Konsep Perjuangan Para Imam (3)

Para ulama besar zaman itu biasa belajar di majelis-majelis Imam al-Baqir. Ketika seorang tokoh terkenal seperti Ikrimah, murid Ibnu Abbas, memutuskan menghadiri majelis Imam al-Baqir untuk mendengarkan riwayat-riwayatnya, Ikrimah gemetar.

PENDIDIKAN

Sayyid Ali Khamenei

2/13/20267 min read

Era Imam Muhammad Baqir

Selama kehidupan Imam Muhammad Baqir [as], garis yang sama berlanjut. Pada era ini, situasi semakin baik sampai batas tertentu. Juga, selama periode ini, penekanan terutama diletakkan pada pengajaran Islam sejati. Pertama-tama, kelalaian dan ketiadaan respek orang-orang terhadap keturunan Nabi Muhammad saw yang terjadi sebelumnya mulai terkikis. Ketika Imam al-Baqir memasuki masjid, ada kelompok-kelompok orang yang selalu mengikuti demi mendengarkan pengajarannya.

Seorang perawi menyatakan: “Aku melihat Imam al-Baqir [as] dikelilingi oleh orang-orang dari Khurasan dan tempat-tempat lain di masjid Madinah.” Ada riwayat lain menuturkan: “Ia [Imam al-Baqir] dikelilingi oleh sekelompok orang dari Khurasan. Imam sedang membahas tentang masalah halal dan haram bersama mereka.” Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat di dunia Islam tertarik kepada keturunan Nabi saw pada periode ini.

Para ulama besar zaman itu biasa belajar di majelis-majelis Imam al-Baqir. Ketika seorang tokoh terkenal seperti Ikrimah, murid Ibnu Abbas, memutuskan menghadiri majelis Imam al-Baqir untuk mendengarkan riwayat-riwayatnya, Ikrimah gemetar. Ikrimah—mengalamatkan kepada Imam al-Baqir—berkata: Aku pernah menghadiri majelis-majelis orang besar seperti Ibnu Abbas dan mendengarkan riwayat-riwayat mereka, tetapi aku tidak pernah gemetar seperti ketika aku datang kepadamu. Menjawab pengakuan itu, Imam al-Baqir dengan sangat jelas menjawab: Celaka engkau, hai budak kecil orang-orang Damsyik; engkau berada di depan seorang anggota dari Rumah tempat mengingat nama Allah di dalamnya [menggunakan bagian sebuah ayat al-Qur’an] (Bihar Al-Anwar, Vol.46, h.257, hadis ke 59).

Juga, salah seorang faqih dan ulama besar zaman itu, Abu Hanifah, datang kepada Imam al-Baqir [as] untuk belajar Islam. Banyak pelajar agama dan ulama terkenal lain yang menjadi murid Imam al-Baqir. Ajaran dan wasiat Imam Baqir menjadi terkenal di setiap sudut dan celah, memperkenalkan dia sebagai Baqir al-Ulum (sang pembabar Ilmu).

Karena itu, kondisi sosial dan sikap masyarakat terhadap Imam Maksum banyak berubah selama masa Imam al-Baqir [as]. Sebagai hasilnya, gerakan politik Imam Muhammad Baqir memperoleh momentum lebih baik. Misalnya, Imam al-Sajjad [as] tidak mengambil sikap keras terhadap Abdul Malik untuk tidak memberi mereka dalih apa pun memusuhinya dia. Tentu saja, kapan pun Abdul Malik menulis surat kepada Imam Sajjad, ia menjawabnya dengan tegas, logis dan meyakinkan. Namun, tidak ada kata-kata yang langsung, bermusuhan dalam suratnya. Sebaliknya, situasinya berbeda terkait dengan Imam al-Baqir.

Sebenarnya, gerakan Imam al-Baqir begitu kuat, sehingga Hisham bin Abdul Malik ketakutan dan berusaha mengontrol Imam dengan membawanya ke Damaskus (Syam). Sebelumnya, Imam al-Sajjad juga pernah dibawa ke Damaskus, dalam keadaan dibelenggu dan diborgol setelah ke-Imamahan-nya dimulai pasca tragedi Karbala. Tetapi situasinya berbeda, Imam Ali al-Sajjad selalu bertindak hati-hati, sementara reaksi Imam al-Baqir lebih keras.

