Konsep Perjuangan Para Imam (4)
Beberapa riwayat menunjukkan bahwa terkadang Imam bergerak di bawah tanah dan melakukan kehidupan tersembunyi untuk menyelamatkan hidupnya dari agen-agen pemerintah yang berkuasa.
PENDIDIKAN
Sayyid Ali Khamenei
2/16/20265 min read
Era Imam Ja‘far Shadiq
Era Imam Baqir [as] berakhir dan Imamah Imam Shadiq (as) mulai pada 114 H hingga 148 H. Era Imam Shadiq dapat dibagi ke dalam dua tahap: pertama, mulai 114 H sampai 132 atau 135 H., era ketika atmosfer politik cukup leluasa dan terbuka. Masa ini berlanjut sampai munculnya kekhalifahan Abbasiyah atau naiknya Khalifah Manshur.
Selama periode pertama ini, disebabkan adanya pertikaian di dalam keluarga Umayyah sendiri, para Imam Maksum menemukan kesempatan untuk menyampaikan ajaran-ajaran Syiah. Suasana seperti itu belum ada pada era Imam al-Baqir, yang ketika itu justru merupakan masa kejayaan Umayyah, dan Hisyam bin Abdul Malik—pribadi terbesar dari Bani Umayyah setelah Abdul Malik, menjadi penguasa.
Karena itu, tidak ada pertikaian pada kelompok yang berkuasa sehingga Imam Baqir [as] bisa memperoleh kesempatan yang menguntungkan. Perang saudara dan bentrokan politik terjadi pada tahun-tahun awal era Imam Shadiq ketika seruan Abbasiyah secara bertahap mulai menyebar. Pada saat yang sama, kesempatan itu juga merupakan puncak seruan Syi’ah Alawi di seluruh dunia.
Ketika Imam Shadiq memulai Imamahnya, ada sejumlah permusuhan internal dan perang sipil di dunia Islam; seperti di Afrika, Khurasan, Fars, Mesopotamia dan tempat-tempat lain; dan Umayyah menghadapi masalah besar. Tiga tugas Imam Sajjad—yang telah disebutkan di atas—telah dilakukan, yaitu, menyampaikan ajaran Islam, menjelaskan isu Imamah dan mengumumkan ke-Imamah-an Keturunan Nabi saw yang suci (Ahlulbait as), menjadi sangat transparan ketika era Imam al-Shadiq (as).
Misalnya, Amr bin Abi Miqdam menuturkan: “Saya melihat Imam Shadiq (as) berdiri di tengah khalayak di Arafah pada hari Arafah ketika musim haji. Menyampaikan pesan pada orang-orang di depannya, kemudian di sisi kanannya, lalu di kirinya, dan di belakangnya. Ia mengulang kalimat berikut pada setiap sisi sebanyak tiga kali: Sesungguhnya, Rasulullah adalah Imam, setelah beliau Imamnya adalah Ali bin Abi Thalib, setelahnya adalah Hasan, lalu Husain, kemudian Ali bin Husain (al-Sajjad), setelah dia adalah Muhammad bin Ali, dan setelahnya, akulah Imam[nya].” Imam Shadiq mengulang kalimat ini dua belas kali.
Ingatlah bahwa menggunakan kata “Imam” itu sangat sensitif, karena hal itu berarti mempersoalkan legitimasi atas para khalifah yang telah dan sedang berkuasa.
Riwayat lain menyatakan: “Seseorang datang dari Kufah ke Khurasan mengundang orang-orang untuk menerima kekuasaan dan pemerintahan (Wilayah) Imam Ja‘far bin Muhammad (Imam al-Shadiq as).”
Ketika para sahabat Imam Shadiq pergi ke berbagai bagian negara Islam dan mengundang orang-orang untuk menerima pemerintahannya, apakah arti tindakan tersebut? Tidakkah itu berarti bahwa waktu yang dijanjikan telah datang? Saat itu mendekati 140 Hijriah, yang disebutkan sebelumnya. Situasi ini diciptakan sebagai konsekuensi alami dari pergerakan para Imam, yakni mengabarkan pembentukan pemerintahan Islam.
Hari ini, kita memahami konsep “Wilayah” sangat baik. Sebelumnya, Wilayah ditafsirkan sebagai sebatas simpati dan cinta. Orang diundang untuk menerima Wilayah Ja‘far bin Muhammad (as). Jika Wilayah ditafsirkan sebagai cinta maka tidak perlu mengundang orang-orang untuk menerima cinta Ja‘far bin Muhammad.
