Kebaikan itu Indah: Ma'rifah Ramadhan (12)
Sepanjang perjalanan saya ke Bandung tak berhenti air mata saya menetes. Satu tindakan sederhana, tapi saya merasa jauh lebih indah di banding ibadah-ibadah sunnah yang saya kerjakan. Sungguh saya bersyukur diberi kesempatan untuk melakukan hal tersebut.
RAMADHAN
Prof Dr KH Kholid Al Walid
3/1/20263 min read


Saya pernah ikut ziarah ke Irak dan sangat menarik orang-orang Irak berebut melayani saya. Ada yang memberikan makan gratis. Ada yang memijiti kaki para penziarah yang pegal secara gratis. Ada anak-anak yang memberikan gula-gula pada setiap penziarah. Ketika petang merayap malam penduduk Irak berebut untuk mengajak penziarah beristirahat di rumah mereka. Indah sekali.
Saya bayangkan kalau hal seperti ini terjadi pada haji. JIka semua orang berusaha melayani jamaah haji maka biaya haji akan menjadi sangat murah.
Saya kagum dengan Keanue Revees, artis yang menjadi pemeran utama dalam film Matrix. Ia memilih hidup sederhana dan kerap berbaur dengan masyarakat juga sangat dermawan. Dari penghasilannya memerankan film Matrix sebesar 45 juta USD, 31.5 USD ia sumbangkan untuk biaya penelitian Luekimia.
Juga pemain bola Sadio Mane yang berasal dari Bambali, Senegal. Sebuah desa kecil yang sangat miskin. Nasib telah membawanya menjadi bintang Bayer Munchen, Liverpool dan lainnya. Pendapatannya dari bola itu ia sumbangkan untuk membangun kembali desanya, ia bangun Rumah sakit, ia bangun sekolah gratis dan ia bagikan laptop gratis untuk anak-anak sekolah. Betapa hatinya begitu luas. Perilaku dan tindakan mereka begitu indah, itulah kebaikan.
Setiap kebaikan itu harum dan indah. Sejelek apapun rupa seseorang tapi kalau dia melakukan kebaikan maka namanya menjadi harum dan perilakunya menjadi indah. Kenapa? Karena kebaikan.
Berbeda sebaliknya dengan orang yang berlaku keburukan. Semenawan apapun seseorang kalau perbuatan yang muncul darinya adalah keburukan maka yang ada hanyalah bau busuk nan menjijikan.
Al-Qur'an menyebutkan :
اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya) adalah lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS Al-Kahf [18]:46)
Kebaikan itu adalah perhiasan yang akan membuat indah pelakunya. Baik ketika masih hidup maupun setelah meninggal dunia.
Dulu saya mengajar di Bandung, jadi setiap minggu harus bolak-balik Jakarta Bandung. Di satu Fajar setelah subuh di Bulan Ramadhan saya menantikan Bus Primajasa tujuan Bandung di Pondok Pinang. Di keremangan fajar itu saya lihat berdiri suami-istri yang buta bergandengan tangan di sudut yang gelap. Saya dekati dan saya tanya suaminya "Bapak mau kemana? "
"Mau ke Kampung Rambutan Pak" Jawab suaminya.
Saya tanya lagi "Naik apa Pak? "
Ia menjawab "Naik kopaja Pak", saya mencoba untuk menantikan Kopaja yang dia maksud tapi tidak lewat-lewat. Karena khawatir bus yang saya tunggu lewat dan membiarkan kedua orang tersebut tidak mendapat kendaraan akhirnya saya putuskan untuk memanggil taksi. Saya tuntun keduanya untuk naik taksi, walau sempat menolak karena mahal. Saya kasih uang pada sopir taksi sambil berkata: "Pak mohon di antar mereka ke Kampung Rambutan."
Begitu saya hendak menutup pintu mobil, istrinya menarik lengan baju saya sambil berkata: "Terima kasih Pak, ini pertama kali kami naik taksi. Terima kasih". Di keremangan itu saya lihat ada butiran air yang meleleh di kelopak matanya yang buta. Tiba-tiba hati saya terenyuh.
Sepanjang perjalanan saya ke Bandung tak berhenti air mata saya menetes. Satu tindakan sederhana tapi saya merasa jauh lebih indah di banding ibadah-ibadah sunnah yang saya kerjakan. Sungguh saya bersyukur diberi kesempatan untuk melakukan hal tersebut.
Dalam kitab Qalb al-Salim, dikisahkan bahwa penduduk desa sering mencium aroma wangi yang berhembus di penghujung malam. Wanginya begitu lembut dan menenangkan. Sehingga penduduk desa sengaja bangun untuk mencium aroma wangi tersebut. Mereka akhirnya penasaran sumber wewangian tersebut akhirnya mereka dapati bahwa aroma wewangian itu keluar dari satu kubur yang masih baru. Mereka penasaran dan mencari siapa yang dikuburkan tersebut. Akhirnya mereka mengetahui bahwa yang dikuburkan itu seorang perempuan yang sepanjang hidupnya tidak menikah. Ia hanyalah seorang perempuan miskin yang membantu pekerjaan rumah orang-orang berada. Tapi mereka penasaran amal apa yang dilakukan perempuan perempuan tersebut, ternyata ia anak yatim piatu dan sepanjang hidupnya ia besarkan lima adiknya, ia mengasuh adik-adiknya dan bekerja sepanjang hidupnya untuk membiayai hidup adik-adiknya.
Begitulah kebaikan, ia wangi dan indah. Wangikanlah dan indahkanlah hidup kita yang singkat ini dengan kebaikan. Karena kelak kebaikan itulah yang mewangikan dan mengindahkan hidup kita di alam berikutnya. ***
