Kemurnian Kebaikan dalam kata Al-Thayyib: Ma'rifah Ramadhan

Kata al-Thayyib berasal dari akar kata Taba yang berarti “menjadi baik, bersih, menyenangkan, atau murni.” Dalam pengalaman manusia, sesuatu yang Thayyib bukan sekadar benar menurut hukum, tetapi juga menenteramkan jiwa dan menumbuhkan kehidupan.

RAMADHAN

PROF DR KH Kholid Al Walid

3/7/20262 min read

Kamboja pernah memiliki pasukan yang dikenal dengan Khmer Merah, pasukan yang sangat sadis dan brutal. Mereka menguliti siapa saja yang menentang negara di Killing Fields kemudian memakan daging musuhnya dalam keadaan musuhnya tersebut masih hidup. Tak perlu dibayangkan kesadisan mereka. Tapi mengapa mereka sedemikian sadisnya tanpa rasa sedikit pun.

Ada kisah panjang dalam membentuk pasukan ini. Mereka adalah anak-anak haram yang lahir di lingkungan prostitusi. Mereka diambil oleh pemerintah, dimasukkan ke kamp khusus yang lemah di antara mereka jadi santapan bersama dan sejak kecil dipertontonkan hal-hal yang sangat sadis dan diberikan makanan daging lawan yang dibunuh dengan minuman darah mereka. Bahkan makanan favorit mereka adalah otak dari musuhnya. Mereka tumbuh dalam lingkungan dan makan yang seperti ini dan tumbuh menjadi monster.

Pengaruh makanan begitu luar biasa dalam membentuk karakter seseorang. Karenanya dalam hal makanan Islam paling 'rewel'. Saya yakin tidak ada agama yang paling memperhatikan makanan melebihi Islam.

Selain makanan harus halal juga al-Thayyib. Kenapa al-Thayyib? Halal menyangkut status hukum makanan tersebut sedangkan al-Thayyib terkait kualitas kebaikan yang akan ditimbulkan makanan tersebut baik secara jasmani maupun secara ruhani.

Banyak makanan Halal tapi belum tentu al-Thayyib karena bisa merusak kesehatan atau justru menimbulkan sifat serakah atau kemalasan.

Al-Qur'an menegaskan :

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

"Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata." (QS Al-Baqarah [2]: 168)

Kata al-Thayyib berasal dari akar kata Taba yang berarti “menjadi baik, bersih, menyenangkan, atau murni.” Dalam pengalaman manusia, sesuatu yang Thayyib bukan sekadar benar menurut hukum, tetapi juga menenteramkan jiwa dan menumbuhkan kehidupan. Karena itu, al-Qur’an menggunakan kata ini dalam banyak konteks: makanan (al-Thayyibāt), kehidupan (Hayātan Thayyibah), kata-kata (Kalimah al-Thayyibah), bahkan tanah yang subur (Balad al-Thayyib).

Dari kebersihan kehidupan dan makanan yang baik dan berkualitas maka muncullah kehidupan yang baik.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

"Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik (al-Thayyib) dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan." (QS An-Naḥl [16]: 97)

Kehidupan yang al-Thayyib adalah kehidupan yang memiliki kedamaian batin, keseimbangan, dan rasa makna yang mendalam. Hal ini muncul dari keimanan, keikhlasan dan keterhubungan ruhaniah dengan Allah SWT

Hal ini secara khusus kita dapati pada metafora yang sangat indah:

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ

"Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah ṭayyibah; (Perumpamaannya) seperti pohon yang baik, akarnya kuat, cabangnya (menjulang) ke langit," (QS Ibrāhīm [14]: 24)

Sehingga kebaikan dalam makna al-Thayyib adalah kebaikan yang mengakar pada keimanan dan ketulusan hati serta mengupakayan kehidupan yang bersih dari beragam kejelekan dan memberikan efek yang baik.

Kebaikan yang dikerjakan sekedar untuk menjalankan kewajiban tidaklah di anggap Thayyib tapi kebaikan yang dilakukan dengan memaksimalkan potensi kebaikan tersebut yang demikianlah yang disebut Al-Thayyib.

Pada akhirnya, al-Thayyib adalah semangat al-Qur’an agar manusia tidak hanya mencari yang diperbolehkan, tetapi juga memilih yang terbaik, yang paling murni, dan yang paling memberi kehidupan.

Di sanalah kebaikan menemukan maknanya yang paling dalam: bukan sekadar kewajiban moral, tetapi jalan menuju kehidupan yang penuh keberkahan dan kedamaian. ***