Intuisi Cahaya Kebenaran: Ma'rifah Ramadhan (10)
Seseorang yang melakukan kebaikan akan membuat tenang dan tenteram hatinya, tapi mereka yang melakukan keburukan menyebabkan kegelisahan dan kegundahan hati.
RAMADHAN
Prof Dr KH Kholid Al Walid
2/27/20262 min read


Rasulullah SAW bersabda :
اتقوا فراسة المؤمن فإنه ينظر بنور الله
Berhati-hatilah dengan firasat seorang mukmin karena mereka melihat dengan cahaya Allah.
Firasat adalah pesan intuitif yang berada di dalam batin manusia terkait tentang peristiwa yang akan yang terjadi. Firasat merupakan salah satu dari jenis intuisi yang ada pada diri seseorang. Intuisi tentu lebih luas dalam istilah Arab kadang disebut al-zawq.
Kadang-kadang dalam tasawuf, intuisi disebut sebagai Lathaif al-Ilahi. Mengapa disebut dengan istilah tersebut? Karena intuisi ini merupakan unsur ruhaniah yang terhubung dengan Allah dan melaluinya pesan-pesan ruhaniah itu turun. Tempat bersemayamnya intuisi ini adalah hati (al-qalb).
Melaluinya peringatan, kesan, bahkan petunjuk-petunjuk kehidupan disampaikan. Intuisi merespon kebaikan-kebaikan dengan rasa yang baik. Sedangkan keburukan dengan rasa yang buruk.
Hasan al-Bashri ketika melewati satu rumah ia bergegas dengan terburu-buru sehingga murid-muridnya keheranan dan bertanya: ada apa Syaikh? Hasan al-Bashri menjawab: Aku mencium bau bangkai yang sangat busuk dari rumah itu. Para murid kemudian mencari tahu siapa pemilik rumah tersebut. Dari tetangga sekitar diketahui bahwa pemilik rumah itu seorang pemabuk dan kerap melakukan hal-hal buruk di rumah tersebut.
Kita semua mengetahui bahwa di dalam al-Qur'an ada banyak mimpi yang merupakan tanda penting, bahkan perintah. Nabi Yusuf sejak kecil bermimpi tentang sebelas bintang, rembulan dan matahari yang datang dan sujud kepadanya (QS 12: 4). Demikian beberapa mimpi lainnya. Demikian juga Nabi Ibrahim as melalui mimpi mendapat perintah penyembelihan putranya Ismail as (QS 37: 102).
Bahkan beragam teori-teori filsafat dan sains di dapat bukan melalui hasil eksperimen atau penyusunan premis-premis, tetapi melalui jalan intuitif.
Syaikh Isyraq mengemukakan teori alam mitsal melalui mimpi berjumpa dengan Aristoteles. Mulla Sadra menghasilkan teori ketunggalan antara ilmu dan orang yang berilmu melalui penyingkapan ruhani di makam Sayidah Fathimah al-Ma'sumah, dan Ibnu Sina melalui shalat mendapatkan jawaban atas persoalan ilmiah yang tidak terpecahkan.
Bahkan Sir Isac Newton ketika menemukan teori gravitasi bukan berdasarkan eksperimen, tetapi melalui peristiwa jatuhnya buah apel dan tiba-tiba terlintas baginya teori gravitasi.
Semua hal yang saya sampaikan di atas adalah hal-hal yang terkait dengan intuisi. Seseorang yang melakukan kebaikan akan membuat tenang dan tenteram hatinya, tapi mereka yang melakukan keburukan menyebabkan kegelisahan dan kegundahan hati.
Karenanya, kita dapat menyimpulkan bahwa intuisi merupakan elemen yang menjadi cahaya di dalam diri manusia yang memberikan petunjuk tentang beragam hal dalam kehidupan manusia dan khususnya nilai-nilai kebaikan.
Rasulullah Saw pernah berkata :
إني لأجد نَفَسَ الرحمن من قِبَلِ اليمن
"esungguhnya aku telah merasakan Nafas al-Rahman yang bertiup dari Yaman.
Nafas al-Rahman dari Yaman yang dimaksud oleh Rasulullah SAW menurut beberapa ulama adalah Qais al-Yamani, seorang pemuda yang beriman pada Rasulullah Saw dan sangat menyayangi ibunya yang tua, buta, lumpuh dan selalu menggendong ibunya ke mana pun dia pergi.
Maka aktivkanlah intuisi yang ada dalam diri kita agar dapat mengetahui keadaan diri batin kita. Apakah aroma wewangian yang menebar tercium dan menenteramkan hati kita atau bau yang tidak sedap yang menggelisahkan jiwa kita. ***