Lebih lagi, kalau kita menafsirkan Wilayah sebagai cinta, maka bagian kedua dari riwayat yang disebutkan di atas tidak masuk akal. Perhatikanlah bagian kedua dari riwayat itu: “Satu kelompok menerima dan mematuhi Wilayah Imam al-Shadiq (Ja‘far bin Muhammad as), dan kelompok lain menolaknya.”
Siapa yang bisa menolak cinta untuk Ahlulbait Nabi saw di dunia Islam? Kelanjutan riwayat itu menyatakan, “Namun, kelompok lain menyatakan keberatan, dan menunjukkan pembatasan untuk ‘Wilayah’ ini.” Keberatan dan pembatasan tidak cocok dengan cinta. Hal ini menunjukkan bahwa “Wilayah” berarti sesuatu yang lain; yakni, berarti pemerintah dan aturan. Kemudian beberapa dari mereka mendatangi Imam dan membahas masalah tersebut. Dialamatkan kepada mereka yang menyatakan keberatan, Imam mengatakan, “Dalam hal wilayah, engkau berpura-pura menjadi konservatif dan menunjukkan keberatan, namun, jika engkau bersikap konservatif begitu, mengapa engkau melakukan dosa ini dan itu di sisi sungai ini dan itu pada hari ini dan itu?” Ini jelas menunjukkan bahwa Imam membenarkan orang yang mengundang masyarakat Khurasan, atau mungkin dia pernah menjadi utusan Imam.
Imam Ja‘far Shadiq [as] selama Era Manshur
Apa yang dibahas di atas berkaitan dengan tahap pertama kehidupan Imam Shadiq. Ada sejumlah petunjuk yang menyatakan perkembangan yang terjadi di periode ini. Tahap kedua dimulai ketika Manshur memegang tampuk kekuasaan. Setelah Manshur berkuasa, pembatasan dan represi diberlakukan dan kondisi pun menjadi seperti di era Imam Baqir. Berbagai tekanan ditimpakan kepada Imam Shadiq, yang sering diasingkan ke Hireh, Vaset, Romailah dan tempat lain.
Ia juga dipanggil beberapa kali. Khalifah bertindak keterlaluan terhadap Imam dan menegurnya dengan marah. Suatu kali Khalifah berkata, “Semoga Allah membunuhku jika aku tidak membunuhmu” (Bihar al-Anwar, h. 174, Hadis ke-21).
Suatu kali Khalifah meminta penguasa Madinah, “Bakarlah rumah Ja‘far bin Muhammad.” Tetapi Imam bisa melewati api dengan selamat dan melantunkan pernyataan yang menggetarkan: “Aku adalah putra Imam yang perkasa; Aku adalah putra Ibrahim, Khalilullah (yang juga melalui api dengan selamat)" (Bihar al-Anwar, h. 136, Hadis ke-186).
Pernyataan Imam itu membuat frustasi sebagian besar musuh. Konfrontasi antara Imam Shadiq (as) dan Manshur kerap terjadi dengan kasar. Manshur sering mengancam Imam. Memang, ada juga beberapa riwayat yang meriwayatkan bahwa Imam Shadiq menunjukkan kerendahan hati dan lemah-lembut kepada Manshur! Tak diragukan bahwa riwayat seperti itu adalah tidak benar. Saya telah melakukan penelitian tentang itu dan sampai pada kesimpulan bahwa tidak satupun dari riwayat itu yang otentik.
Riwayat-riwayat itu jika ditelusuri sering kembali kepada Rabi‘ Hajeb yang jelas-jelas sosok korup dan sekutu dekat Manshur. Ironisnya, beberapa orang mengatakan bahwa Rabi‘ adalah seorang Syi‘ah dan pecinta Ahlulbait Nabi saw.
Bagaimana bisa Rabi‘ seorang Syi‘ah? Rabi‘ adalah seorang pembantu, yang patuh dan budak Khalifah Manshur. Ia masuk ke pemerintahan Abbasiyah sejak kecil, melayani mereka dan menjadi orang kepercayaan al-Manshur. Ia telah melayani sepenuhnya Bani Abbasiyah dan mencapai pangkat menteri pada pemerintahan Abbasiyah.
Para anggota keluarga Rabi‘ dikenal karena kesetiaan mereka kepada penguasa Abbasiyah. Mereka tidak setia kepada Keturunan Nabi saw sama sekali, dan apa yang Rabi‘ katakan tentang Imam itu semua adalah kebohongan dan karangan. Tujuan dari rekayasa ini adalah untuk memproyeksikan Imam sebagai orang yang menyatakan kerendahan hatinya kepada Khalifah, sehingga orang lain juga menjadi ketakutan dan menaati sang khalifah lalim, al-Manshur. Tetapi, konfrontasi Imam dengan Manshur sangat keras sampai menyebabkan kesyahidan Imam pada 148 H.
