Imam Musa hingga Al-Mahdi

Imam Musa putra Imam Jafar Shadiq hidup pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah: periode khalifah Al-Mansur, Al-Mahdi, Al-Hadi, dan Harun Ar-Rasyid. Pada masa ini nasib pengikut Ahlulbait teraniaya. Mereka dipenjarakan tanpa diberi makan, diusir dari rumah-rumahnya, dan dibunuh.

SEJARAH

1/8/20266 min read

Imam Musa putra Imam Jafar Shadiq hidup pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah: periode khalifah Al-Mansur, Al-Mahdi, Al-Hadi, dan Harun Ar-Rasyid. Pada masa ini nasib pengikut Ahlulbait teraniaya. Mereka dipenjarakan tanpa diberi makan, diusir dari rumah-rumahnya, dan dibunuh. Pernah suatu hari Harun Ar-Rasyid memanggil Humaid bin Qahtabah bertanya tentang ketaatannya kepada dirinya sebagai penguasa Dinasti Abbasiyah. Humaid menyatakan kesiapannya. Harun Al-Rasyid kemudia memberinya sebuah pedang dan menyuruhnya pergi bersama seorang pelayan ke sebuah rumah yang terkunci yang di tengah-tengahnya terdapat sumur.

Di rumah tersebut terdapat tiga kamar yang seluruhnya terkunci. Pelayan itu membuka kunci pintu kamar yang di dalamnya terdapat duapuluh orang keturunan dari Ahlulbait Rasulullah saw. Mereka terdiri dari anak-anak remaja dan orang-orang tua dengan kaki dan tangan terikat rantai. Sang pelayan menyuruh Humaid untuk membunuh orang-orang itu dan memasukkan jasad mereka ke dalam sumur. Humaid tanpa risih melakukannya. Kemudian pintu kedua dibuka yang di dalamnya terdapat tawanan sejumlah yang di kamar pertama. Kembali pelayan itu menyuruh Humaid melakukannya. Humaid pun melaksanakannya. Pintu ketiga pun dibuka dan di situ terdapat sejumlah itu. Lagi-lagi pelayan itu menyuruhnya melakukan hal yang sama dan Humaid pun menaatinya.

Karena itu, keberadaan Imam Musa Al-Kazhim pada masa kekuasaan Harun Ar-Rasyid menjadi tumpuan umat Islam. Orang-orang Islam lebih taat kepada Imam Musa ketimbang kepada pemerintah Dinasti Abbasiyah. Setiap hari pengikut Imam Musa bertambah dan Harun Al-Rasyid merasa cemas. Tanpa alasan yang jelas, Imam Musa ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Bahkan, untuk meruntuhkan derajat Imam Musa, Harun Al-Rasyid memasukkan pelayan wanita yang cantik ke dalam penjara guna merayunya. Namun tidak berhasil karena si wanita tersebut malah menjadi murid Imam Musa.

Setelah berbagai cara tidak berhasil, Harun Al-Rasyid menyuruh Sanadi bin Sahik agar meletakkan racun pada makanan Imam Musa hingga wafat pada Jumat, 25 Rajab 183 H. Jenazahnya dibiarkan tergeletak dipenjara selama tiga hari dan dibuang di jembatan Al-Karkh, Baghdad. Putra Imam Musa beserta keluarga dan pengikutnya menguburkan jasadnya di pemakaman Quraiys, Irak.

Selanjutnya, kepemimpinan beralih kepada Imam Ali bin Musa Ar-Ridha. Putra Imam Musa ini lahir di Madinah, Kamis, 11 Dzulqa’dah 148 H. Ibunya bernama Taktam yang dijuluki Ummu Al-Banin. Imam Ali Ar-Ridha hidup dalam bimbingan ayahnya selama tiga puluh lima tahun dan berada dalam masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah.

