Kebaikan yang Membuka Pintu Surga: Marifah Ramadhan
Ibrahim bin Adham seorang sufi besar dan sangat terkenal. Di tengah malam bulan suci Ramadhan ia terjaga dari tidurnya dan ia dapati kamarnya menjadi wangi dan di penuhi cahaya benderang.
RAMADHAN
Prof Dr KH Kholid Al Walid
3/12/20262 min read


Ibrahim bin Adham, seorang sufi besar dan sangat terkenal. Di tengah malam bulan suci Ramadhan ia terjaga dari tidurnya dan ia dapati kamarnya menjadi wangi dan di penuhi cahaya benderang.
Di tengah cahaya itu ia dapati sosok yang indah memegang kitab berwarna emas. Ibrahim bin Adham bertanya: "Siapakah engkau?" Sosok itu berkata: "Aku adalah malaikat Allah."
"Apa yang engkau lakukan di sini?" Malaikat itu berkata: "Aku di utus Allah untuk mencatat nama-nama para kekasih Allah di kitab emas ini".
Ibrahim bertanya: "Adakah namaku tertulis di sana? . Malaikat itu menjawab: "Tidak ada namamu di sini."
"Jika namaku tidak ada, lantas siapa sajakah yang namanya tertulis di situ? . Malaikat itu berkata: "Para kekasih Allah adalah mereka yang tersisihkan, kebahagiaannya dirampas dan mereka harus menanggung beban derita karena kezaliman para penguasa". Ibrahim kemudian berkata: "Jika begitu maka akan kuhabiskan waktuku di bulan ini untuk melayani kekasih Allah."
Sebulan penuh Ibrahim bin Adham menyibukkan dirinya dengan fakir dan miskin. Ia bagikan sebagian hartanya, ia tutupi kebutuhan mereka dan kadang ia harus menyuapi mulut-mulut mereka yang renta.
Di penghujung Ramadhan peristiwa yang sama terjadi. Ia dapati kembali kamarnya wangi bercahaya, sosok malaikat yang sama berdiri di pusaran cahaya dengan kitab berwarna emas. Kembali Ibrahim bertanya: "Apa yang engkau lakukan?" Malaikat itu menjawab dengan jawaban yang sama: "Aku tengah menuliskan nama para kekasih Allah." Ibrahim kembali bertanya: "Adakah namaku di antara nama para kekasih Allah?" Malaikat itu berkata: "Allah memerintahkanku untuk menuliskan namamu pada baris pertama karena engkau telah melayani para kekasih Allah."
Akhlak Islam adalah akhlak pelayanan dan perkhidmatan. Hampir sebagian besar perintah al-Qur'an bertujuan untuk melayani dan memperhatikan hamba Allah yang menderita dan kesulitan. Zakat, infaq, shodaqoh, pemuliaan anak-anak yatim, penghormatan faqir, dan miskin.
Dalam hadits Qudsi disebutkan :
إن الله تعالى يقول يوم القيامة : عبدي ، استطعمتك فلم تطعمني ، قال : يا رب كيف أطعمك ، وأنت رب العالمين ؟ قال : استطعمك عبدي فلان فلم تطعمه ، أما لو أطعمته لوجدت ذلك عندي ، عبدي استسقيتك فلم تسقني ، قال : يا رب كيف أسقيك ، وأنت رب العالمين ؟ قال : استسقاك عبدي فلان فلم تسقه أما لو سقيته لوجدت ذلك عندي ، عبدي مرضت فلم تعدني ، قال : يا رب ، كيف أعودك وأنت رب العالمين ؟ قال : مرض عبدي فلان فلم تعده ، أما لو عدته لوجدتني عنده
Sesungguhnya Allah yang Maha Agung berkata pada hari Kiamat: "Duhai hamba-Ku, dahulu aku lapar dan engkau tidak memberiku makan." "Ya Allah bagaimana mungkin Engkau lapar padahal Engkau Tuhan alam semesta?" "Dahulu ada hamba-Ku yang kelaparan dan memohon makanan darimu namun Engkau tak memberinya makanan, sekiranya dahulu engkau memberinya makan maka engkau akan menjumpainya disisi-Ku." "Duhai hamba-Ku, dahulu Aku kehausan dan Engkau tak memberiku minum." Ya Allah bagaimana mungkin Engkau kehausan padahal Engkau adalah Tuhan alam semesta?" "Dahulu ada hamba-Ku yang dahaga dan mengharapkan minum darimu tapi engkau tak memberinya minum, sekiranya engkau memberinya minum niscaya engkau mendapatinya disisi-Ku". " Duhai hamba-Ku, dahulu Aku sakit tapi engkau menolak untuk mengobati-Ku.""Ya Allah bagaimana mungkin Engkau sakit padahal Engkau Tuhan alam semesta?" "Dahulu ada hamba-Ku yang sakit dan memohon pertolonganmu tapi engkau menolaknya. Seandainya dahulu engkau merawatnya niscaya engkau mendapatinya di sisi-Ku."
Hadits Qudsi ini di nukil oleh Ibn Qayyim al-Jawziyah bahkan Ibn Taymiyyah yang terkenal banyak menolak hadits namun pada hadis ini ia mengakui kesahihannya.
Betapa Allah begitu pedulinya kepada hamba-Nya yang menderita dan begitu bahagianya pada perbuatan hamba yang melayani mereka yang menderita.
Hingga Rasulullah SAW bersabda: "Mereka yang menjulurkan tangan untuk saudaranya yang kesulitan akan menurunkan rahmat Allah lebih cepat dari pedang yang menebas punuk onta."
Karenanya jangan heran kelak di akhirat ada banyak orang yang selama di dunia kita kenal sebagai orang yang biasa, tapi di akhirat adalah orang-orang yang memiliki kunci gerbang surga karena perbuatan baik mereka melayani orang-orang miskin dan anak-anak yatim.
Mungkin kita tidak seshaleh mereka yang menghiasi malamnya dengan ibadah dan berpuasa di siang harinya. Namun kita dapat menjadi pemegang kunci surga dengan melayani para kekasih-kekasih Allah yang hidupnya terhempas dalam derita dan terlilit dalam kesulitan. ***