Dalam sejumlah riwayat, yang dikutip dari diskusi-diskusi dengan para sahabatnya, Imam al-Baqir [as] telah menyeru mereka untuk mendirikan pemerintahan, Kekhalifahan, dan Keimamatan, bahkan dijanjikan kemenangan masa depan. Salah satunya dikutip dalam Bihar al-Anwar:

Sejumlah besar orang telah berkumpul di kediaman yang mulia Abi Ja‘far (Imam Muhammad Baqir as). Seorang pria tua bersandar pada tongkat, memberi hormat, lalu mengungkapkan perasaan cintanya kepada Imam dan duduk di sampingnya, berkata: “Demi Allah, dengan setulus cinta, aku sepenuhnya mencintaimu dan juga mencintai orang-orang yang mengasihimu. Tetapi cinta ini tidak timbul dari keserakahan meraih materi apa pun. Aku memusuhi musuhmu dan membenci mereka. Demikian pula, pembebasanku dari musuhmu tidak didasarkan pada dendam pribadi terhadap mereka. Demi Allah, aku menganggap halal apa yang telah engkau umumkan halal, dan menganggap haram apa yang engkau putuskan haram. Aku menunggu perintahmu. Apakah engkau optimis bahwa aku akan melihat hari-hari kemenanganmu itu? Aku menunggu “Pemerintahan” (Amr)-mu; aku menunggu datangnya kekuasaanmu" (Bihar al-Anwar, Vol. 46, h. 362, Hadis ke-3).

Kata “amr” dan “amrokom” dalam literatur dari periode itu—apakah diatributkan pada Imam Maksum atau pada penentang mereka—merujuk pada “Pemerintahan”. Contohnya, Harun dalam surat/wasiat kepada anaknya, Mamun, menulis: “Demi Allah jika kamu menolakku atas Pemerintahan ini…”. Dalam pernyataan ini, “Pemerintahan” (amr) merujuk pada “khalifah dan Imamah”. Karena itu, kami menunggu “pemerintahan”mu berarti: “Kami menunggu kekhalifahanmu.” Pertanyaan dari lelaki tua itu adalah: Apakah engkau optimis bahwa aku segera melihat hari-hari ketika engkau memegang tampuk kekuasaan? Dalam menjawab pertanyaan itu, Abu Ja‘far meminta lelaki tua itu duduk di sebelahnya, lalu berkata: “Duhai paku tua, pertanyaan sama juga diajukan kepada Ali bin al-Husain (Imam al-Sajjad as).”

Tetapi, kita tidak pernah melihat pernyataan ini dalam hadis-hadis yang dinisbatkan pada Imam Ali Zainal Abidin as. Karena itu, jika Imam al-Sajjad sudah membuat pernyataan ini dalam suatu pertemuan besar, hal itu akan sampai pada kita dan yang lain juga. Yang paling mungkin, Imam Sajjad menyampaikannya secara rahasia, sementara Imam al-Baqir mengatakannya secara terbuka. Jawaban Imam Baqir atas pertanyaan Pak Tua itu adalah: “Tunjukkanlah karakteristik dan akhlakmu, jika engkau meninggal, engkau akan bergabung dengan Rasulullah saw, Imam Ali, Imam Hasan, Imam Husain dan Imam Sajjad—salam atas mereka. Engkau akan digelarkan, jiwamu akan mencapai keselamatan, matamu akan melihat cahaya sejati, dan engkau akan dilapangkan dengan ucapan salam dan bunga-bunga dari malaikat Allah Swt. Jika engkau masih hidup, engkau akan menyaksikan sebuah periode yang akan membawa kenyamanan padamu ketika kamu bersama-sama dengan kami dalam posisi yang tinggi” (Bihar al-Anwar, Vol. 46, h. 362, Hadis ke-3).

Pernyataan seperti ini ditemukan dalam kata-kata Imam al-Baqir (as), menunjukkan usahanya untuk mengangkat harapan di hati para pengikutnya: “Jika kamu meninggal, kamu akan bersama Rasulullah saw dan wali-wali Allah, dan jika kamu masih hidup, kamu akan bersama kami.”

