Imam Al-Husain as Tidak Kalah

Imam Al-Husain sama sekali tidak kalah. Beliau tetap dalam keagungan dan kemuliaan, menolak untuk hina sampai akhir hayatnya. Beliau tetap berakhlak semulia-mulianya sampai akhir hayatnya. Demikian pula keluarga dan para sahabatnya, mereka semua berperilaku dan berakhlak sebaik mungkin, tidak terkena kotoran dan nista setitik pun.

ASYURA

Dr Dimitri Mahayana, M.Eng

6/19/20268 min read

Diriwayatkan bahwa di padang ‘Arafah, Sayyidusy Syuhada Imam Al-Husain as bermunajat:

أَنْتَ كَهْفِي حِينَ تُعْيِينِي الْمَذَاهِبُ فِي سَعَتِهَا، وَتَضِيقُ بِيَ الْأَرْضُ بِرُحْبِهَا، وَلَوْلَا رَحْمَتُكَ لَكُنْتُ مِنَ الْهَالِكِيْنَ

Engkau adalah Tempatku berlindung ketika bumi dengan seluruh keluasannya tampaknya tidak mempunyai tempat bagiku. Seandainya bukan karena rahmat-Mu, pastilah aku tergolong orang-orang yang binasa.

وَأَنْتَ مُقِيلُ عَثْرَتِيْ، وَلَوْلَا سِتْرُكَ إِيَّايَ لَكُنْتُ مِنَ الْمَفْضُوحِينَ

Engkaulah Penyingkap kesusahanku, dan andaikan bukan karena Engkau menutupinya, pastilah diriku tergolong orang-orang yang dipermalukan.

وَأَنْتَ مُؤَيِّدِيْ بِالنَّصْرِ عَلَى أَعْدَائِيْ، وَلَوْلَا نَصْرُكَ إِيَّايَ لَكُنْتُ مِنَ الْمَغْلُوبِينَ

Engkaulah yang membantu untuk mengalahkan musuh-musuhku, dan sekiranya bukan karena pertolongan-Mu padaku maka aku benar-benar adalah orang yang kalah.

Imam Al-Husain sama sekali tidak kalah. Beliau tetap dalam keagungan dan kemuliaan, menolak untuk hina sampai akhir hayatnya. Beliau tetap berakhlak semulia-mulianya sampai akhir hayatnya. Demikian pula keluarga dan para sahabatnya, mereka semua berperilaku dan berakhlak sebaik mungkin, tidak terkena kotoran dan nista setitik pun. Inilah pengabulan Allah atas doa beliau di Arafah. Walaupun bumi ini luas, tidak ada tempat bagi Imam Al-Husain kecuali harus menyambut kesyahidan.

Syahid Sayyid Ali Khamenei, pada 1 Juli 1992 mengatakan “Keliru jika kita mengira Imam Husain dikalahkan. Terbunuh tidaklah berarti dikalahkan. Dalam sebuah pertempuran, orang yang terbunuh belum tentu kalah. Yang kalah adalah orang yang tidak mencapai tujuannya. Tujuan musuh-musuh Imam Husain adalah melenyapkan Islam dan seluruh keturunan Nabi yang tersisa dari muka bumi. Mereka, para musuhnya, justru kalah karena tidak berhasil mencapai tujuan itu.”[1]

Menurut riwayat dari Imam Ja‘far ash-Shadiq sa, terdapat 33 luka tusukan tombak dan 34 luka sabetan pedang di tubuh Imam Al-Husain sa. (Maqtal Al-Husain, Muqarram, juz 2, hal. 33.) Adapun menurut riwayat dari Imam Muhammad al-Baqir sa, jumlah luka tusukan tombak, anak panah, dan sabetan pedang pada tubuh Imam Al-Husain lebih dari 320. (Nafs al-Mahmum, Al-Qummi, hal. 325.) Bahkan ada yang menulis hingga 1.900 luka.

Sayyid Muhammad Husain Husaini Tehrani menuliskan dalam Lama‘ât al-Husain:

“Banyaknya luka dan cedera pada tubuhnya membuat Imam sangat kelelahan. Ia berhenti bertarung untuk beristirahat sejenak, tetapi seseorang melemparkan batu ke dahinya, sehingga darah mengalir di wajahnya. Ketika ia ingin membersihkan darah dari matanya dengan pakaiannya, seseorang menusuk jantungnya dengan anak panah bermata tiga. Putra Rasulullah itu berkata:

بِسْمِ اللهِ وَبِاللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللهِ

Dalam nama Allah, dengan Allah, dan dalam agama Rasulullah.

