Konsep Perjuangan Para Imam (5)

Selain suasana horor, ciri-ciri lain dari era itu adalah dekadensi intelektual. Kebobrokan intelektual ini berasal dari mengabaikan terhadap ajaran agama selama dua dekade sebelumnya. Mengapa? Karena ajaran agama, tafsir al-Quran, dan hadis-hadis Nabi saw telah dilarang antara tahun 40 sampai 60 Hijriah, pilar-pilar keimanan umat telah dilemahkan secara serius.

PENDIDIKAN

Sayyid Ali Khamenei

2/17/202612 min read

Era Imam Ali Ridha

Era Imam Kedelapan, sekali lagi, adalah periode meratanya kondisi yang cukup menguntungkan bagi penyebaran Syi’ah. Imam memiliki banyak fasilitas dan era ini mengarah pada penunjukan Imam sebagai wakil, atau dengan kata lain, sebagai pewaris Kekhalifahan.

Namun, Imam melakukan taqiyyah selama masa Harun, yaitu, melakukan berbagai usaha perjuangan dengan cara menyamarkannya. Misalnya, De’bel Khazai penyair Syi’ah yang terkenal—yang mendukung Imam selama keimamahannya. Mengasuh orang-orang seperti De’bel Khazai, Ibrahim bin Abbas—yang adalah di antara para penyair yang memuji Ali bin Musa al-Ridha [as]—dan lain-lain, hanya mungkin dalam masyarakat di mana cinta kepada Keturunan Nabi saw memiliki teladan.

Penunjukan Ali bin Musa Ridha [as] sebagai pewaris tahta (Wali-e-Ahd), yang merupakan peristiwa besar, menunjukkan bahwa kepentingan rakyat dan kecintaan pada Ahlulbait Nabi saw selama era Imam al-Ridha telah jauh berkembang. Selain itu, bentrokan antara Amin dan Ma’mun yang menyebabkan lima tahun perang Baghdad–Khurasan, menyiapkan landasan bagi Ali bin Musa Ridha untuk mengadakan aktivitas luas yang akhirnya menyebabkan pengangkatannya sebagai pewaris tahta [semu].

Sayangnya, arus kecenderungan ini terputus dengan kesyahidan Imam Ali Ridha [as] dan era baru pun mulai, yang merupakan periode penderitaan, kesulitan dan penderitaan bagi Ahlulbait Nabi. Menurut saya, era pasca-Imam al-Jawad [as] adalah yang paling sulit dan terburuk untuk Imam Maksum.

Seperti disebutkan di atas, pembahasan ini dibagi menjadi dua bagian; bagian pertama dialokasikan untuk wajah secara umum, yang disimpulkan di sini. Bagian kedua mengacu pada beberapa contoh perjuangan para Imam maksum. Isu ini—yang layak didiskusikan—tidak terbatas pada apa yang diungkapkan di sini saja. Beberapa beberapa topik perlu disebutkan sehingga para peneliti lain yang tertarik bisa melanjutkan penelitiannya.

Beberapa Contoh Perjuangan Imam Maksum

Klaim Imamah dan mengundang masyarakat untuk menerima Imamah dilakukan dalam setiap aspek kehidupan para Imam, yang merupakan tanda perjuangan mereka. Ada banyak riwayat yang menuturkan fakta ini. Misalnya, riwayat berjudul: “Al A’imma Nurullah” (Para Imam Cahaya Ilahi) dalam buku Ushul Kafi (Ushul al-Kafi, Vol. 1, h. 193) juga riwayat dari Imam Kedelapan tentang Imamah serta beberapa riwayat tentang kehidupan Imam al-Shadiq (as) dan perdebatan para sahabatnya dengan berbagai penentang, dan riwayat tentang kehidupan Imam Husain (as) pada saat mengundang rakyat Irak, dan beberapa riwayat lain, adalah contoh terkait hal ini.

