Fi Rihab al-Suluk

Selama manusia masih melihat dirinya memiliki kedudukan (keistimewaan), maka tidak akan dibukakan baginya pintu kedekatan dengan Allah. Sesungguhnya Allah itu dekat, tetapi hijab berasal dari sisi hamba.

TASAWUF

Ayatullah Sayyid Ridha Baha'uddini ra

4/18/20261 min read

white concrete building during daytime
white concrete building during daytime

Selama manusia masih melihat dirinya memiliki kedudukan (keistimewaan), maka tidak akan dibukakan baginya pintu kedekatan dengan Allah. Sesungguhnya Allah itu dekat, tetapi hijab berasal dari sisi hamba. Dan hijab yang paling besar adalah bersandar pada diri sendiri (yakni bersandar pada kemampuan, pencapaian dan kedudukan diri sendiri)

Seseorang bisa saja beribadah selama bertahun-tahun, namun terhalang dari penerimaan amalnya, karena ia tidak mencurigai dan mengoreksi dirinya sendiri. Janganlah engkau melihat kepada amalmu, tetapi lihatlah kepada siapa yang memberimu taufik untuk beramal.

Dan janganlah engkau bergembira dengan ketaatanmu seperti orang yang sudah merasa aman dan tidak memiliki kekurangan dalam pencapaian amal, tetapi bergembiralah dengan diiringi perasaan khawatir amalnya tidak diterima.

Di antara tanda diterimanya amal adalah terus menerus menghadirkan rasa rendah diri (yakni kehinaan, kekurangan dan kekhawatiran di hadapan Allah) setelah beramal, bukan rasa bangga terhadapnya. ***

dikutip dari page Turats al-‘Ulama