Kebahagiaan Buah Kebaikan: Marifah Ramadhan

Manusia ingin meraih kesuksesan dalam kehidupannya agar ia dapat hidup bahagia. Demikian juga seorang kekasih meminang kekasihnya untuk bersanding dalam kehidupan karena dia dapati bahwa kekasihnya akan memberikan kebahagiaan pada kehidupannya.

RAMADHAN

Prof Dr KH Kholid Al Walid (Pengasuh Kajian Tasawuf YouTube Misykat TV)

3/18/20263 min read

Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi Ma'nawi berkata :

"Ketika engkau menyalakan pelita bagi orang lain, cahayanya pertama kali menerangi tanganmu sendiri. Kebaikan yang engkau berikan bukanlah kehilangan. Jiwa yang luas adalah rumah bagi kebahagiaan."

Semua manusia mengejar kebahagiaan, kadang dengan beragam cara manusia berusaha menggapai kebahagiaan. Pemabuk meminum arak karena dalam kemabukan mereka merasakan kebahagiaan. Sekali pun kebahagiaan yang mereka rasakan hanyalah fatamorgana (sengaja bagian ini saya tekankan agar tidak keliru dalam memahami).

Manusia ingin meraih kesuksesan dalam kehidupannya agar ia dapat hidup bahagia. Demikian juga seorang kekasih meminang kekasihnya untuk bersanding dalam kehidupan karena dia dapati bahwa kekasihnya akan memberikan kebahagiaan pada kehidupannya.

Pertanyaan paling dasar adalah, apa itu kebahagiaan? Sebagian memaknai bahwa "kebahagiaan adalah terwujudnya apa yang diharapkan." Sebagian lain memaknai bahwa "kebahagiaan adalah kenyamanan dan ketenteraman." Al-Ghazali memaknai kebahagiaan sebagai "rasa yang dihasilkan dalam kebersamaan dengan Allah SWT." Sayyid Dastghib memaknai bahwa "kebahagiaan adalah saat ketika Allah SWT ridha kepadamu."

Kebahagiaan atau bahagia dalam bahasa Arab disebut Al-Sa'adah, lawan katanya Al-Syaqawah yaitu celaka. Sehingga dari sini dimaknai bahwa "kebahagiaan adalah keselamatan dari ancaman Allah SWT sehingga dengannya seorang hamba mendapatkan kenikmatan di sisi Allah SWT."

Ada juga yang memisahkan antara kesenangan (pleasure) dengan kebahagiaan (happiness). Dalam Kebahagiaan pasti ada kesenangan, namun kesenangan tida berarti kebahagiaan. Kesenangan dalam kebahagiaan bersifat hakiki dan ruhani dan bukan bersifat biologis. Kesenangan yang bersifat biologis bukanlah kebahagiaan karena hanya bersifat relatif dan sekilas.

Kebahagiaan merupakan hasil dan bukanlah kondisi yang berdiri sendiri sehingga dapat diraih secara instan. Kebahagiaan sesungguhnya buah dari kebaikan yang dilakukan oleh seseorang.

Mengapa? Karena kebaikan yang tulus muncul dari hati yang tulus. Setiap kebaikan yang tulus akan membawa ketenteraman dalam kehidupan. Kebaikan berkesesuaian dengan fitrah dan kecenderungan hati. Dengan kebaikan itu hati menjadi lebih baik dan terlepas dari penyakit bathin. Semakin baik seseorang semakin jernih hatinya dan itu juga akan membuat hati seseorang menjadi lebih luas.

اَفَمَنْ شَرَحَ اللّٰهُ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِ فَهُوَ عَلٰى نُوْرٍ مِّنْ رَّبِّهٖ ۗفَوَيْلٌ لِّلْقٰسِيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِّنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

"Maka, apakah orang yang Allah lapangkan hatinya untuk (menerima) agama Islam, lalu mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka, celakalah mereka yang hatinya membatu dari mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata."

