Hakikat Kebaikan: Ma'rifat Ramadhan
Kesempurnaan berarti ketidak terbatasan. Kesempurnaan berarti kebenderangan dalam wujud. Kebaikan merupakan ketidakterbatasan, kebenderangan dalam wujud.
RAMADHAN
Prof Dr KH Kholid Al Walid MAg
2/20/20261 min read


Kebaikan merupakan kata yang selalu kita gunakan. Namun kata ini merupakan sebuah konsep yang dibahas oleh para filosof sejak zaman Yunani hingga kini. Bagi Aristoteles bahwa kebaikan merupakan kecenderungan alamiah manusia yang inheren dengan tujuan hidup manusia itu sendiri. Manusia memiliki telos (tujuan) dalam hidup ini yang merupakan eudaimonia (kehidupan yang baik, bahagia dan bermakna).
Berbeda lagi filosof Barat seperti Immanuel Kant yang menyatakan bahwa kebaikan merupakan kewajiban moral manusia untuk dapat hidup tenang.
Baginya kebaikan berimplikasi pada kedamaian dan ketenangan hidup manusia dalam keterhubungan satu sama lain di antara manusia.
Sedangkan filosof muslim seperti Ibn Sina dan Mulia Sadra memandang bahwa kebaikan adalah kesempurnaan. Segala sesuatu yang mengindikasikan kesempurnaan pastilah kebaikan.
Kesempurnaan berarti ketidakterbatasan. Kesempurnaan berarti kebenderangan dalam wujud. Kebaikan merupakan ketidak terbatasan, kebenderangan dalam wujud. Sehingga kita bisa menyatakan bahwa kebaikan adalah tindakan yang dilakukan oleh manusia untuk mengantarkan manusia itu pada kesempurnaan. Semakin manusia itu melakukan kebaikan semakin sempurna dirinya.
Para sufi seperti Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa kebaikan merupakan jalan seorang hamba untuk mendekati Allah SWT. Sedangkan Ibn 'Arabi memandang bahwa kebaikan merupakan pancaran cahaya Ilahi yang menebar ke segala wujud.
Imam Ja'far al-Shadiq menyatakan: "Kebaikan itu cahaya yang akan menerangi setiap orang yang melakukannya".
Karenanya al-Qur'an menyatakan :
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗ
"Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri" (QS 17:7).
***
