Hukum Semesta adalah Kebaikan: Ma'rifat Ramadhan
Bayi-bayi menangis agar sang ibu segera menyusuinya, mawar-mawar merekahkan kelopaknya agar awan menurunkan hujan, Tuhan menurunkan derita agar sang hamba merasakan kasih-sayang-Nya.
RAMADHAN
Prof Dr KH Kholid Al Walid
2/23/20261 min read
Bukankah rasa sakit itu derita? Bagaimana bisa disebut kebaikan? Murtadha Muthahari memberikan jawaban sangat menarik. Menurutnya, rasa sakit itu alarm diri untuk mengingatkan pemilik diri ada ketidak beresan tengah terjadi di dalam dirinya.
Derita kehidupan pun sebuah kebaikan karena menjadikan orang yang mengalaminya menjadi kuat dan belajar untuk mengatasinya.
Jalaluddin Rumi menyebut dalam syairnya: Bayi-bayi menangis agar sang ibu segera menyusuinya, mawar-mawar merekahkan kelopaknya agar awan menurunkan hujan, Tuhan menurunkan derita agar sang hamba merasakan kasih-sayang-Nya.
Anak yang dididik dengan kenikmatan dan dijauhkan dari penderitaan akan berkembang menjadi anak yang lemah dan tak mampu berhadapan dengan realitas kehidupan.
Hukum sebab-akibat yang bekerja di alam mengajarkan kita selain mengenal Tuhan juga menghasilkan ilmu pengetahuan alam.
Setiap kali terbang dengan pesawat saya selalu mengagumi penemuan hukum aerodinamika dan gravitasi. Dengan bekal dua hukum tersebut manusia mampu menghasilkan pesawat yang mengantarkan manusia ribuan kilometer ke tempat tujuan dengan kenyamanan.
Air yang mengalir dari tempat tinggi ke rendah, udara yang bergerak dari tekanan yang tinggi ke tekanan yang renggang. Semua hukum ini adalah kebaikan dan menghasilkan harmonisasi di alam semesta ini.
Para saintis, khususnya fisikawan, berusaha untuk menyingkap hukum-hukum yang bekerja di alam semesta ini dan kadangkala mempertemukan satu hukum dengan hukum lainnya sehingga menghasilkan akibat-akibat baru. Sederhananya seperti warna yg bermula dari hitam dan putih namun karena keragaman dalam proses pencampurannya menghasilkan warna-warni yang tak terbatas.
Pertanyaannya adakah warna yang buruk? Semua warna itu indah dan baik.
Jika kita melihat alam semesta ini sebagai warna-warni Ilahi maka masihkah terpikir pada kita adanya keburukan pada alam semesta ini?
صِبْغَةَ اللّٰهِ ۚ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ صِبْغَةً ۖ وَّنَحْنُ لَهٗ عٰبِدُوْنَ
Sibghah Allah. (Celupan Allah) Siapa yang lebih baik sibghahnya daripada Allah? Hanya kepada-Nya kami menyembah. (QS Al-Baqarah [2]:138)
Pada intinya seluruh hukum yang ada di Alam Semesta ini bersumber dari Zat yang Maha Baik maka seluruh hukum tersebut adalah kebaikan. Dan dengan kebaikan itulah alam semesta ini bekerja.
Setiap kebaikan yang dilakukan akan berkesesuaian dengan hukum alam dan alam akan mendukungnya akan tetapi keburukan bertolak belakang dengan hukum alam semesta dan alam akan menentang siapa pun yang melakukannya.***