Kemudian ia menengadahkan wajahnya ke langit dan berkata:

إِلَهِي، إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقْتُلُونَ رَجُلًا لَيْسَ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ ابْنُ نَبِيٍّ غَيْرُهُ

Ya Tuhanku, Engkau benar-benar tahu bahwa mereka membunuh seseorang yang tiada putra nabi lain di muka bumi ini.

Imam as meraih anak panah itu dengan tangan dan mencabutnya dari punggungnya, sehingga darah memancar seperti air hujan yang mengalir dari talang. Imam meletakkan telapak tangannya di bawah luka, dan telapak itu pun penuh dengan darah. Kemudian ia memercikkan darah itu ke langit dan berkata:

هَوْنٌ عَلَيَّ مَا نَزَلَ بِيْ أَنَّهُ بِعَيْنِ اللهِ

“Ringan yang terjadi bagiku karena ini tak luput dari pandangan Allah.”[2]

Sungguh, tiada Darah Husain yang Tumpah Sia-sia

Tidak setetes pun dari darah itu jatuh kembali ke bumi. Ia meletakkan telapak tangannya di bawah luka dan mengisinya dengan darah untuk kedua kalinya, lalu mengusapkannya ke kepala dan janggutnya yang mulia, dan berkata, “Aku akan tetap seperti ini hingga aku bertemu dengan kakekku, Rasulullah.” Ia kehilangan begitu banyak darah sehingga ia benar-benar lelah. Maka, ia duduk di tanah, sementara ia tidak mampu lagi menahan kepalanya.

Kemudian Malik bin Busr mendekat, memaki Imam, dan memukul kepalanya dengan pedang. Jubah kepala panjang Imam dipenuhi darah. Ia melepasnya, lalu mengikat serbannya di sekitar topi biasa, atau menurut beberapa riwayat, ia membalut kepalanya dengan sehelai kain.

Kemudian Zur’ah bin Syarik memukul bahu kiri [atau tangan] Imam. Sementara itu, Husain [bin Numair at-Tamimi] menembakkan anak panah ke tenggorokannya, dan orang lain memukul leher mulia Imam dengan pedang. Sinan bin Anas memukul tulang selangka Imam dan kemudian dadanya dengan tombak, serta juga menancapkan anak panah ke tenggorokannya. Tombak lain dari Shalih bin Wahab menembus sisi tubuh Imam.

Hilal bin Nafi’ melaporkan, Aku berdiri di dekat Al-Husain ketika ia mengambil nafas terakhirnya. Demi Allah, saya belum pernah melihat seseorang yang berlumuran darahnya sendiri namun memiliki wajah yang begitu cerah dan gemilang. Sungguh, saya begitu terpikat oleh cahaya wajahnya sehingga saya tidak terpikir untuk membunuhnya.”

Imam al-Husain as mengangkat pandangannya ke langit dalam keadaan itu dan menyeru pada Tuhan Yang Maha Agung:

صَبْرًا عَلَى قَضَائِكَ يَا رَبِّ، لَا إِلٰهَ سِوَاكَ، يَا غِيَاثَ الْمُسْتَغِيثِينَ

“Sabar atas qadha-Mu, ya Rabb, tiada Tuhan selain-Mu, wahai Penolong mereka yang meminta pertolongan.”

Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun 3x

Kita kembali pada pertanyaan kita, apa makna kemenangan itu. Karbala adalah kemenangan agung. Di sana Abu Abdillah sa tidak kalah, tidak dihinakan, dan tidak dipermalukan. Justru melalui syahadah beliau di Asyura lahir keagungan yang tidak bisa dicapai dengan cara lain.

Menurut Ustadz Javad Shomali, kita tidak boleh menempatkan Imam Al-Husain pada level kita. Kita mungkin bertanya mengapa beliau tidak memohon kepada Allah agar musuh-musuhnya dibunuh atau dikalahkan secara fisik.