Masalah lainnya adalah persepsi dan pemahaman tentang Khalifah dari berbagai pernyataan dan kegiatan para Imam maksum. Ini adalah masalah yang menentukan dan tidak dapat diabaikan. Mengapa mereka melakukan pendekatan seperti itu terhadap kehidupan Imam? Misalnya: “Ada dua khalifah di bumi; Musa bin Ja‘far di Madinah dan pajak dikumpulkan untuk dia” (Bihar al-Anwar, Vol. 48, h. 239, Hadis ke-48). Beberapa pernyataan tentang Ali bin Musa (al-Ridha as) atau pernyataan serupa tentang Imam lainnya menggarisbawahi tujuan para khalifah dan teman-teman mereka, yang mengira para Imam telah mengikutinya. Ini adalah masalah yang penting dan menentukan.

Masalah lainnya adalah penyandangan Imamah. Para khalifah bersikeras untuk menyandangkan “gelar” Imamah pada diri mereka, sementara kaum Syi’ah sangat sensitif terhadap masalah ini. Misalnya, seorang penyair terkenal di era awal kekuasaan Umayyah, Katsir, adalah Syi’ah dan simpatisan Imam al-Baqir (as). Ia menjadi penyair masyhur saat itu—seperti Farazdaq, Jarir, Akhtal, Jamil, Nasib dan yang lain—setelah ia menjumpai Imam Baqir (as).

Imam menegurnya dan berkata, “Aku mendengar bahwa kamu memuji Abdul Malik.” Katsir kaget, lalu menjawab, “Aku tidak menggelarinya sebagai Imam-ul-Huda (‘Imam Penunjuk’). Aku hanya menggambarkannya sebagai singa, matahari, laut, gunung dan naga. Semua benda itu adalah objek tidak berharga. Jadi, dia membenarkan nilainya.” Imam tersenyum. Kemudian Kumayt Assadi membacakan syair pujiannya yang terkenal (Bihar al-Anwar, Vol. 46, h. 338, Hadis ke-27).

Ini adalah contoh lain yang menunjukkan bahwa Imam-Imam begitu sensitif pada setiap penghormatan (apalagi pengagungan) kepada Abdul Malik dan para khalifah penindas lainnya. Sementara beberapa sahabatnya, seperti Katsir, secara khusus sensitif menggunakan konsep-konsep semacam Imam-ul-Huda untuk para khalifah. Itulah mengapa ia bersikeras untuk tidak menggunakan istilah “Imam Penunjuk” untuk Abdul Malik, yang menunjukkan kecenderungan ekstrem khalifah untuk disebut “Imam Penunjuk”.

Desakan dan kepentingan khalifah untuk bisa disebut Imam Penunjuk adalah lebih daripada yang diamati selama era Abbasiyah. Marwan bin Abi Hafaseh Umawi adalah pelantun syair pujian dan penyair bayaran dari istana Umayyah dan Abbasiyah. Anehnya, dia yang adalah penyair istana selama Umayyah, lalu menjadi penyair istana ketika Abbasiyah berkuasa! Oleh karena ia seorang penyair terkenal dan berpengalaman, para penguasa biasa membelinya dengan menawarkan uang banyak. Setiap kali dia memuji-muji Abbasiyah, ia tidak membatasi dirinya untuk mengekspresikan keberanian, kemurahan hati dan karakteristik mereka lainnya, melainkan menggunakan atribut seperti Nabi saw untuk mengakui posisi dan status yang diinginkan!

Berikut adalah salah satu puisinya: “Bagaimana mungkin bahwa seseorang yang adalah keturunan dari pihak ibu, mewarisi warisan pamannya?” Artinya: “Paman Nabi saw, Abbas, mempunyai warisan pasti. Mengapa keturunan Nabi saw (Imam Maksum as)—yang adalah anak-anak dari putri beliau, Hazrat Zahra [as], ingin mewarisi warisan Abbas itu (yakni khilafah Abbasiyah)?”

Lihat saja, yang diperebutkan adalah Kekhalifahan; ini adalah perang budaya dan politik yang sesungguhnya. Sebagai jawabannya, penyair Syi’ah terkenal, Ja‘far bin Affan Tai, berkata: “Seorang anak perempuan mewarisi setengah dari kekayaan ayahnya dalam Islam, tetapi seorang paman tidak mewarisi apa pun atas kekayaan dari orang yang punya seorang putri; oleh karena itu engkau tidak punya warisan apa pun yang bisa diklaim!” Ini hanya sedikit contoh tentang sensitivitas Imam Maksum terhadap klaim apa pun atas Imamah.

