Konsep Perjuangan Para Imam (1)
Tulisan ini menganalisis konsep perjuangan dan perlawanan terhadap sistem penindas dan kekuasaan yang zalim, dengan berfokus pada posisi, strategi dan sikap politik para Imam Maksum [as]. REDAKSI: tulisan disajikan dalam beberapa bagian agar tidak "terasa" panjang saat dibaca.
PENDIDIKAN
Sayyid Ali Khamenei
2/11/20265 min read


Teladan Kehidupan
Bagi mukminin, mempelajari sejarah kehidupan para Imam Maksum adalah kemestian, namun bukan hanya sebagai "kenangan yang mulia dan berharga", melainkan juga sebagai "teladan, tuntunan dan pelajaran"; yang keteladanan itu tidak mungkin dilaksanakan tanpa memerhatikan sungguh-sungguh kepada ajaran dan strategi politik yang mereka bangun.
Saya mengenal para Imam maksum sebagai tokoh-tokoh yang berjuang di jalan kemuliaan “Tauhid” dan berbakti untuk pembentukan pemerintahan Ilahi. Meski ada kesan perbedaan—yang itu superfisial—dalam sepak terjang para tokoh mulia tersebut—namun sebenarnya, masing-masing mereka berupaya memberikan landasan dan perataan jalan bagi Imam setelahnya. Sehingga, terbentuklah gerakan berkesinambungan, yang dimulai pada 11 H sampai 250 H, dan berakhir di 260 H—sebagai titik mula kegaiban kecil Imam Mahdi—semoga Allah mempercepat kemunculannya.
Para tokoh mulia dan terhormat itu melaksanakan tugas mereka seperti sebuah kepribadian tunggal, mengikuti tujuan tunggal menuju arah yang tunggal. Karena itu, sebagai ganti dari mempelajari kehidupan tiap Imam Maksum secara individual, kita harus melihat mereka sebagai sosok yang hidup selama 250 tahun, yang melakukan gerakan sejak 11 Hijriah dan melanjutkannya sampai 260 Hijriah. Pendekatan ini akan mencegah kesimpulan yang salah atas perbedaan dangkal dalam perintah-perintah para Imam—yang terkadang bahkan tampak bertentangan.
Setiap orang yang bijaksana, cerdas, bahkan meski tidak maksum, akan memiliki taktik dan sikap “situasional” dalam sebuah gerakan jangka panjang. Ia mungkin bergerak cepat pada sebagian kesempatan, sementara di kesempatan lain bergerak perlahan; bahkan tampak mundur, yang bagi mereka yang menyadari pengetahuan, kecerdasan dan gerakan berorientasi-tujuan, menganggap penarikan taktis tersebut sebagai sebuah langkah maju. Melalui pendekatan seperti ini, kita melihat kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib (as) adalah bagian dari gerakan yang berkesinambungan, yang diikuti oleh Imam Hasan Mujtaba (as), Imam Husain (as) dan delapan Imam lainnya sampai 260 Hijriah.
Dengan mempelajari kehidupan figur-figur mulia tersebut dalam kerangka satu kesatuan, semakin terbukti benar bahwa gerakan mereka merupakan gerak kesinambungan yang tak terpisahkan dari Imam Pertama hingga Imam Terakhir.
Perjuangan Politik yang Kuat
Fakta yang ada menunjukkan bahwa kehidupan Ahlulbait Rasulullah saw yang disucikan selalu berorientasi politik. Pertanyaan pertama yang akan dibahas dalam hal ini adalah: Bagaimanakah perjuangan politik dalam kehidupan para Imam Maksum [as]? Artinya, perjuangan yang diluncurkan para Imam Maksum sejatinya tidak hanya terbatas pada perjuangan ilmiah, intelektual atau teologis.
Berlawanan dengan yang dikerjakan oleh elite sekte-sekte seperti Mu’tazilah dan Asy’ariyah, tujuan para Imam dalam menyelenggarakan sesi-sesi pendidikan dan pengajaran, debat-debat, diskusi-diskusi, pelajaran berkelompok (klasikal), juga periwayatan hadis dan penuturan cerita atau riwayat, serta pengajaran doktrin dan perintah Islam, bukanlah untuk mengonfirmasi pendirian dan sikap mazhab pemikiran teologis mereka. Perjuangan mereka juga bukan pergerakan bersenjata. Perjuangan mereka tidaklah sama dengan apa yang dilakukan oleh Zaid bin Ali dan penyokong serta penerusnya, juga tidak seperti yang dilakukan Bani al-Hassan, atau pun perjuangan yang diupayakan oleh sebagian anggota keluarga Ja’far dan yang. Dengan kata lain, perjuangan para Imam Maksum memiliki ciri yang khas.