Telah diriwayatkan dari Imam al-Shadiq (as) yang mendengar dari ayahnya: “Ketika para sahabat Imam (as) berhadapan dengan pasukan ‘Umar Ibn Sa’d dan api peperangan sudah terbakar, malaikat dari Surga dengan perintah Allah mendatangi Imam (as) dan mengajukan kepada Imam (as) dua pilihan yaitu kemenangan menghadapi musuh, atau bertemu dengan Allah dan mati syahid. Imam (as) memilih bertemu dengan Allah. (Munfarid dan Alamdar, Karbala, hal. 284).

Namun pada Asyura, yang Imam mohonkan kepada Allah adalah agar hati musuh-musuhnya dilembutkan dan dimenangkan. Inilah yang terjadi pada Al-Hurr bin Yazid, salah seorang komandan pasukan musuh, yang hatinya terlembutkan pada hari terakhir.

Al-Hurr ar-Riyahi dibesarkan dalam tradisi Bani Umayyah dan memandang Islam dengan paradigma Umawi. Ia komandan yang menggiring Imam dan keluarganya ke Karbala. Pada hari terakhir Allah meluluhkan hatinya. Ia datang menunduk karena malu, namun Imam menerimanya dengan sepenuh hati. Inilah kemenangan yang hakiki.

Bukan hanya Al-Hurr yang berbalik membela Imam. Sa’ad bin Harits al-Anshari dan saudaranya Abu al-Hatuf, dua pengikut Khawarij yang datang bersama pasukan Umar bin Sa’ad, akhirnya bergabung dengan Imam Al-Husain sa setelah mendengar tangisan keluarga Nabi saw.

Ketika para wanita dan anak-anak keluarga Imam Al-Husain as menangis dan meratap setelah mendengar teriakan Imam sa, “Adakah orang yang mau membantuku?” maka Sa’id bin Harits dan Abu Abdullah bin Harits tidak dapat mengendalikan diri. Mereka mengangkat pedang dan bertarung dengan gagah berani melawan musuh Imam sa hingga akhirnya menjadi syuhada. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa dua orang bersaudara ini menjadi syuhada pada detik-detik terakhir kehidupan Imam sa. (Maqtal Al-Husain, Muqarram, hal. 240; Abshâr al-‘Uyûn, hal. 94. Lihat Ali Nazari Munfarid dan Sayyid Hussein Alamdar, Karbala, hal. 292.)

Ada pembesar Umawi yang sadar dan ada pula Khawarij. Inilah salah satu wujud kemenangan sejati Imam Al-Husain sa. Ali Nazari Munfarid dan Sayyid Hussein Alamdar menuliskan dalam buku Karbala:

Telah diriwayatkan bahwa 30 orang anggota pasukan yang berasal dari Kufah bertanya kepada Umar bin Sa’ad, “Ketika putra dan putri kesayangan Nabi suci saw mengajukan kepadamu tiga pilihan yang bisa mencegah perang ini, mengapa engkau menolaknya?” Setelah menyampaikan keberatan-keberatan, kelompok ini memisahkan diri dari pasukan Umar bin Sa’ad dan bergabung dengan kemah Imam sa. (Ali Nazari Munfarid dan Sayyid Hussein Alamdar, Karbala, hal. 250.)

Ustadz Javad Shomali menjelaskan, setiap manusia diciptakan sebagai khalifah dan berpotensi menyempurna. Allah menyayangi setiap insan, sehingga setiap orang masih bisa diselamatkan ke jalan yang benar.

Karena itu Imam menangis untuk musuh-musuhnya. Beliau memandang mereka sebagai pohon-pohon yang telah diberi banyak tenaga dan waktu, namun tidak akan berbuah dan justru menghancurkan diri sendiri. Tujuan beliau bukan menghancurkan mereka secara fisik. Beliau ingin menolong mereka kembali ke jalan yang benar.

Betapa indah doa Imam Al-Husain sa: Dan Engkau adalah Penolongku melawan musuhku. Apa yang dilakukan oleh Imam Al-Husain sa sama dengan apa yang dilakukan oleh Imam Ali as. Kapan saja Imam Ali as dipaksa masuk ke satu peperangan, beliau menggunakan setiap kesempatan untuk berbicara kepada musuh-musuhnya, dan berusaha untuk menaklukkan beberapa di antara mereka sehingga mereka kembali kepada Allah.