Pengakuan Imam Maksum pada Pemberontakan

Masalah lain adalah konfirmasi atas perjuangan bersenjata. Konfirmasi Imam Maksum terhadap sebagian kebangkitan (pemberontakan) berdarah merupakan di antara Bab-Bab yang menarik dalam hidup mereka. Pengakuan ini sendiri menggarisbawahi arah perjuangan para Imam. Konfirmasi seperti itu terlihat dalam perkataan Imam Shadiq tentang Mu’alla bin Khunais ketika ia dibunuh oleh Dawud bin Ali; pernyataannya tentang Zaid, tentang Husain bin Ali (as), tentang syuhada peristiwa Fakh’, dan sebagainya.

Saya telah menemukan sebuah hadis yang mencengangkan dalam Nur-ul-Thaqalayn yang dituturkan oleh Ali bin Aqaba: “Saya, bersama dengan Mu’alla, menjumpai Imam Shadiq [as]. Imam berkata: ‘Aku memberimu kabar gembira tentang satu dari dua perbuatan terbaik (kemenangan atau kesyahidan) yang menantimu; semoga Allah menyembuhkan hati (jiwa)mu, semoga menyucikan jiwamu dari kekejaman, dan bisa memenangkan kamu atas musuh-musuhmu; dan ini adalah janji Ilahi yang Dia berfirman: Dan Kami menyembuhkan hati orang-orang beriman.’ Jika engkau meninggal sebelum mencapai kemenangan ini, engkau akan mati dengan keimanan pada agama Allah: agama yang Allah telah ridai bagi Nabi-Nya [saw] dan Imam Ali.”

Riwayat ini sangat penting karena berbicara tentang perjuangan, kemenangan, membunuh dan dibunuh, terutama yang ditujukan kepada Mu’alla bin Khunais yang nasibnya kita ketahui. Imam memulai komentarnya tanpa mukadimah dan berbicara tentang suatu peristiwa atau insiden, tapi insiden itu tidak pasti. Dalam riwayat ini, Imam—menyinggung pengobatan hati (jiwa) oleh Allah baik berdoa untuk mereka, atau mungkin menunjuk ke sebuah kejadian.

Kita tidak tahu kalau dua orang ini datang menemui Imam setelah melaksanakan sebuah tugas, atau telah terlibat dalam sebuah bentrokan yang Imam telah ketahui sepenuhnya; atau mungkin Imam sendiri telah mengirim mereka menunaikan sebuah misi.

Tetapi, dalam kedua kasus itu, nada pernyataan Imam menekankan pada fakta bahwa ia mendukung gerakan agresif dan radikal, yang sering terjadi dalam kehidupan Mu’alla bin Khunais. Menariknya, Mu’alla diistilahkan sebagai “pintu” (bab) Imam Shadiq [as]. Konsep tentang “pintu” (bab) sangat penting dan harus diteliti.

Ada beberapa orang yang dikenalkan dalam riwayat-riwayat sebagai “pintu” Imam Maksum. Siapakah orang-orang itu? Sebagian besar mereka juga dibunuh atau diancam dibunuh. Mereka termasuk Yahya bin Ummu Tawil, Mu’alla bin Khunais, Jabir bin Yazid Jufi, dan lainnya.

Isu lain dalam kehidupan para Imam ialah pemenjaraan, pengasingan dan penganiayaan terhadap mereka. Menurut saya, masalah ini harus diteliti secara menyeluruh.

Juga, masalah lain adalah bahasa yang lugas dan tegas serta konfrontasi para Imam Maksum dengan khalifah. Sebuah titik penting dalam hal ini bahwa, jika tokoh-tokoh terhormat yang konservatif atau berkompromi, mereka harus mengadopsi bahasa yang lembut, bebas dari konfrontasi apa pun sebagaimana ulama dan para zahid yang lain di era itu. Seperti Anda ketahui ada sejumlah ulama dan zahid yang dihormati dan disambut oleh Khalifah Harun. Harun biasa mengatakan pada mereka: “Kalian semua sangat berhati-hati, semua kalian mencari mangsa, kecuali Amr ibnu Ubaid.”