Imam Ali Ar-Ridha dikenal dekat dengan kaum tertindas yang hidup dalam serba ketakutan dan berharap terjadinya perubahan kehidupan yang lebih baik. Mereka sering berkumpul dan mendengarkan nasihat-nashiat dari Imam Ali Ar-Ridha. Dekatnya umat Islam kepada Imam Ali Ar-Ridha ini membuat khawatir penguasa Dinasti Abbasiyah. Al-Makmun, penguasa Dinasti Abbasiyah, mencoba mengambil hati umat Islam dengan mengangkat Imam Ali Ar-Ridha sebagai putra mahkota. Al-Makmun menuliskan teks baiat kepada Imam Ali Ar-Ridha dengan tangannya sendiri dan Imam Ali Ar-Ridha menandatanganinya.

Tidak pernah ada yang memperkirakan bahwa pengangkatan Imam Ali Ar-Ridha sebagai putra mahkota tersebut merupakan siasat untuk menyingkirkannya. Dalam sebuah jamuan makan, Imam Ali Ar-Ridha diracun sampai mengembuskan nafas terakhir pada Selasa, 17 Shafar 203 H. dan dimakamkan di Thus (Masyhad), Iran.

Dengan wafatnya Imam Ar-Ridha, menjadi tanda beralihnya kepemimpinan kepada putranya, Imam Muhammad bin Ali Al-Jawad. Ia lahir di Madinah, 10 Rajab 195 H. dari ibunya yang bernama Raibanah. Imam Muhammad Al-Jawad dikenal memiliki ilmu agama yang luas dan sering berdebat dengan ulama-ulama tentang fiqih, hadit, tafsir, teologi, dan lainnya.

Al-Makmun, penguasa Dinasti Abbasiyah, meminta Imam Muhammad Al-Jawad untuk menikahi Ummu’l Fadl, putrinya. Al-Makmun mengambil keputusan ini untuk menghilangkan dendam pengikut Ahlulbait kepada penguasa Dinasti Abbasiyah. Keputusan itu membuat keluarga Dinasti Abbasiyah marah terhadap Al-Makmun sehingga dimintanya agar mengurungkan niatnya mengambil Imam Muhammad Al-Jawad sebagai menantu. Suatu waktu dalam rangka mempermalukannya, keluarga Dinasti Abbasiyah menyuruh Yahya bin Aktham, salah seorang ulama di Baghdad, untuk berdebat dengan Imam Muhammad Al-Jawad. Al-Makmun mempersiapkan acaranya dan mengumumkan secara besar-besaran dengan menyediakan sembilan ratus kursi untuk para ulama dan masyarakat yang akan melihat pertunjukan debat.

Saat acara digelar, Imam Muhammad Al-Jawad duduk di sebelah Al-Makmun berhadapan dengan Yahya bin Aktham. Sesi pertama pertanyaan-pertanyaan dari Yahya bin Akhkam dijawab oleh Imam Muhammad Al-Jawad dengan argumen yang mendalam dan penuh hikmah. Pada sesi kedua Imam Muhammad Al-Jawad bertanya dan Yahya bin Aktham tidak bisa menjawabnya.

Melihat kecerdasan Imam Muhammad Al-Jawad, Al-Makmun berkata, “Tidakkah aku sudah kukatakan bahwa Imam Al-Jawad datang dari keluarga yang telah dipilih oleh Allah sebagai tempat penyimpanan ilmu pengetahuan. Apakah ada seseorang yang mampu menyaingi kecerdasan anak ini?”

Lalu, Al-Makmun menikahkan Ummu’l Fadl dengan Imam Muhammad bin Ali Al-Jawad. Satu tahun setelah pernikahan, Imam Muhammad bin Ali Al-Jawad kembali ke Madinah bersama istrinya. Tidak lama kemudian, Al-Makmun meninggal dunia dan Al-Mu’tasim naik menjadi penguasa Dinasti Abbasiyah.

Kebijakan Al-Mu’tasim berbeda dengan Al-Makmun. Kepada umat Islam, Al-Mu’tasim menyebarkan fitnah bahwa Imam Muhammad Al-Jawad berupaya merebut kekuasaannya. Karena fitnah yang disebarnya tidak berpengaruh maka Al-Mu’tasim meracuni makanan Imam Muhammad Al-Jawad hingga wafat pada 28 Zulqaidah 220 H. Imam Al-Jawad dikuburkan di samping makam kakeknya, Imam Musa Al-Kazhim, di pinggiran Baghdad, Irak.