Riwayat berikut, yang dinisbatkan pada Imam Ja’far Shadiq [as], adalah satu contoh yang mendukung pemikiran ini: “Aku ingin para pejuang dari keturunan Muhammad saw bangkit; dalam hal ini aku akan membantu keperluan finansial untuk menjalankan rumah tangga mereka (bantuan keuangan, perlindungan kehormatan, memberi akomodasi, menyediakan persembunyian dan jalan keluar bagi mereka dan lain sebagainya)” (Bihar al-Anwar, Vol. 46, h. 172, Hadis ke-2). Tetapi, Imam sendiri tidak memulai dan juga tidak bergabung dengan perjuangan bersenjata mereka.
Tujuan Perjuangan Para Imam
Perjuangan politik bukanlah sebuah perdebatan teologis, juga bukan perjuangan bersenjata, melainkan perjuangan dengan tujuan politik. Lalu, apakah tujuan politik dari perjuangan ini? Tujuannya adalah pembentukan sebuah Pemerintahan Islam atau Pemerintah Alawi (pemerintahan seperti pemerintahan Imam Ali bin Abi Thalib as).
Sejak wafat Rasulullah saw sampai 260 Hijriah, para Imam berusaha membentuk sebuah pemerintahan Ilahi dalam masyarakat Islam. Inilah pendirian utama mereka. Meski demikian, hal itu bukan berarti bahwa setiap Imam berusaha mendirikan pemerintahan Islam di masa keimamannya sendiri. Mereka punya visi dalam memanfaatkan peluang untuk jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek guna menyempurnakan tujuan ini.
Jawaban Imam al-Mujtaba [as] terhadap pertanyaan orang-orang seperti Musayib dan Ibnu Najbah, yang menanyakan tentang sikap diamnya, menunjukkan hal tersebut. Imam Hasan menyatakan kepada mereka: “Kami tidak tahu, mungkin hal ini menjadi ujian bagi kalian dan sebuah janji untuk masa depan.” Sementara perjuangan Imam Ali al-Sajjad [as], menurut saya, direncanakan sedemikian rupa untuk mencapai tujuan dengan hitungan jangka menengah.
Ada beberapa petunjuk dan bukti tertentu yang menggarisbawahi masalah ini. Yang paling mungkin ialah pada perjuangan Imam Muhammad Baqir, yang tampak dirancang untuk suatu tujuan dalam jangka pendek. Kita juga bisa menandai, bahwa setelah kesyahidan Imam Kedelapan, perjuangan para Imam bertujuan untuk mencapai tujuan jangka panjang mereka. Singkatnya, meskipun perihal mendirikan pemerintahan Islam bervariasi dari waktu ke waktu, upaya pewujudannya selalu hadir dalam setiap langkah perjuangan setiap Imam.
Selain aktivitas spiritual para Imam yang terkait dengan kesempurnaan diri dan kedekatan kepada Allah, kegiatan lain mereka, seperti pengajaran, budaya, teologi, debat-debat dengan para pendebat, dukungan atau penolakan dari kelompok-kelompok tertentu dan lain-lain, semuanya diarahkan pada tujuan pembentukan pemerintahan Islam.
Memang, masalah ini telah—dan akan tetap—menjadi kontroversial; dan saya sama sekali tidak menuntut bahwa pemahaman saya tentang masalah ini harus diterima. Tetapi, penting bagi kita untuk melihat tanda-tanda ini dengan menelusurinya secara hati-hati; dan perspektif ini penting digunakan ketika meneliti sejarah kehidupan para Imam, dengan proporsional dan rasional—baik dalam satu rangkai kehidupan yang berkesinambungan (satu kesatuan), dan/atau kehidupan individu tiap-tiap Imam.