Mereka biasa menasihati para khalifah, dan bahkan kadang-kadang para alim ini sampai membuat khalifah-khalifah itu menangis; tetapi mereka berhati-hati, seperti tidak mengalamatkan kepada khalifah penggunaan konsep semacam penindas, penjahat, perampas, kejam atau konsep serupa lainnya. Tetapi para Imam Maksum tidak terpengaruh oleh kemegahan dan kekuatan dari para khalifah; mereka tidak pernah diam.

Fakta lain menunjukkan perihal tindakan kasar yang dilakukan oleh para khalifah terhadap Imam-Imam, termasuk orang-orang yang disuruh Manshur untuk menyerang Imam Ja‘far Shadiq dan yang disuruh Harun membunuh Imam Musa Kazhim. Saya sudah menyinggung sebagiannya.

Strategi Imamah

Poin menarik dan berharga yang lain adalah klaim-klaim yang dibuat oleh Imam yang menggarisbawahi strategi Imamah mereka. Dalam beberapa kasus, kita menemukan klaim dan kata-kata tertentu dalam pernyataan para Imam yang tidak biasa. Pernyataan seperti itu menggarisbawahi sebuah tujuan dan strategi tertentu, yang sebenarnya merupakan strategi Imamah. Perdebatan Imam Musa Kazhim (as) dan Harun tentang Fadak termasuk dalam masalah tersebut:

Suatu ketika Harun berkata pada Imam Musa Kazhim (as): “Tolong, tandailah area ‘Fadak’ (tanah milik Hazrat Fatimah [sa] yang telah dirampas secara zalim) sehingga kami bisa mengembalikannya padamu.”

Harun berpikir bahwa dengan mengembalikan Fadak pada Imam, maka ia akan bisa melucutinya dari slogan Fadak, yang merupakan bukti dari kezaliman yang dilakukan terhadap Ahlulbait Nabi saw. Ia juga berpikir bahwa melalui tindakan ini, ia akan bisa menarik perbedaan antara Abbasiyah dan Umayyah yang pernah mengambil Fadak dari mereka.

Awalnya Imam menolak untuk menandai batas-batas Fadak, tetapi ketika Harun bersikeras, Imam pun berkata: “Kalau engkau mengembalikan Fadak, engkau harus menerima perbatasan sebenarnya.” Harun menerima tawaran tersebut. Kemudian Imam mulai menjelaskan batas-batas Fadak, dengan mengatakan: “Batas pertamanya adalah Aden.”

Perdebatan ini berlangsung antara Imam Musa dan Harun di Madinah atau Baghdad. Imam melanjutkan: “Sisi yang lainnya ialah Semenanjung Arabia.” Wajah Harun berubah pucat, dan berkata, “Ohh!” Imam berkata: “Batas lainnya adalah Samarkand,” yakni, bagian ujung Timur dari kekuasaan Harun. Wajah Harun berubah merah. “Batas ketiganya adalah Afrika,” kata Imam. Batas ketiga, Afrika (Tunisia), adalah bagian ujung Barat kekuasaan Harun. Wajah Harun berubah jadi hitam dan berteriak, “Aneh!?” Akhirnya, Imam berkata, “Batas sisi keempatnya ialah garis pantai, dari pulau-pulau itu dan Armenia,” yakni, bagian ujung Utara kekuasaan Harun.

Dengan geram Harun berkata menyindir: “Dalam hal ini tidak ada yang tersisa bagiku, kemari dan ambillah kursiku.” Imam Musa Kazhim berkata: “Aku sudah katakan padamu bahwa kalau aku menyebutkan batas-batas Fadak, maka engkau tidak akan mengembalikannya kepadaku!” Riwayat ini pada bagian akhirnya berbunyi: “Di situlah waktunya ketika Harun memutuskan untuk membunuh Imam Musa" (Bihar al-Anwar, Vol. 48, h.144, Hadis ke-20).