Dalam hadis lain, dikutip dalam kitab al-Kafi, Imam menentukan waktu untuk kebangkitan [merebut kekuasaan]:

“Yang Mahakuasa menakdirkan pada 70 Hijriah untuk pembentukan sebuah pemerintahan Alawi. Kesyahidan Imam Husain [as] merupakan pelanggaran hukum terbesar sehingga Yang Mahakuasa menundanya sampai 140 Hijriah. Kami menginformasikan pada kalian tentang moratorium ini, kalian mengeksposenya dan karena itu Allah tidak mengatakan kepada kami tentang waktu pastinya. Ketika Allah memutuskan, Dia yang membangkitkan atau menenggelamkan dan Kitab Tertulis di sisi-Nya.”

Tahun 140 H menandai tahap akhir kehidupan Imam Ja‘far Shadiq. Sebelum saya menemukan hadis ini, dengan mempelajari tren kehidupan para Imam Maksum, saya menyadari tentang jalan dan apa yang dikerjakan Imam Sajjad dan Imam Baqir, yakni jalan yang telah ditata untuk pembentukan sebuah pemerintahan selama waktu Imam al-Shadiq [as]. Imam Ja‘far Shadiq menemui kesyahidan pada 148 Hijriah; dan janji Allah menunjukkan bahwa pemerintah Alawi akan dibentuk pada 140 H.

Sebelum 140 H, ada insiden krusial pada 135 H, ketika Manshur memegang tampuk kekuasaan. Apabila Manshur tidak memegang kekuasaan atau masalah Abbasiyah tidak muncul ke permukaan, ketentuan Ilahi telah mentahbiskan pendirian pemerintahan Islam pada 140 H. Apakah para Imam Maksum mengetahui tentang takdir Ilahi itu atau mereka sendiri juga penuh pengharapan akan pendirian sebuah pemerintahan, adalah isu lain yang memerlukan ruang diskusi berbeda.

Sekarang saya sedang membahas tentang situasi selama masa Imam Baqir [as]. Ia menekankan bahwa pendirian pemerintahan Ilahi telah ditahbiskan pada 140 H. Ia juga menyatakan bahwa setelah ia mengungkapkan (membuka rahasia) waktu kepada para sahabatnya, mereka mengeksposenya, dan karena itulah Allah Swt menundanya. Bangkitnya harapan pada masyarakat dan disampaikannya janji seperti itu terjadi selama masa Imam al-Baqir [as].

Tentu saja, perlu berjam-jam untuk mendiskusikan kehidupan Imam Baqir, untuk memberikan gambaran jelas tentang kehidupannya. Saya sudah mendiskusikan masalah ini secara detail. Meskipun tidak dengan perjuangan bersenjata, secara keseluruhan, perjuangan politik terasa lebih transparan di masa hidup Imam Baqir. Zaid bin Ali, saudara Imam Muhammad Baqir, berkonsultasi padanya tentang menggerakkan sebuah kebangkitan (pemberontakan).

Imam al-Baqir berkata, “Jangan memberontak!” Zaid mematuhinya. Mereka yang berpendapat bahwa Zaid tidak mendengarkan nasihat saudaranya adalah keliru. Zaid berkonsultasi dengan Imam al-Shadiq tentang mengadakan pemberontakan. Imam bukan hanya tidak menghentikannya, tapi sebaliknya, menyokongnya. Setelah kesyahidan Zaid, Imam al-Shadiq berkata: “Saya berharap saya berada di antara sahabat-sahabat Zaid.” Karena itu, Zaid jangan sampai tidak dihormati.

Imam Baqir [as] tidak pernah menyetujui gerakan bersenjata, tetapi perjuangan politik secara jelas muncul dalam langkah perjuangannya, sementara selama Imam Sajjad [as] tidak ada jejak perjuangan secara terbuka.

Ketika Imam Baqir [as] mendekati akhir hidupnya, ia melanjutkan perjuangan dengan rekomendasinya untuk melakukan upacara berkabung atas kesyahidannya di tanah suci “Mina” dekat Mekah. Dalam wasiatnya, ia meminta para pengikutnya untuk terus berkabung atas kematiannya di Mina selama sepuluh tahun.