Inilah kemenangan yang hakiki. Dalam pandangan Ahlulbait as, kemenangan sejati adalah memenangkan hati dan membawanya kembali kepada Tuhan yang sangat mencintai mereka. Diriwayatkan dari Imam Ali as sebuah pesan yang beliau terima dari Rasulullah saw:

لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ عَلَى يَدَيْكَ رَجُلًا خَيْرٌ لَكَ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ وَغَرَبَتْ

“Jika Allah Swt memberi petunjuk seseorang melalui kedua tanganmu, itu lebih baik bagimu ketimbang semua yang disinari matahari dari terbit hingga terbenam.” (Al-Kâfî, juz 5, hal. 36.)

Menyelamatkan satu jiwa menuju hidayah lebih baik daripada seluruh dunia. Begitulah Imam Ali as memahami kemenangan, dan begitu pula seluruh Ahlulbait as, termasuk Imam Al-Husain sa.

Kemenangan Imam Al-Husain tidak berhenti pada Al-Hurr, dua Khawarij, dan mereka yang berbalik pada hari Asyura. Kemenangan beliau melintas dari zaman ke zaman, melalui setiap pencinta yang menyambut seruan beliau untuk menjadi manusia yang lebih baik, lebih dermawan, lebih siap berkorban, lebih kasih kepada sesama, dan tidak egois, yaitu jiwa-jiwa Karbala’i.

Menurut Syahid Agung Sayyid Ali Khamenei pada 14 April 2000, “Pada hakikatnya, gerakan Imam Husain adalah perlawanan terhadap kebodohan dan kehinaan manusia. Sesungguhnya, meskipun Imam Husain berhadapan dengan Yazid, perjuangan sejarahnya yang luas tidak semata-mata melawan Yazid yang hina dengan usianya yang singkat. Sungguh, itu adalah perlawanan terhadap kebodohan, kerendahan, penyimpangan, kehinaan, dan kemerosotan martabat manusia.”[3]

Maka bagaimana kita bergabung dengan Imam Husain as untuk mencapai Kemenangan Karbala’i bersama Beliau as? Hemat saya, barangkali ujaran di saat-saat mendekati Syahadah Beliau adalah kunci.

صَبْرًا عَلَى قَضَائِكَ يَا رَبِّ، لَا إِلٰهَ سِوَاكَ، يَا غِيَاثَ الْمُسْتَغِيثِينَ

“Sabar atas qadha-Mu, ya Rabb, tiada Tuhan selain-Mu, wahai Penolong mereka yang meminta pertolongan.”

Maka kesabaran seperti apa yang seharusnya kita gapai agar menjadi jiwa Karbala’I yang beroleh anugerah untuk bergabung dengan misi Imam Husain as ?

الْإِمَامُ الْبَاقِرُ (عَلَيْهِ السَّلَامُ): الْمُؤْمِنُ أَصْلَبُ مِنَ الْجَبلِ، اَلْجَبَلُ يُسْتَقَلُّ مِنْهُ، وَالْمُؤْمِنُ لَا يُسْتَقَلُّ مِنْ دِينِهِ شَيْءٌ

Imam al-Baqir as berkata, “Orang yang beriman itu lebih kukuh dari gunung, karena gunung dapat bergeser dari tempatnya, sedangkan mukmin tidak ada dapat bergeser dari agamanya sedikit pun.”[4]

Jadi, mengikuti petunjuk Imam al-Baqir as, kita berlatih untuk kukuh dalam taat kepada Allah, menjaga akhlak mulia, dan menolak bergabung dalam kezaliman. Bahkan lebih kukuh dari gunung.

الْإِمَامُ الصَّادِقُ (عَلَيْهِ السَّلَامُ): إِنَّ الْمُؤْمنَ أَشَدُّ مِنْ زُبَرِ الْحَدِيْدِ، إِنَّ زُبَرَ الْحَدِيْدِ إِذَا دُخِلَ النَّارَ تَغَيَّرَ، وَإِنَّ الْمُؤْمِنَ لَوْ قُتِلَ ثُمّ نُشِرَ ثُمّ قُتِلَ لَمْ يَتَغَيَّرْ قَلْبُهُ

Imam ash-Shadiq as berkata, “Sesungguhnya orang yang beriman itu lebih keras dariapda potongan besi. Sesungguhnya potongan besi yang dimasukkan ke dalam api maka akan berubah, sedangkan orang yang beriman, jika ia terbunuh, lalu dibangkitkan, lalu terbunuh lagi, hatinya tidak akan berubah.”[5]

Lebih lanjut, melalui penjelasan Imam Ja’far as, shabran ala qodho’ik , sabar dan ridha pada ketetapanNya; sabar atas semua bencana, sabar dalam ketaatan, sabar dari bergabung dalam kemaksiatan dan kezaliman hingga lebih keras dari potongan besi .