Masalah paling menonjol dalam perdebatan ini adalah pendirian Imam Musa bin Ja‘far, yang Harun sadari betul, lalu memutuskan untuk membunuh Imam. Pernyataan tersebut mengungkapkan pendirian para imam, yang jelas terlihat dalam kehidupan Imam Baqir, Imam Shadiq dan Imam Ridha—salam atas mereka. Analisis keseluruhan atas pernyataan-pernyataan seperti itu menggambarkan strategi Imamah.

Strategi Para Imam dan Para Sahabat

Hal penting lain dalam kehidupan para Imam adalah pemeriksaan dan analisis terhadap sahabat dan murid mereka terkait tujuan, strategi dan perselisihan mereka. Para sahabat itu memiliki posisi lebih dekat ketimbang dan berkesadaran lebih baik akan tujuan dan pendirian Imamnya. Apa pemahaman mereka tentang masalah ini? Berbagai riwayat yang kami teliti menunjukkan bahwa mereka sedang menunggu suatu penegakan keadilan melalui kebangkitan Imam maksum?

Kita tentu mengenal kisah seorang lelaki utusan yang datang dari Khurasan menemui Imam Ja’far Shadiq [as], mengabarkan tentang ribuan laki-laki bersenjata yang tengah menunggu perintah Imam al-Shadiq untuk bangkit. Imam terkejut dan meragukan otentisitas kesetiaan mereka dengan memberikan kriteria karakter sebuah pasukan ideal yang dibutuhkan. Melihat syarat Imam Ja’far itu, sang utusan pun berangsur mengurangi jumlah para pejuang itu. Imam lalu mengatakan: “Seandainya aku punya 12 atau 15 sahabat dan murid, aku pasti memimpin kebangkitan.”

Beberapa orang seperti itu biasa menanyakan dan meminta Imam bangkit. Tentu saja dalam sebagian kasus mereka adalah mata-mata Abbasiyah. Kita dapat memastikan dari jawaban Imam bahwa mereka adalah mata-mata Abbasiyah.

Mengapa orang-orang seperti itu menghubungi Imam? Sebab, perjuangan dan kebangkitan untuk mendirikan pemerintahan yang adil adalah tujuan pasti dari para Imam. Pemahaman dan kesimpulan dari orang-orang Syi’ah dan para sahabat Imam bahwa para Imam Maksum sedang menunggu kesempatan yang tepat untuk bangkit.

Saya menemukan sebuah riwayat menarik dalam hal ini, yang dapat membantu kita memahami analisis atas para murid utama—seperti Zurarah bin A’yan—yang memahami tujuan “Suatu ketika Zurarah mengunjungi Imam al-Shadiq [as] dan berkata, “Salah satu teman kami telah melarikan diri karena utang. Jika masalah ini [kebangkitan atau kekuasaan Anda] sudah dekat, ia sedang menunggu dan akan bangkit bersama para pemberontak; kalau hal ini ditunda, ia mesti berkompromi dengan mereka.” Imam berkata, “Itu akan terjadi.” Zurarah bertanya, “Akankah itu terjadi dalam setahun ini?” Imam menjawab: “InsyaAllah, itu akan terjadi.” Ia bertanya lagi, “Akankah itu terjadi dalam dua tahun?” Imam berkata, “InsyaAllah, itu akan terjadi.” Zurarah diyakinkan bahwa pemerintahan Alawi akan menggenggam kekuasaan dalam dua tahun.

Dalam hadis lain, Hisyam bin Salim meriwayatkan: Suatu hari Zurarah mengatakan padaku, “Engkau tidak akan melihat orang lain selain Ja’far bin Muhammad (Imam al-Shadiq as) di atas takhta Khilafah.” Hisyam berkata, “Ketika Imam al-Shadiq meninggal, aku berkata pada Zurarah, ‘Apakah engkau ingat perkataanmu?’ Aku khawatir dia akan menyangkalnya. Zurarah menjawab, ‘Demi Allah, aku mengatakan padamu tentang pendapatku sendiri.’ Bahkan, Zurarah ingin memastikan bahwa pernyataannya tidak dianggap sebagai kutipan atas nama Imam.