Tentu saja, sebagian bukti merupakan hal yang memang umum dipahami. Misalnya, kita tahu benar bahwa Imamah (kepemimpinan Islam) adalah kelanjutan dari Kenabian (Nubuwwah), dan bahwa Nabi saw adalah seorang Imam juga. Imam Ja’far Shadiq (as) menyatakan: “Sesungguhnya, Nabi Muhammad saw adalah seorang Imam …” Rasulullah saw bangkit untuk mendirikan sebuah sistem yang didasarkan pada ajaran Ilahi dan keadilan, melalui perjuangannya yang berkelanjutan. Beliau menjaga dan melindungi sistem itu selama hidupnya. Karena itu, Imam, yang kepemimpinannya adalah kelanjutan dari kepemimpinan Nabi saw, tidak pernah mengabaikan sistem yang telah didirikan oleh Nabi saw.
Ini adalah argumen umum, yang dapat diikuti melalui diskusi panjang dan kehati-hatian terhadap berbagai aspeknya. Beberapa argumen lain dapat disimpulkan dari keterangan para Imam, atau didasarkan pada ajaran dan gaya hidup mereka. Bahkan, studi menyeluruh terhadap kondisi-kondisi yang berlaku—dan diberlakukan—pada masa para Imam akan sangat membantu memahami gerak mereka.
Kegigihan perjuangan Imam Musa Kazhim (Imam ketujuh Syi’ah), misalnya, sangat membantu kita memahami cara pandang yang ditawarkan di sini. Imam Musa menyatakan: “[Inilah] orang yang disiksa di kedalaman sel penjara dan kegelapan ruang bawah tanah dan kedua kakinya terluka oleh gigitan rantai belenggu” (Bihar al-Anwar, Vol. 102, h. 17). Keteguhannya dalam berupaya mewujudkan sistem yang adil di dalam masyarakat Islam membawanya pada siksaan penjara yang memukau.
Sifat Perjuangan Imam
Sifat perjuangan para Imam bukanlah dalam perdebatan teologis dan perjuangan bersenjata. Mereka yang mengenal sejarah tentang abad kedua Hijriah, dan yang telah mempelajari kegiatan Dinasti Abbasiyah (Bani Abbas) sebelum abad pertama Hijriah sampai 132 Hijriah, ketika mereka berkuasa, dapat melihat perjuangan politik Imam yang sengit dibandingkan dengan sepak terjang orang-orang Abbasiyah selama periode ini.
Tentu saja, perbandingan ini tidak akan jelas dan mengesankan bagi mereka yang belum mempelajari perjuangan Bani Abbas dan metode-metode yang mereka lakukan. Bentuk kegiatan dan ciri-ciri perjuangan yang tampak di permukaan sepertinya serupa. Karena itu, kita mengamati bahwa kadang-kadang dua arus perjuangan itu bercampur, disebabkan oleh kesamaan metode, propaganda dan seruan mereka. Namun, sebenarnya, terdapat perbedaan esensial dalam tujuan, sasaran, metode dan kepribadian mereka. Di tempat-tempat seperti Hijaz dan Irak, kalangan Abbasiyah berpura-pura menjadi pengikut Keluarga Ali bin Abi Thalib [as].
Seperti mengikuti gaya “Musawwaddah”, yakni biasa mengenakan pakaian [kemeja] “hitam”, dilakukan pula oleh Abbasiyah dalam perjuangannya di Khurasan dan Ray. Mereka biasanya memberitahu kepada masyarakat dengan menyatakan: “Kemeja hitam ini menandai kebergabungan kami untuk para martir Karbala, Zaid, dan Yahya" (Bihar al-Anwar, Vol. 42, h. 61). Beberapa pemimpin mereka bahkan membayangkan bahwa mereka bekerja untuk keluarga Ali bin Abi Thalib [as].
Para Imam meluncurkan gerakan seperti itu, tetapi dengan tanda berbeda dalam tiga hal: tujuan, metode dan kepribadian mereka. Watak dan makna perjuangan politik Imam Maksum sangat khas. Karena itu, di sini, perlu untuk menggambarkan garis besar perjuangan para Imam Maksum dan kemudian membahas beberapa ciri, sifat dan wajah perjuangan mereka. (bersambung)
SUMBER artikel: Jurnal Bayan. Vol.VI, No.3, Tahun 2017.
