Keburukan itu tiada? Ma'rifat Ramadhan (4)

Para Filosof muslim menolak pandangan seperti ini. Bagi Filosof seperti Ibn Sina, Ibn Rushd dan Mulla Sadra relasi antara keburukan dan kebaikan adalah relasi antara tiada dan ada.

RAMADHAN

Prof Dr KH Kholid Al Walid

2/22/20262 min read

white concrete building
white concrete building

Keburukan jelas oposisi dari Kebaikan. Umumnya masyarakat memandang bahwa antara kebaikan dan keburukan adalah dua hal yang berpasangan. Jika disitu ada kebaikan maka di situ pula ada keburukan. Pandangan seperti ini juga di anut beberapa pemikir ateistik seperti halnya Auguste Comte. Baginya kebaikan dan keburukan dua relasi setara yang dikonsepsikan oleh manusia.

Pandangan Zoroaster menyatakan bahwa keburukan dan kebaikan berasal dari dua sisi ketuhanan. Keburukan berasal dari Ahriman dan Kebaikan berasal dari Ahura Mazda. Keburukan dan kebaikan adalah dua realitas yang berpasangan.

Para Filosof muslim menolak pandangan seperti ini. Bagi Filosof seperti Ibn Sina, Ibn Rushd dan Mulla Sadra relasi antara keburukan dan kebaikan adalah relasi antara tiada dan ada.

Sebagai contoh ketika kita melihat gelas yang setengah berisi. Kita tidak bisa berkata bahwa gelas tersebut setengah kosong. Karena kosong itu tiada. Demikian juga kita berkata bodoh. Bodoh itu tidaklah real yang real adalah ketiadaan ilmu. Demikian juga gelap bahwa gelap itu adalah ketiadaan cahaya. Jadi Kosong, bodoh, gelap hanyalah gambaran ketiadaan demikian juga Keburukan. Bagi Para filosof ini Keburukan adalah keadaan ketiadaan kebaikan.

Jadi secara ontologis bagi para filosof muslim yang real dan ada hanyalah kebaikan, sedangkan keburukan adalah tiada atau unreal.

Lantas darimana kita bisa menyatakan Keburukan? Pertama dari terbatasnya sesuatu, Kedua akal menetapkan bahwa tindakan tersebut membawa kerugian baik secara individual maupun sosial. Keempat adanya perbandingan antara yang satu dengan lainnya. Antara orang yang berilmu dan kurang ilmu. Maka yang berilmu sebagai baik dan yang kurang ilmu sebagai buruk. Kelima kesepakatan Masyarakat bahwa hal ini baik dan hal itu buruk. Ke-enam Agama yang menetapkan ini baik dan itu buruk.

Al-Qur'an selain menerima konsepsi keburukan yang bersumber dari enam hal tersebut juga menerima dalam konsepsi ontologis yang dikemukakan oleh para filosof seperti yang disebutkan pada Surah al-Isra' ayat ke 81 :

وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۖاِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا

Katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap. (Al-Isrā' [17]:81)

Jika cahaya memancar maka gelap pun sirna. Karena gelap sesungguhnya tak pernah benar-benar ada. Yang ada sesungguhnya hanyalah kebaikan dan keburukan sesungguhnya tak pernah benar-benar ada.

Orang yang kehidupannya hanya mengukir keburukan pada hakikatnya hanyalah mengukir kesia-siaan dan kesirnaan.

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءًۗ حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءَهٗ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا وَّوَجَدَ اللّٰهَ عِنْدَهٗ فَوَفّٰىهُ حِسَابَهٗ ۗ وَاللّٰهُ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ۙ

Orang-orang yang kufur, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar. Orang-orang yang dahaga menyangkanya air, hingga apabila ia mendatanginya, ia tidak menjumpai apa pun. (Sebaliknya) ia mendapati (ketetapan) Allah (baginya) di sana, lalu Dia memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna. Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (An-Nūr [24]:39) ***