Hal ini bisa dengan jelas disimpulkan dari beberapa riwayat di ranah ekspektasi untuk kebangkitan (pemberontakan) atau permintaan dari para murid Imam Maksum terkait tujuan para Imam dalam upaya mendirikan sebuah pemerintahan Alawi. Ini adalah tujuan dan strategi yang jelas dan pasti dari para Imam Maksum.

Kita juga mesti mempelajari alasan di balik permusuhan dan dendam para Khalifah terhadap para Imam. Apakah alasan utama permusuhan mereka terkait dengan status spiritual para Imam dan kesetiaan umat kepada mereka? Apakah ada alasan lain di balik permusuhan dan kebencian itu? Tanpa ragu para khalifah dan yang lain mengiri dan mendengki para Imam. Ada sejumlah riwayat yang menginterpretasikan ayat al-Quran berikut ini:

ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? [QS. al-Nisa [4]: 54]

Dalam sebuah riwayat seperti itu, Imam mengatakan, “Kami adalah orang-orang yang didengki dan diiri.”¹⁹ Artinya, ayat al-Quran mengacu pada kita sebagai orang-orang yang didengki. Apakah karakteristik khusus Imam Maksum yang didengki dan diiri para khalifah? Apakah mereka iri-dengki pada pengetahuan dan kesalehan mereka? Kita tahu bahwa ada sejumlah ulama dan zahid (orang-orang zuhud) yang terkenal karena pengetahuan dan kesalehan mereka di masa itu; mereka juga memiliki sejumlah besar teman dan sahabat.

Tokoh terkenal seperti Abu Hanifah, Abu Yusuf, Hassan Basri, Sufyan Tsauri, Muhammad bin Shahab dan puluhan tokoh serupa yang memiliki sejumlah besar pengikut dan simpatisan dan sangat populer dan ternama. Tetapi, di saat yang sama, bukan hanya para khalifah itu tidak mendengki dan mengiri mereka, tetapi bahkan mereka menghormati dan sangat menghargai para tokoh tersebut.

Menurut pendapat kami, alasan kebencian dan permusuhan para khalifah terhadap Imam Maksum yang biasanya menyebabkan kesyahidan mereka setelah pemenjaraan panjang, penyiksaan, penahanan dan pengasingan; yakni karena pendirian mereka terhadap Khalifah dan Imamah. Imam Maksum berteguh pada pendirian tersebut, sementara yang lain tidak. Masalah ini memerlukan penelitian dan studi lebih lanjut.

Masih ada isu lain, yang memerlukan penelitian dan studi mendalam atas gerakan dan konfrontasi radikal dari para Imam Maksum terhadap sistem Kekhalifahan. Terdapat cukup banyak contoh dari gerakan dimaksud di sepanjang era Imamah. Pada era Imam Ali bin Husain, al-Sajjad as, yang boleh disebut sebagai puncak represi, ada seorang murid Imam al-Sajjad, bernama Yahya bin Tawil, yang pergi ke Masjid Madinah, menyampaikan pesan kepada orang-orang yang telah menyerah kepada sistem Khilafah, atau kepada para pejabat sistem Kekhilafahan, dengan membaca sebuah ayat al-Qur’an; yakni tentang pernyataan Nabi Ibrahim kepada kaum kafir dan musyrik:

“…kami ingkari (kekafiran)mu, dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kamu untuk selama-lamanya…” (QS. [60]:4)

Juga di Kufah, dengan suara lantang dan tegas, dia menyampaikan kepada masyarakat dan satu kelompok Syi’ah, pernyataan yang berisi protes terhadap sistem yang tengah berkuasa.

Mu’alla bin Khunais biasa berpartisipasi dalam pesta keagamaan sambil mengenakan pakaian yang tidak rapi, kusut, jenggot dan rambut yang tak dicukur, dan menunjukkan wajah sedih. Ketika seorang penceramah memulai khotbahnya pada peringatan itu, ia pun mengangkat tangannya, berkata, “Ya Allah, ini adalah mimbar dan posisi yang menjadi milik wakil-wakil-Nya (para Imam Maksum as) dan orang yang telah dipilih-Nya, tetapi telah dirampas dan diambil oleh orang lain.”

