Ihsan, Puncak keindahan Kebaikan: Ma'rifat Ramadhan
Tahun 1998 saya menunaikan haji dengan istri dan putri pertama kami yang baru berusia satu tahun. Saya masih kuliah saat itu dan uang kami sangat pas-pasan. Setelah berziarah Nabi Muhammad Saw kami hendak berziarah keliling Madinah. Sayangnya sebagian besar taksi cukup mahal menawarkan harga dan tidak cukup uang yang kami anggarkan, hanya ada satu sopir taksi yang bersedia.
RAMADHAN
PROF DR KH KHOLID AL WALID MAG
3/5/20263 min read


Al-Qur’an Kembali mengekspresikan Kebaikan dalam kata yang berbeda yaitu ‘al-Ihsan’. Berbeda dengan kata lain kata al-Ihsan memberikan kedalaman makna yang sangat khas. Ia tidak hanya menunjuk pada perbuatan baik, tetapi pada kebaikan yang mencapai tingkat keindahan dan kesempurnaan. Seperti karya seni yang dihasilkan secara sempurna dengan lukisan dan warna warni indah yang menghiasinya.
Secara bahasa, ihsan berasal dari akar kata ḥ-s-n yang berarti baik, indah, atau bagus. Dari akar yang sama lahir kata ḥusn (keindahan) dan ḥasan (kebaikan). Karena itu, ketika al-Qur’an menggunakan kata ihsan, kebaikan yang dimaksud bukan sekadar tindakan yang benar secara moral, melainkan kebaikan yang dilakukan dengan kualitas terbaik, dengan keindahan batin dan ketulusan jiwa.
Dalam al-Qur’an kita menemukan perintah yang sangat terkenal:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ
"Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan" (QS An-Naḥl [16]:90).
Ayat ini memperlihatkan perbedaan yang halus namun mendalam antara ‘adl (keadilan) dan ihsan. Keadilan berarti memberikan kepada orang lain apa yang menjadi haknya. Tetapi ihsan melangkah lebih jauh: memberi lebih dari sekadar yang wajib diberikan. Jika keadilan adalah keseimbangan, maka ihsan adalah kemurahan hati. Jika keadilan menjaga keteraturan hidup bersama, maka ihsan menghadirkan keindahan dalam hubungan manusia. Sehingga kebaikan dalam makna Al-Ihsan ini adalah kebaikan yang tidak semata melakukan kebaikan namun melampui kebaikan tersebut.
Ketika seorang Musafir tersesat ke Madinah dan kebingungan dengan bekalnya yang telah habis dan tidak tahu harus bermalam dimana. Dalam keadaan demikian ia berjumpa dengan seorang pemuda yang parasnya sangat indah, tubuhnya tegap dan wangi. Seakan mengetahui kesulitan yang dihadapinya, anak muda itu menghampirinya dan mengajak ke rumahnya, ia melayani musafir tersebut bagaikan budak dihadapan tuannya, ia memberikan makan yang lezat dan tempat tidur yang hangat.
Ketika esoknya musafir itu hendak memohon izin pergi, ternyata pemuda itu sudah menyiapkan baginya seekor kuda yang tegap dengan bekal makanan yang banyak dan memberikan kepadanya beberapa dinar. Musafir itu takjub atas keluar biasaan pelayanan pemuda itu. Ia bertanya: “Anak muda mengapa engkau melakukan semua ini kepadaku? Sedangkan aku musafir asing dan engkau tak mengenalku.”
Pemuda itu menjawab: “Datuk dan ayahku mengajariku untuk berbuat ihsan pada tamu.” Musafir itu bertanya lagi: “Siapakah dirimu dan siapa datuk dan ayahmu?” Pemuda itu berkata: “Aku adalah Al-Hasan, Datukku adalah Rasulullah dan ayahku adalah Ali bin Abi Thalib.” Mendengar jawaban itu sang musafir bersujud dan berkata: "Sungguh Tuhan telah memuliakan Rasulullah Saw dan Ahlul Baitnya."