(QS Az-Zumar [39]:22)

Orang yang lapang dadanya pastilah orang tersebut bahagia. Kebahagiaan tidak bermakna bahwa hidup menjadi lebih mudah, tapi kebahagiaan hadir karena hati seseorang menjadi luas. Karenanya kita tidak bisa mengukur kebahagiaan dengan capaian seseorang dalam kehidupan materinya karena kebahagiaan terjadi di dalam bathin manusia. Semakin seseorang berbuat kebaikan semakin lapang dadanya dan semakin dirinya merasakan buah kebahagiaan.

Kebahagiaan terbagi menjadi dua bagian. Ada kebahagiaan dunia dan ada kebahagiaan akhirat. Kebahagiaan dunia adalah kebahagian yang bersifat sementara sedangkan kebahagiaan akhirat adalah kebahagiaan permanen atau abadi.

وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ

"Sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia).'

(QS Aḍ-Ḍuḥā [93]:4)

Kebahagiaan merupakan hasil dari kebaikan yang dilakukan karenanya kesalahan fatal ketika seseorang dalam hidupnya berusaha sekuat uangnya mencari kebahagiaan. Padahal sekali lagi dengan uang dan harta yang didapat hanyalah kesenangan, namun bukanlah kebahagiaan.

Karenanya jika kita ingin meraih kebahagiaan bukalah gerbangnya dengan kunci kebaikan. Semakin banyak kunci kebaikan kita hasilkan dalam hidup ini maka gerbang kebahagiaan akan semakin terbuka lebar bagi kita.

Alhasil di penutup tulisan ini, perkenankan saya mengisahkan kisah ini :

Ada seorang perempuan yang shalehah dan sangat dermawan berada di penghujung usianya. Semua penduduk desa tempat dia tinggal mengenalnya dan sangat mencintainya. Mereka tahu bahwa perempuan ini melewati banyak sekali penderitaan dalam hidupnya namun tak pernah mereka mendengar keluhan meluncur dari mulutnya. Yang ada adalah wajahnya yang selalu dipenuhi senyuman dan menyejukkan setiap orang yang memandangnya. Di desa itu setiap orang berhutang jasa padanya dan banyak persoalan kehidupan mereka terselesaikan dengan bantuannya. Sehingga dalam akhir hidupnya semua warga desa hadir mendampinginya, mereka mendoakan kesembuhannya tapi usianya sudah menggerogoti kehidupannya. Salah satu dari penduduk desa memohon kepada putrinya agar dapat diberikan kunci kebaikan dan kebahagiaan yang dia raih. Di antara nafas yang tersendat dan kesadaran yang semakin memudar, putri dari perempuan tersebut membisikkan ke telinga ibunya pesan dari penduduk desa, ia bertanya "Duhai ibu penduduk desa memohon wasiat darimu, kunci apa yang menyebabkan kebaikan dan kebahagiaan hidupmu?" Sang ibu dengan tersengal membisikkan beberapa kalimat ke telinga putrinya sebelum nafas terakhir membawa ruhnya kembali kepada Allah SWT. Para penduduk desa mendesak putrinya untuk berkenan menyampaikan kunci kebaikan dan kebahagiaan yang disampaikan ibunya. Putrinya dengan berlinang air mata dan suara yang terisak menyampaikan pesan terakhir ibunya. Ia berkata:"Ibuku menyampaikan pesan, jika kalian ingin menggapai kebahagiaan... (sejenak nafasnya tertahan, air matanya semakin deras dan kemudian ia teruskan). Ibuku berwasiat: bacalah Ma'rifah Ramadhan dari awal hingga akhir."

Terima kasih atas kesediaannya di ganggu dengan tulisan Marifah Ramadhan tentang kebaikan pada Ramadhan ini. Semoga Allah memberkahi kita semua dan semoga kita berjumpa kembali pada Ramadhan yang akan datang. ***