Corak Penulisan Sirah Nabawiyah

Buku ini telah memotret dan memberikan kesaksian dari Al-Qur’an sendiri tentang fakta sejarah makhluk teladan bagi seluruh manusia yang bernama Nabi Muhammad SAW. Meskipun bentuk penulisannya tidak sedetil karya-karya Sirah Nabawiyah yang lainnya

SEJARAH

Prof Dr H Ajid Thohir

6/17/20262 min read

Bismillahirrahmanirrahiim.

Allahumma Shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Aali Sayyidina Muhammad.

Tradisi penulisan Sirah Nabawiyah Nabi Muhammad SAW terus berlanjut dari masa klasik Islam hingga masa modern hari ini, dari generasi ke generasi, dengan pola, model dan corak yang sangat beragam. Dari bentuk pola yang sederhana deskriptif naratif hingga analitis akademik, bahkan banyak dituliskan dengan model prosa hingga bersastra. Semua bentuk historiografi Sirah Nabawiyah tersebut menunjukkan kekayaan dan kreatifitas peradaban manusia yang dilakukan para sejarawan dengan potensi dan kesadarannya masing-masing. Jika penulisan itu dilakukan oleh para sejarawan muslim, tentu didasarkan pada kekaguman, juga sebagai bentuk kecintaannya yang mendalam terhadap sosok teladannya Nabi Muhammad SAW. Lebih menarik lagi mengapa penulisan Sirah Nabawiyah ini juga banyak dilakukan oleh para orientalis non-muslim. Dasar filosofinya mungkin didasari selain pada kekaguman, namun juga kemungkinan akibat kepenasarannya untuk mengungkap berbagai kekurangan Nabi Muhammad SAW. Alih alih menemukan kekurangan, nyatanya berdasarkan sumber-sumber otentik yang mereka temukan malah lebih cenderung mengungkap berbagai keunggulan Nabi Muhammad SAW.

Buku yang dihadapan pembaca Budiman ini, merupakan salah satu bentuk corak penulisan Sirah Nabawiyah yang sumbernya berdasarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, yang dikronologisasi dan direkonstruksi dari tema kenabian. Dalam dunia Tafsir mungkin lebih menyerupai “tafsir maudlui” yakni kumpulan mengenai tema-tema ayat al-Qur’an tentang sosok Nabi Muhammad SAW dengan segala macam dinamika dan fenomena kehidupannya; dari masalah sosial, budaya, politik, psikologi hingga perjalanan ruhaniyah kenabiannya.

Secara pribadi Nabi Muhammad SAW memiliki nasab yang sempurna, kekuatan fisik tubuh dan penampilan yang sempurna, akal dan hati yang sempurna, ilmu pengetahuan yang sempurna, kefasihan bahasa lisan, ketajaman mata hati dan pandangan yang luas, semuanya diciptakan oleh Allah SWT untuk bisa menangkap secara sempurna pesan-pesan Ilahiyyah yang sangat luas dan mendalam. Jika tidak didasari pada kesempurnaan penciptaannya, maka mustahil bisa mewadahi semua pengetahuan Allah SWT yang Maha Luas dan Sempurna. Nabi Muhammad SAW merupakan sosok makhluk satu-satunya di alam semesta ini, yang bisa menangkap dan mewadahi semua kehendak Ilahiyyah berikut hikmah yang ada di dalamnya.

Buku ini telah memotret dan memberikan kesaksian dari Al-Qur’an sendiri tentang fakta sejarah makhluk teladan bagi seluruh manusia yang bernama Nabi Muhammad SAW. Meskipun bentuk penulisannya tidak sedetil karya-karya Sirah Nabawiyah yang lainnya, bahkan nyaris tidak dilakukan analitik konstruktif multidimensi dengan kekayaan ilmu-ilmu sosial humaniora, namun sumbangan terbesarnya adalah sudah mengkronologisasi berdasarkan urutan ayat dan surat selama periode kenabian di Makkah dan Madinah. Tentu semua penulis Sirah Nabawiyah memiliki kelebihan dan kekurangannya, namun semua Kitab Sirah Nabawiyah memiliki keunggulannya masing-masing, yang dilandasi oleh subjektifitas sejarah. Buku ini menjadi kekayaan tersendiri, dan semua Kitab Sirah Nabawiyah pada substansinya adalah perwujudan dari kemukjizatan Nabi Muhammad SAW.

Semoga buku ini memberikan banyak manfaat dan menambah kekayaan dalam historiografi sejarah Islam, khusunya tentang model penulisan Sirah Nabawiyah berdasarkan potret Al-Qur’an. Selamat membaca!

Bandung, 5 Dzul Hijjah 1446 H

Prof. Dr. H. Ajid Thohir, MA, CIHCS.,

Guru Besar Bidang Ilmu Sejarah Kebudayaan Islam

Social Media