Cinta dan Kebaikan: Marifat Ramadhan
Kebaikan dan cinta adalah dua cahaya yang menuntun manusia menemukan makna keberadaannya. Kebaikan adalah tindakan yang menyejukkan kehidupan, sedangkan cinta adalah ruh yang menghidupkan setiap tindakan itu.
RAMADHAN
PROF DR KH Kholid Al Walid (Pengasuh Kajian Tasawuf YouTube Misykat TV)
3/14/20263 min read


Fitrah manusia mencintai kebaikan dan orang baik akan dicintai.
10 Ramadhan 1447 H, sekitar pukul 09 pagi berita berbahasa persia dari sahabat Iran saya masuk ke telegram memberitakan Tehran diserang. Rumah dan kantor Rahbar hancur terkena rudal dan Agha (Yang mulia) syahid. Mendengar berita itu tubuh saya lemas, air mata tak mampu ditahan mengalir, Wa saya dipenuhi pertanyaan bahkan ada yang telpon baik dari teman-teman alumni juga mereka yang pernah berkunjung ke Iran dan beberapa tokoh politik.
Banyak yang diujung telpon terisak dan atau dengan suara berat tertahan. Saya termasuk yang beruntung pernah tiga kali secara khusus langsung berjumpa dan berpelukan dengan Syahid Imam Sayid Ali Khamnei.
Beliau Wali al-Faqih, pemimpin tertinggi dalam struktur sistem pemerintahan Welayat al-Faqih di Iran. Seorang ulama yang merupakan mujtahid dan tempat rujukan hukum-hukum Islam. Puluhan juta orang di seluruh penjuru dunia bertaklid pada beliau. Setiap perkataannya selalu merujuk ayat-ayat al-Qur'an, menyeru untuk selalu menjaga persatuan, nasihat bagi setiap suami untuk memuliakan istrinya, bahkan kata-katanya penuh cinta pada anak-anak. Beliau seperti seorang ayah bagi rakyat Iran. Wajahnya di penuhi cahaya, kelembutan dan tatapan penuh perhatian pada setiap orang yang berjumpa dengan beliau seakan orang tersebut sangat berarti di hadapannya.
Senyumannya selalu mengembang dan nasihatnya selalu masuk ke relung jiwa. Hartanya hanyalah al-Qur'an dan kitab-kitab, bahkan ia membayar uang bulanan untuk setiap fasilitas yang di gunakannya termasuk untuk kursi kantornya. Banyak orang bertanya mengapa ia bisa terbunuh? Pengawalnya berkata bahwa beliau tidak mau untuk masuk ke ruang perlindungan bahkan ketika ada berita ada rudal yang ditembakkan ke Iran. Ia berkata "Saya hanya mau masuk perlindungan setelah seluruh rakyat berada dalam ruang perlindungan". Dunia berduka kehilangan sosok mulia yang kehadirannya bagaikan pelita ruhaniah di zaman gulita material.
Begitulah orang yang dipenuhi kabajikan akan banyak dicintai tapi jelas akan dibenci oleh orang-orang yang membenci kebaikan.
Kebaikan telah membuat manusia jatuh cinta. Karena kebaikan adalah hakikat cinta. Kebaikan dan cinta adalah jejak Ilahi dalam laku manusia.
Kebaikan dan cinta adalah dua cahaya yang menuntun manusia menemukan makna keberadaannya. Kebaikan adalah tindakan yang menyejukkan kehidupan, sedangkan cinta adalah ruh yang menghidupkan setiap tindakan itu. Tanpa cinta, kebaikan menjadi kering dan formal; tanpa kebaikan, cinta hanya menjadi perasaan yang tidak berbuah. Keduanya menyatu seperti jiwa dan raga tak terpisahkan.
Al-Qur’an menggambarkan bahwa kebaikan bukan sekadar gerak lahiriah, melainkan pancaran hati yang terhubung dengan Tuhan. Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik :
وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
"Berinfaklah di jalan Allah, janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuatbaiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS Al-Baqarah [2]:195)
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. Ayat ini memberi pesan mendalam: kebaikan bukan hanya kewajiban moral, tetapi jalan cinta antara hamba dan Rabb-nya. Ketika manusia berbuat baik, ia sedang menapaki jalan menuju cinta Ilahi.
Kebaikan dalam Al-Qur’an juga lahir dari cinta yang tulus kepada sesama. Memberi bukan sekadar memindahkan kepemilikan, tetapi memindahkan kasih sayang dari hati yang penuh kepada hati yang membutuhkan. Senyum, pertolongan kecil, kesabaran menahan amarah semuanya menjadi ibadah ketika dilakukan dengan cinta. Di sinilah amal menjadi hidup; ia tidak lagi mekanis, tetapi bernyawa.
Para sufi memandang cinta sebagai hakikat terdalam dari segala kebaikan. Cinta adalah energi ruhani yang menggerakkan manusia melampaui kepentingan diri. Seorang pecinta sejati tidak lagi bertanya, “Apa balasannya?” karena cintanya sendiri sudah menjadi kebahagiaan.
Jalaluddin Rumi sering mengisyaratkan bahwa cinta adalah bahasa Tuhan yang paling rahasia namun paling benderang :
"Cinta membuat yang pahit menjadi manis. Cinta mengubah debu menjadi cahaya."
Bagi Rumi, kebaikan adalah tarian cinta yang tampak di dunia nyata. Setiap perbuatan baik adalah bukti bahwa hati manusia masih terhubung dengan sumber kasih yang abadi. Ketika seseorang menolong orang lain dengan tulus, sesungguhnya ia sedang memperluas jiwanya melampaui batas ego menuju samudra makna.
Cinta juga memurnikan niat. Amal yang kecil menjadi agung karena cinta, sementara amal yang besar menjadi hampa tanpa cinta.
Dalam pandangan tasawuf, nilai suatu kebaikan terletak pada kedalaman ruhnya, bukan pada besarnya tindakan. Segelas air yang diberikan dengan cinta lebih berat nilainya daripada limpahan harta yang disertai riya.
Pada akhirnya, kebaikan dan cinta adalah jalan kembali. Jalan pulang menuju fitrah manusia yang lembut, dan menuju Tuhan yang Maha Pengasih. Dunia yang keras dilunakkan oleh kebaikan. Hati yang gelisah ditenangkan oleh cinta.
Cintailah kebaikan karena setiap kebaikan yang lahir dari cinta akan membawamu berjalan menuju Cinta-Nya.
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Āli ‘Imrān [3]:31). ***