Al-Qur’an juga menegaskan:
وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
"Berinfaklah di jalan Allah, janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan dan berbuatbaiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS Al-Baqarah [2]:195)
Di sini ihsan bukan sekadar perilaku etis, melainkan jalan spiritual. Orang yang berbuat ihsan tidak hanya berhubungan baik dengan manusia, tetapi juga mendekat kepada Tuhan. Kebaikan yang ia lakukan bukan demi pujian, bukan pula demi balasan, melainkan karena kesadaran bahwa Allah selalu hadir menyaksikan.
Ibn Arabi, tokoh sufi filosofis, melihat ihsan dalam cakrawala metafisis yang lebih luas. Dalam masterpiecenya, kitab Futuhat al-Makkiyyah, ia menjelaskan bahwa ihsan berkaitan dengan kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam seluruh realitas. Dunia adalah cermin tempat sifat-sifat Ilahi memancar. Ketika manusia berbuat ihsan, sesungguhnya ia sedang memantulkan sifat-sifat keindahan Tuhan (al-jamal) dalam tindakan manusia.
Bagi para sufi, ihsan berarti melakukan segala sesuatu dengan kesadaran akan kehadiran Ilahi. Dalam hadits yang popular dikalangan sufi Ketika Malaikat Jibril bertanya pada Rasulullah Saw :
ما الإحْسَانُ؟ قالَ: أنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأنَّكَ تَرَاهُ، فإنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فإنَّه يَرَاكَ
“Apa itu al-Ihsan? Rasulullah Saw menjawab: Engkau menyembah Allah seakan engkau menyaksikan-Nya. Sekiranya engkau tak mampu menyaksikan-Nya maka sesungguhnya Dia menyaksikanmu."
Kesadaran ini membawa seseorang untuk selalu terhubung dengan Allah SWT, hatinya selalu dalam zikir. Karenya al-Ghazali memasukkan al-ihsan sebagai kedudukan spiritual yang tinggi.
Dalam banyak ayat al-Qur’an perintah berbuat baik terhadap kedua orangtua selalu menggunakan kata al-ihsan menunjukkan bahwa tindakan dan perbuatan yang dilakukan tersebut bukan hanya menjalan kewajiban untuk memperlakukan kedua orangtua dengan baik, namun berupaya membuat mereka tersenyum bahagia.
Tahun 1998 saya menunaikan haji dengan istri dan putri pertama kami yang baru berusia satu tahun. Saya masih kuliah saat itu dan uang kami sangat pas-pasan. Setelah berziarah Nabi Muhammad Saw kami hendak berziarah keliling Madinah. Sayangnya sebagian besar taksi cukup mahal menawarkan harga dan tidak cukup uang yang kami anggarkan, hanya ada satu sopir taksi yang bersedia, hanya penampilannya membuat saya khawatir, tubuhnya tinggi besar dengan warna kulit hitam tapi karena itu pilihannya saya dan istri sepakat hanya saya bisikkan pada istri jika ada yang aneh nanti kita lompat saja dari taksinya. Namun apa yang terlintas dalam pikiran kami justru sebaliknya terjadi, sopir itu begitu ramah, ia bahkan menjelaskan setiap tempat dengan detail, dengan sabar ia menunggu kami dan bahkan diujung ziarah kota Madinah dia menawarkan untuk makan siang di rumahnya. Ia membelikan kami kurma dan menawarkan jika memerlukan sesuatu dia siap membantu. Ia menceritakan bahwa datuk-datuknya dulu adalah budak dari keluarga Nabi Saw yang kemudian dimerdekakan. Mungkin ziarah kami lebih setengah hari, namun dia tidak meminta tambahan apa pun dari kami, bahkan awalnya menolak pembayaran tapi setelah saya paksa akhirnya dia terima.
Apa yang dilakukannya pada kami bukan sekadar karena kami sewa taksinya, tapi baginya ada kebahagiaan tersendiri mengantarkan para penziarah. Dan apa yang dilakukannya adalah ihsan.
Hiasilah kebaikan kita dengan keindahan dan kesempurnaan karena Allah SWT berfirman :
هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ
"Adakah balasan kebaikan selain kebaikan (pula)?" (QS Ar-Raḥmān [55]:60) ***