Apa tujuan berkabung atas kematian Imam Baqir di Mina itu? Dalam kehidupan para Imam Maksum, hanya perkabungan atas kesyahidan Imam Husain [as], yang secara empati direkomendasikan dalam banyak hadis otentik. Selain kasus Imam Husain, saya hanya mengingat Imam Ali Ridha [as], yang mengumpulkan anggota keluarganya untuk berduka dan menangis atas kepergiannya dari Madinah ke Khurasan (tindakan Imam Ali Ridha ini terjadi sebelum kesyahidannya, dan benar-benar sebuah tindakan politik, penuh makna dan berorientasi tujuan).

Faktanya, selain berkabung untuk Imam Husain dan Imam Ali Ridha, Imam Baqir merekomendasikan untuk menangisi dan berduka atas kesyahidannya. Ia bahkan menyediakan 800 dirham dari kekayaannya untuk perkabungan kematiannya di Mina. Tanah Mina berbeda dari tanah suci lain, seperti Arafat, Mash’ar dan bahkan Mekkah.

Di Mekkah, orang-orang bercerai-berai dan semua orang sibuk dengan ritualnya sendiri. Di Arafah, ritual dilakukan hanya setengah hari. Ketika para peziarah tiba di Arafah di pagi hari, mereka lelah, dan pada sore hari mereka terburu-buru meninggalkan Arafah menuju Mash’ar. Di Mash’ar, mereka tinggal hanya beberapa jam semalam; itu adalah bagian menuju Mina, sementara di Mina mereka tinggal selama tiga hari berturut-turut.

Sangat sedikit orang pergi ke Mekkah pada siang hari dan mereka kembali pada malam hari; sementara, mereka tinggal di Mina selama tiga hari. Bahkan, ribuan Muslim dari seluruh dunia berkumpul di Mina selama tiga hari. Karena itu, Mina adalah tempat yang cocok untuk penyiaran. Setiap pesan yang menjangkau dunia Islam harus ditanamkan di sana, terutama selama hari-hari ketika media massa seperti radio, televisi, dan koran tidak ada. Ketika ada sebuah kelompok yang berkabung untuk cucu Nabi saw, orang-orang pun menjadi penasaran dan ingin tahu alasannya.

Biasanya, orang tidak akan berkabung untuk setiap yang mati sampai beberapa tahun. Tetapi ketika orang-orang berkabung atas kematian seseorang selama beberapa tahun berturut-turut, sejumlah pertanyaan pun akan muncul ke permukaan: Apakah ia telah ditindas? Apakah ia telah dibunuh? Siapa yang menindasnya? Mengapa dia dizalimi dan ditindas? Beberapa pertanyaan serupa muncul ke permukaan. Ini adalah perjuangan yang sangat politis, gerakan yang diperhitungkan dan tepat.

Hal menarik dalam kehidupan Imam Baqir yang menyedot perhatian saya, yaitu, ia menggunakan argumen-argumen yang sama tentang Khilafah seperti yang digunakan oleh Ahlulbait Muhammad saw selama paruh pertama dari abad pertama.

Ringkasan dari argumen ini adalah: “Orang-orang Arab membanggakan diri pada non-Arab tentang Nabi saw, orang Quraisy membanggakan diri pada non-Quraisy tentang Nabi (karena Nabi saw menjadi milik suku Quraisy); jika pembanggakan diri ini benar, kita adalah orang-orang yang paling dekat dengan Nabi saw, kita unggul daripada orang lain, tapi risolasi dan orang lain menganggap diri mereka pewaris tahtanya. Jika Nabi saw adalah sumber bagi para Quraisy membanggakan diri di hadapan orang lain, jika beliau saw adalah sumber bagi orang-orang Arab membanggakan diri pada non-Arab, maka, hal ini adalah sumber untuk keunggulan kita atas yang lain.”

Argumen ini muncul lagi dan lagi diteruskan oleh Ahlulbait (keluarga atau keturunan Nabi saw yang suci) pada abad pertama. Imam Baqir (as) juga, pada 95 dan 114 H, yang merupakan era Imamahnya, mengucapkan kata-kata ini. Ini adalah debat yang ditujukan pada kekhalifahan, yang merupakan langkah bermakna. (bersambung)

SUMBER artikel: Jurnal Bayan. Vol. VI. No.3, Tahun 2017.