHAN

Prof Dr KH Kholid Al Walid (Pengasuh Kajian Tasawuf YouTube Misykat TV)

3/16/20262 min read

Rumi menceritakan kisah ini: ada seorang pemuda muslim taat yang tinggal di sebuah kota yang beragam agama. Ia sangat bersemangat dalam membela dan mendakwahkan agama Islam.

Ketika ia sedang berjalan masuklah waktu zuhur. Di saat yang sama ia saksikan banyak orang tengah berkerumun di Gereja. Ia berfikir seandainya aku kumandangkan azan maka akan banyak orang yang tersentuh. Bukankah azan panggilan Allah.

Dan pemuda itu dengan suaranya yang parau segera mengumandangkan azan dengan suara yang sangat keras. Semua orang yang ada di situ menjadi kaget. Suaranya yang sumbang memekakkan telinga yang mendengarnya.

Beberapa saat setelah pemuda itu mengumandangkan azan, seorang pendeta tua keluar dari gereja dan menghampiri pemuda tersebut. Pemuda itu mengira bahwa pendeta tua itu akan memarahinya. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.

Pendeta itu datang sambil tersenyum, membawa hadiah yang banyak dan berkata dengan tulus: “Wahai anak muda, izinkan aku berterima kasih kepadamu.”

Pemuda itu terkejut. Pendeta melanjutkan: “Aku memiliki seorang putri. Ia tertarik mempelajari Islam. Diam-diam ia membaca kitab-kitab tentang agamamu dan hampir saja memeluk Islam. Tetapi ketika ia mendengar azanmu yang keras dan sumbang itu, hatinya menjauh. Ia berkata: Jika panggilan menuju agama itu seburuk ini suaranya, bagaimana dengan ajarannya? Berkat azanmu putriku mengurungkan niatnya untuk berpindah agama”

Pendeta menatap pemuda itu dengan lembut. Pendeta berkata: “Karena itulah, aku berterima kasih. Tanpamu, mungkin aku telah kehilangan putriku.”

Pemuda itu tersentak. Wajahnya memerah. Hatinya bergetar. Ia baru sadar: niat baik saja tidak cukup. Cara yang kasar bisa merusak makna.

Seruan kebenaran tanpa keindahan bisa menjauhkan hati. Kebaikan yang dilakukan dengan cara yang tidak bijaksana justru menjadi bumerang. Bijaksana adalah sikap sesorang yang menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Demikian pentingnya sifat Bijaksana ini tanpanya kebaikan menjadi tidak bernilai. Bijaksana sendiri merupakan salah satu dari sifat Allah SWT yaitu Al-Hakim.

قَالُوْا سُبْحٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۗاِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ

"Mereka menjawab: Maha Suci Engkau. Tidak ada pengetahuan bagi kami, selain yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Baqarah [2]:32)

Sifat ini juga dikenakan dan digunakan dalam bahasa indonesia untuk seseorang yang memutus perkara pengadilan. Kita menyebutnya dengan istilah Hakim karena dirinya di anggap bijaksana untuk menetapkan keadilan pada persoalan hukum.

Para filosof muslim menyebut diri mereka sebagai Hakim yaitu orang yang memiliki kebijaksanaan dan Hikmah adalah pengetahuan tertinggi yang dimiliki manusia karena mampu menyingkap rahasia semesta. Di dalam al-Qur'an Allah SWT berfirman :

يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ

"Dia (Allah) menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (darinya), kecuali ululalbab." (QS Al-Baqarah [2]:269)

Ada nilai yang tinggi pada Kebijaksanaan. Semakin Bijaksana seseorang semakin baik karena dirinya akan banyak memberikan manfaat bagi orang lain. Kebaikan memerlukan kebijaksanaan agar kebaikan tersebut menjadi sempurna. Jika Kebaikan diterapkan tanpa sikap bijaksana maka efek dari kebaikan justru terbalik dari apa yang diharapkan.

Ketika saya melihat ada beberapa pemuda yang melaksanakan sholat menghalangi jalan padahal tidak jauh dari sana ada Masjid. Bahwa melaksanakan sholat adalah benar tapi dilakukan di jalanan dan mengganggu kelancaran jalan adalah sikap yang sangat tidak bijaksana. Efeknya alih-alih membuat orang 'terpesona' yang muncul malah teriakan dan makian.

Abduh mengatakan: "Cahaya Islam itu seringkali tertutupi oleh perilaku ummatnya." Agar kebaikan yang kita lakukan menjadi sempurna maka di saat yang sama kita juga harus menjadi bijak. ***