Era Imam Musa Kazhim
Kelanjutan dari gerakan umum para Imam selama era Imam Kazhim (Musa bin Ja‘far as) sangat berani dan terbuka. Menurut saya, era ini menandai puncak perjuangan para Imam. Sayangnya, kita tidak punya laporan yang tepat dan iluminatif tentang kehidupan Imam Kazhim.
Ada peristiwa-peristiwa tertentu dalam hidupnya yang menakjubkan. Misalnya, beberapa riwayat menunjukkan bahwa terkadang Imam bergerak di bawah tanah dan melakukan kehidupan tersembunyi untuk menyelamatkan hidupnya dari agen-agen pemerintah yang berkuasa. Meski pemerintahan Harun berusaha mencari dia, mereka tidak bisa menemukan tempat persembunyiannya. Khalifah bahkan menyiksa sejumlah orang untuk mengungkapkan tempat persembunyian Imam. Hal itu belum pernah terjadi sebelumnya.
Ada riwayat lain tentang Imam Kazhim, serupa dengan yang belum kita lihat tentang Imam lainnya. Ibnu Syahr Asyub meriwayatkan hadis dalam Manaqib: “Musa bin Ja‘far tiba di sebuah desa di Damaskus dalam penyamaran saat melarikan diri.” Fakta-fakta itu adalah beberapa percikan kehidupan Imam Musa, yang dapat menjelaskan alasan penahanan yang kerap dilakukan dan penyiksaan terhadapnya oleh penguasa.
Ketika Harun berkuasa, dia pergi ke Madinah dan, seperti yang telah Anda dengar, dia menghargai dan menghormati Imam. Ma’mun meriwayatkan: “Imam Kazhim [as] datang menunggang kuda ketika tiba wilayah pemukiman Harun. Imam memutuskan untuk turun, tetapi Harun berjanji bahwa Imam akan datang ke tempatnya dengan berkuda. Ia menghormati Imam dan berdiskusi dengannya. Ketika Imam hendak pergi, Harun meminta saya [Ma’mun] dan Amin untuk membantu Imam menaiki kudanya.”
Menariknya, menurut riwayat ini, Ma’mun berkata: “Ayahku menghadiahkan 5.000 atau 10.000 dinar atau dirham untuk semua orang, tapi 200 dirham untuk Musa bin Ja‘far.” Hal ini dilakukan setelah ia menanyakan kondisi Imam, dan Imam mengeluhkan tentang kesulitan-kesulitannya, tentang kondisi hidupnya yang keras dan sejumlah besar anak-anaknya.
Pernyataan dan komentar Imam Kazhim as di depan Harun sangat menarik dan dimengerti, terutama bagi mereka yang telah melakukan taqiyyah selama perjuangan di zaman kita. Imam mengatakan kepada orang seperti Harun tentang kondisinya yang tidak baik dan menambahkan bahwa ia dalam kesulitan. Tidak ada kerendahan hati atau kehilangan muka dalam pernyataan Imam tersebut, melainkan hal alami bagi para aktivis, untuk mengecoh musuh tentang aktivitas, kondisi dan kerja mereka.
Dengan memberikan pernyataan ini, Harun semestinya memberi Imam sebanyak 50.000 drachmas untuk mengatasi kesulitan ekonominya, tetapi ia hanya memberi Imam 200 drachmas. Ma’mun berkata, “Ketika aku bertanya alasannya kepada ayahku, ia mengatakan, ‘Kalau aku memberi uang sebanyak itu, maka ia bisa merekrut ribuan orang bersenjata pedang dari pengikut dan sahabatnya untuk memerangiku.’” Kesimpulan Harun benar. Saya kira ia memahami Imam dengan benar.
Beberapa pemikir berpendapat bahwa kesimpulan Harun itu didasarkan pada umpan terhadap Imam, tetapi faktanya adalah bahwa ia menyadari maksud dan pendirian Imam. Ketika Imam Musa berjuang melawan Harun, ada sejumlah orang yang siap-sedia berdiri di sisinya, namun Imam tidak bisa membiayai perjuangannya.
Kami telah mengamati perjuangan bersenjata seperti itu dalam kasus anak-cucu para Imam Maksum. Pasti, Imam bisa memobilisasi orang-orang dengan lebih baik ketimbang anak-anak mereka. Karena itu, era Imam Musa bin Ja‘far [as] adalah sebuah puncak perjuangan, yang akhirnya membawa pada pemenjaraannya. (bersambung)
SUMBER artikel: Jurnal Bayan. Vol. VI. No.3, Tahun 2017.
