KENAPA KITA YANG PENUH KELEMAHAN INI JUSTRU DIPERINTAHKAN UNTUK MENDOAKAN NABI YANG SUCI DENGAN BERSHALAWAT?
Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang kita ucapkan sebagai manusia yang fakir, bukanlah pemberian kepada Nabi, melainkan pengakuan kebutuhan kita sendiri akan rahmat Allah yang mengalir melalui beliau.
KHAZANAH
Dr Haidar Bagir
2/25/20261 min read


Shalawat kepada Nabi yang kita ucapkan sebagai manusia yang fakir bukanlah pemberian kepada Nabi, melainkan pengakuan kebutuhan kita sendiri akan rahmat Allah yang mengalir melalui beliau.
Nabi Muhammad saw. dipahami dalam tradisi spiritual Islam sebagai insān kāmil — manusia sempurna yang menjadi cermin paling jernih bagi tajallī (penampakan) sifat-sifat Ilahi dalam kemanusiaan. Karena itu, bershalawat bukanlah tindakan memberi sesuatu kepada beliau yang telah paripurna, melainkan sebagai cara kita mengarahkan diri kepada sumber cahaya yang dipantulkan melalui dirinya.
Secara bahasa, ṣalāt mengandung makna doa, rahmat, dan pujian. Ketika dinisbatkan kepada Allah, shalawat berarti limpahan rahmat dan pemuliaan; ketika dari malaikat, ia berarti doa dan permohonan ampun; dan ketika dari manusia, ia berarti permohonan agar Allah melimpahkan rahmat dan kemuliaan kepada Nabi.
Dengan demikian, shalawat kita bukanlah pemberian kepada beliau, melainkan doa yang menghubungkan kita dengan rahmat Ilahi yang melingkupi beliau.
Manusia berada dalam keadaan faqr , ketergantungan ontologis kepada Tuhan. Kita tidak memiliki cahaya dari diri kita sendiri; kesadaran kita mudah tertutup oleh ego, keterikatan, dan ilusi kemandirian. Ketika kita bershalawat, sesungguhnya kita sedang membuka diri terhadap arus rahmat yang telah Allah limpahkan melalui beliau. Bukankah beliau adalah rahmat bagi semesta.
Dalam bahasa metaforis para arif, Nabi adalah cermin tajallī Ilahi: sebagai manusia beliau memantulkan sifat-sifat rahmat, kasih, hikmah, dan keindahan Ilahi.
Shalawat adalah cara kita menghadap ke arah cermin itu — bukan untuk menerangi cermin, tetapi agar cahaya yang dipantulkan dapat menyentuh dan menerangi hati kita sendiri.
Dengan demikian, bershalawat bukanlah memberi, melainkan menerima. Ia adalah gerak batin yang menyelaraskan orientasi kesadaran kita dengan rahmat Ilahi, menembus hijab ego, dan memungkinkan hati memantulkan cahaya yang sama sesuai kapasitas masing-masing kita. Ketika kita bershalawat, sesungguhnya kita sedang menyiapkan diri untuk menerima pantulan cahaya tersebut — cahaya yang melembutkan hati, menjernihkan kesadaran, dan menuntun kita kembali kepada sumber asalnya.
Shalawat adalah pengakuan akan kefakiran kita, sarana yang menghubungkan kita dengan sumber kita melalui kekasih-Nya, sekaligus kilasan jalan kembali kepada-Nya. ***