Setelah wafat Imam Muhammad Al-Jawad, kepemimpinan beralih kepada Imam Ali Al-Hadi, putra Imam Muhammad Al-Jawad, yang lahir di Madinah, 15 Dzulhijah/5 Rajab 212 H. Imam Al-Hadi dididik ayahnya. Tidak heran kalau pada masa itu Imam Al-Hadi menjadi panutan dalam akhlak, ibadah, dan rujukan dalam masalah keagamaan.

Imam Al-Hadi hidup ketika moral dan ekonomi umat Islam mulai merosot akibat banyaknya pajak yang diambil para pejabat Dinasti Abbasiyah. Al-Mu`tasim yang menjadi penguasa Dinasti Abbasiyah dikenal sebagai penyuka minuman keras dan membenci pengikut Ahlulbait. Pernah suatu ketika, Al-Mu`tasim memerintahkan pelawak untuk mengejek Ali bin Abi Thalib pada sebuah jamuan pesta dan memerintahkan untuk meratakan makam Husein (cucu Rasulullah saw) di Karbala.

Setelah berakhir masa kekuasaan Al-Mu`tasim, Al-Muntasir pada tahun 248 H. menjadi penguasa Dinasti Abbasiyah menggantikan ayahnya, Al-Mutawakkil. Meski berkuasa selama enam bulan, ia berlaku baik dan tidak membunuh pengikut Ahlulbait. Enam bulan kemudian Al-Muntasir meninggal dunia dan digantikan oleh Al-Musta`in. Intrik politik dan rebutan kekuasaan dalam keluarga istana Dinasti Abbasiyah terus bergejolak. Wajar jika setiap penguasa digulingkan oleh keluarganya sendiri, bahkan dibunuh untuk mengambil alih tampuk kekuasaan darinya.

Ketika Al-Musta’in berkuasa, kekejaman dan kesewenang-wenangan kembali merajalela.

Pemerintahannya hanya berlangsung dua tahun sembilan bulan karena atas perintah saudaranya, Al-Mu’taz, dia dibunuh dan dipenggal sehingga kekuasaan Dinasti Abbasiyah beralih ke Al-Mu’taz yang tidak kalah kejamnya. Umat Islam yang diketahui menjadi pengikut Imam Al-Hadi diburu dan sampai dibunuh jika tetap mengikutinya. Bahkan, Imam Al-Hadi pun dibunuhnya dengan diracuni pada makanan dan wafat pada tanggal 26 Jumadil Tsani 254 H. Jasad Imam Al-Hadi dikuburkan di Samarra, Irak, oleh Imam Hasan Al-Asykari.

Kepemimpinan pun beralih kepada Imam Hasan putra Imam Al-Hadi. Imam Hasan lahir pada Rabiul Tsani 213 H. dari seorang muslimah bernama Haditsa. Putra Imam Ali Al-Hadi ini mendapat julukan Al-Asykari, yang dinisbatkan pada suatu lempat yang bernama Asykar, di dekat Samarra.

Sejak kecil sampai usia dua puluh tiga tahun, Imam Hasan berada dalam asuhan ayahnya. Imam Hasan hidup pada masa Dinasti Abbasiyah dengan penguasa Al-Mu’taz, Al-Mukhtadi, dan Al-Mu’tamad (Al-Muktamid). Di bawah ketiga penguasa ini, Imam Hasan dan pengikutnya tidak lepas dari tekanan dari penguasa Dinasti Abbasiyah sehingga memberlakukan taqiyah (menyembunyikan keimanan untuk keselamatan jiwa) bagi para pengikutnya.

Penguasa Dinasti Abbasiyah mendengar bahwa dari Imam Hasan Al-Asykari akan lahir seorang manusia yang akan menegakkan keadilan. Disuruhlah oleh Al-Muktamid yang menjadi penguasa, seorang dokter dan hakim beserta pengawalnya untuk memantau gerak gerik Imam Hasan Al-Asykari. Segala sikap dan perilakunya disampaikan kepada penguasa. Apalagi Imam Hasan terlihat memperlihatkan keenganannya untuk bekerjasama dengan penguasa sehingga dianggap membahayakan. Karena itu, Al-Muktamid membunuh Imam Hasan Al-Asykari dengan racun hingga wafat pada 260 H./872 M. dan dikuburkan bersebelahan dengan makam ayahnya di Samarra.