رَسُولُ اللهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَآلِهِ): تَقُولُ النَّارُ لِلْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: جُزْ يَا مُؤْمِنُ فَقَدْ أَطْفَأَ نُوْرُكَ لَهَبِيْ

Rasulullah saw bersabda, “Neraka akan berkata kepada orang yang beriman pada Hari Kiamat, ‘Berlalu kamu, hai mukmin! Karena cahayamu telah memadamkan kobaran apiku.’.”[6]

Bahkan, secara hakiki, kesabarannya sampai taraf di mana nerak tidak bisa lagi membakar hakikatnya. Dalam munajat Sya’baniyah yang dicintai oleh Syahid Agung Sayyid Ali Khamenei,

“Seandainya Engkau memasukkanku ke neraka, akan kunyatakan kepada penghuninya bahwa aku mencintai-Mu.”[7]

Barangkali karena itulah Mahaguru yang kita cintai, bersama Bunda Euis Kartini, tak bosan-bosannya mengajarkan kesabaran kepada kita, baik dalam ceramah maupun dalam berbagai buku. Beliau mengembangkan Al Hikmah Al Muta’aliyyah Lis Sa’adah, yang memadukan Syari’at, Irfan Thariqat Ahlul Bait, Filsafat, dan Sains untuk menuntun para muridnya mencapai maqam SHABRON ‘ALA QODHO’IK, LAA ILAHA SIWAAK, YAA GHIYAATSAL MUSTAGHIITSIIN.

Dan melaluinya , semoga kita semua dan keluarga beroleh TaufikNya, bergabung dengan Imam Husain as dan keluarganya as dan para sahabatnya as.

يَا لَيْتَنِيْ كُنْتُ مَعَهُمْ فَأَفُوزَ مَعَهُمْ

“Duhai, andai aku bersama mereka, sehingga aku menang bersama mereka...”

Wa maa taufiiqii illa billah ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib.

┄┄┄┄┄┄┄┄┄┄

Catatan & Sumber

[1] Khamenei.ir, “10 illuminating points,” op. cit. Pernyataan disampaikan pada 1 Juli 1992.Teks asli: It is wrong to think that Imam Hussain (pbuh) was defeated. Being killed does not mean being defeated. In a battle, the one who is killed has not been defeated. The one who does not achieve his goal has been defeated. The goal of Imam Hussain’s (pbuh) enemies was to eliminate Islam and all those who remained from the Prophet (his family) from the earth. They (his enemies) were defeated because they did not achieve this.

[2] Muhammad Husain Husaini Tehrani, Lama‘ât al-Husain.

[3] Ayatollah Ali Khamenei, “10 illuminating points by Ayatollah Khamenei on Imam Hussain’s (pbuh) uprising,” Khamenei.ir, https://english.khamenei.ir/news/8652/10-illuminating-points-by-Ayatollah-Khamenei-on-Imam-Hussain-s. Pernyataan disampaikan pada 14 April 2000.Teks asli: Essentially, Imam Hussain’s (pbuh) movement was a fight against human ignorance and humiliation. In fact, although Imam Hussain fought Yazid, his extensive historical fight was not merely a fight against the worthless Yazid with his short life. Indeed, it was a fight against human ignorance, debasement, deviation, humiliation and degradation.

[4] Al-Kâfî, jil. 2, hal. 241, hadis no. 37.

[5] Bihâr al-Anwâr, jil. 67, hal. 303, hadis no. 34.

[6] Al-Khathib, Târîkh Baghdâd, jil. 9, hal. 232.

[7] Sumber: https://english.khamenei.ir/news/4779/Which-supplication-did-Imam-Khomeini-love-the-most-Ayatollah

Social Media