Fitrah Pendorong Kebaikan: Ma'rifah Ramadhan (7)

Tuhan memang sudah mendesain manusia ini untuk berkembang menjadi lebih baik dan sempurna. Karenanya sebelum Aqal dan Agama, dari awal di dalam diri manusia sudah ada elemen yang mengarahkan manusia untuk hal tersebut.

RAMADHAN

Prof Dr KH Kholid Al Walid

2/24/20262 min read

Tuhan memang sudah mendesain manusia ini untuk berkembang menjadi lebih baik dan sempurna. Karenanya sebelum Aqal dan Agama, dari awal di dalam diri manusia sudah ada elemen yang mengarahkan manusia untuk hal tersebut.

Elemen yang membimbing manusia pada hal-hal yang berkaitan dengan kesempurnaan. Manusia sejak dilahirkan telah membawa 'benih-benih maknawi' yang aktif dan jika dijaga akan menjadi kekuatan aktif yang mengarahkan manusia dalam proses kehidupannya.

Bagi para filosof muslim Tuhan menciptakan makhluknya dengan tujuan dan pada makhluk tersebut Tuhan lengkapi dengan perangkat untuk mengarahkannya mencapai tujuannya. Hewan-hewan hidup dengan tujuan khusus pada mereka. Burung-burung yang hendak bertelur kadang harus terbang ratusan kilometer ke tempat habitat asalnya. Demikian juga ada ikan yang berenang kembali ratusan kilometer menempuh bahaya untuk kembali pada tempat mereka menetaskan telurnya. Demikian juga pada penyu ketika telah menetas dari cangkang telurnya segera menuju kembali lautan.

Manusia memiliki tujuan yang lebih hakiki dari hewan. Ia diciptakan dengan tujuan yang sangat istimewa untuk mencapai derajat kesempurnaannya. Jika pada hewan kita menyebutnya sebagai insting maka pada manusia kita menyebutnya sebagai Fitrah. Para filosof muslim memastikan bahwa manusia bukanlah tabula rasa yang kosong dari segala sesuatu.

Bagi Muthahari Fitrah adalah dimensi terdalam dari kemanusiaan yang menjadikan manusia mampu mengenali Tuhan, mencintai keadilan dan membenci kezaliman. Dimensi terpenting dari fitrah adalah kecenderungan pada Ketuhanan, kecenderungan pada keindahan, kecenderungan pada perilaku yang baik dan kecenderungan spiritualitas.

Selain kecenderungan di atas Muthahari menambahkan kecenderungan pada kebebasan. Karenanya manusia tidak suka di batasi dan diperlakukan zalim. Pada akhirnya kekuatan fitrahnya akan mendorongnya untuk melepaskan diri dari belenggu yang mengikat dan membatasinya.

Filosof Barat yang Materialistik seperti John Locke dalam Essay nya Humane Understanding meyakini bahwa manusia lahir bagaikan kertas putih tanpa ada ide bawaan, tanpa ada kecenderungan metafisik. Bagi Locke semua dihasilkan melalui lingkungan dan pendidikan.

Namun mereka yang menolak Fitrah tidak memiliki argumentasi yang memadai untuk membantah adanya Fitrah pada manusia. Manusia yang hidup di hutan pun memiliki kepercayaan akan hal yang ghaib sekalipun tanpa pelajaran yang diberikan pada mereka.

Lebih dalam dari para filosof muslim Ibn Arabi sebagai grand 'arif menyatakan dalam fusus al-Hikam bahwa Fitrah adalah kesaksian ontologis manusia terhadap Rububiyah Allah sejak sebelum kehidupan duniawi.

Al-Qur'an terkait fitrah ini menyatakan :

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS Ar-Rūm [30]:30)

Karenanya sekalipun sekiranya agama tidak diturunkan manusia tetap akan terdorong melakukan kebaikan. Karena pada dirinya telah ada fitrah yang mendorongnya untuk melakukan kebaikan. Orang yang melakukan keburukan akan bertentangan dengan dorongan fitrahnya dan bahkan karenanya fitrah akan melemah bahkan mati.

Dengan fitrah itu manusia akan berkembang menyempurna. Akan tetapi, ketika yang dipilih adalah hal-hal yang bertentangan dengan fitrah, maka manusia akan terglincir jatuh pada lembah kebinatangan. Dan ini semua dibentangkan dihadapan kita melalui file epstein. ***