Setelah wafat Imam Hasan Al-Askari, kepemimpinan beralih kepada Muhammad putra Imam Hasan Al-Asykari. Beliau inilah yang disebut Al-Qaim atau Imam Mahdi Al-Muntazhar yang memegang otoritas kepemimpinan Islam yang terakhir (Imam ke-12 dari Ahlulbait) sejak 260 H./872 M.

Imam Mahdi lahir pada akhir malam Jumat, 15 Sya’ban 225 H./29 Juli 870 M. di Samarra. Ibunya adalah Nargis. Saat akan persalinan, Imam Hasan Al-Asykari meminta bibinya, Sayidah Hakimah binti Imam Muhammad Al-Jawad, untuk menunggu istrinya. Bibinya kaget karena Nargis tidak tampak berbadan dua. Kemudian oleh Imam Hasan Al-Asykari dijelaskan bahwa kehamilan istrinya bagaikan kehamilan yang dialami ibu Nabi Musa as yang tidak menunjukan tanda-tanda kehamilan. Tidak semua orang diberitahu tentang kelahiran Imam Mahdi, hanya Imam Hasan Al-Asykari dan istrinya serta Sayidah Hakimah yang menunggu saat kelahirannya.[1]

Dikarenakan situasi yang tidak memihak maka Imam Al-Mahdi menghilang sementara (ghaib) dan akan muncul di akhir zaman. Sejak Imam Ali bin Abi Thalib hingga Imam Hasan Al-Asykari senantiasa diburu penguasa untuk disingkirkan. Para penguasa mendengar kabar seorang lelaki akan lahir dari keturunan Rasulullah saw yang akan meruntuhkan sistem dan perilaku jahat. Keadilan, kesejahteraan, dan pemerintahan yang berdasarkan aturan Ilahi oleh Imam Mahdi akan dijalankan dan menjadi pemerintahan terakhir hingga tiba Kiamat. Hal ini membuat para penguasa ketakutan sehingga berupaya untuk membunuhnya. Karena itu, Imam Mahdi disembunyikan dari umat manusia untuk kemudian dihadirkan secara lahiriah pada waktu yang ditentukan Allah.

Berkaitan dengan kelahiran Imam Mahdi ini, Imam Muhammad Al-Baqir berkata, “Perhatikanlah, seseorang yang kelahirannya disembunyikan dari pandangan mata manusia! Dialah pemimpin kalian. Sesungguhnya tidak seorang pun dari kami yang ditunjuk dengan jari dan disebut dengan lidah kecuali meninggal dengan kondisi diracun atau dibunuh.”[2]

Kaum Syiah Imamiyah (pengikut Ahlulbait) meyakini bahwa kegaiban Imam Mahdi terjadi dalam dua periode: ghaib sughra dan ghaib kubra. Periode ghaib sughra berlangsung selama tujuh puluh tahun, sejak wafat Imam Hasan Al-Asykari sampai wafat wakil Imam Mahdi yang keempat. Selama masa ghaib sughra, Imam Mahdi hanya bisa ditemui oleh empat wakilnya: Utsman bin Said Al-Umari Al-Asadi, Muhammad bin Utsman bin Said Al-Umari Al-Asadi (wafat 305 H.), Al-Husain bin Ruh Al-Naubakti (wafat 320 H.), dan Ali bin Muhammad Al-Samiri (wafat 329 H.). Sedangkan periode ghaib kubra dimulai pada tahun 329 H. sampai kehadiran Imam Mahdi.[3] ***


Catatan akhir

[1] Tim A’lamul Hidayah, Imam Mahdi (Jakarta: Al-Huda, 2007) halaman 147-148.

[2] Tim A’lamul Hidayah, Imam Mahdi (Jakarta: Al-Huda, 2007) halaman 151-153.

[3] Tim A’lamul Hidayah, Imam Mahdi (Jakarta: Al-Huda, 2007).