Sayangnya, murid mulia ini (Mu’alla) yang dipuji oleh Imam al-Shadiq [as] dan yang pembunuhnya dikutuk oleh Imam, tidak mendapat perhatian karena sebagian orang meragukan kesalehannya. Mungkin, tangan-tangan kotor Dinasti Abbasiyah telah memainkan peran dalam mendiskreditkan citranya.

Isu lain, yang memerlukan diskusi luas dan mendalam adalah masalah “taqiyyah”. Untuk memahami masalah ini, perlu menganalisis semua hadis tentang kamuflase, penjagaan, dan aktivitas rahasia untuk memahami makna sebenarnya dari taqiyyah (atau pencegahan bahaya pada diri dengan penyamaran). Dengan mempertimbangkan pendapat tentang Imamah oleh Imam Maksum yang dibahas di atas, serta parahnya reaksi-reaksi para khalifah terhadap pendirian dan kegiatan Imam maksum dan murid-murid mereka, mengungkapkan kedalaman konsep taqiyyah. Yang pasti, bahwa pencegahan bahaya pada diri dengan penyamaran tidak berarti menyerah dan menghentikan usaha-usaha dan kegiatan, tetapi berarti menutupi (melindungi) kegiatan. Masalah ini dapat dilihat melalui hadis-hadis yang tersedia.

Dekadensi Intelektual

Selain suasana horor, ciri-ciri lain dari era itu adalah dekadensi intelektual. Kebobrokan intelektual ini berasal dari mengabaikan terhadap ajaran agama selama dua dekade sebelumnya. Mengapa? Karena ajaran agama, tafsir al-Quran, dan hadis-hadis Nabi saw telah dilarang antara tahun 40 sampai 60 Hijriah, pilar-pilar keimanan umat telah dilemahkan secara serius. Ketika kita mempelajari kondisi hari-hari tersebut sesuai catatan kuat dalam kitab-kitab dan hadis-hadis, masalah ini menjadi sangat transparan.

Tentu saja, para ulama, pelajar agama, mufasir, perawi hadis, dan orang-orang saleh ada di sana, tapi masyarakat atau umat ditimpa dengan ketidaksabaran, penyelewengan, kemalasan dan kelemahan. Situasinya telah begitu buruk sehingga bahkan beberapa pegawai dari sistem Khilafah berani mempersoalkan masalah kenabian!

Seorang yang keji, kaki-tangan kotor dari Bani Umayyah, Khalid bin Abdullah Qasri telah dikutip mengatakan: “Khilafah/Kekhalifahan adalah lebih unggul daripada Kenabian.” Untuk mendukung argumennya, ia memberi alasan berikut: “Ketika Anda menunjuk seseorang sebagai wakil Anda dalam keluarga Anda, apakah dia lebih dekat dengan Anda, atau seseorang yang Anda kirim sebagai utusan untuk mengambil pesan untuk Anda?

“Kiranya,” lanjut Khalid, “orang yang Anda tunjuk sebagai wakil Anda di rumah Anda [itulah yang lebih dekat].” “Oleh karena itu,” Khalid lalu menyimpulkan, “Khalifah Allah [dia tidak mengatakan Khalifah Nabi] adalah lebih unggul daripada utusan/rasul Allah!”

Pernyataan ini disampaikan oleh Khalid bin Qasri; yang mungkin orang lain juga menyetujuinya [bahkan menganut cara pandangnya. Saya telah memeriksa puisi-puisi selama periode kekuasaan Umayyah dan Abbasiyah, dari era Abdul Malik dan seterusnya, bahwa konsep Khalifatullah (Khalifah atau wakil Tuhan) telah sedemikian sering diulang-ulang sehingga orang-orang lupa bahwa sang Khalifah adalah juga sebagai Khalifah Nabi atau wakil Nabi.

Kecenderungan, pola dan gaya ini berlanjut hingga era Abbasiyah. Konsep ini digunakan dalam puisi satir Bashar bin Bard yang mengecam Yaqub bin Dawud dan Manshur: “Wahai manusia, khalifah kalian telah dihancurkan; temukanlah Khalifah Allah di antara kayu dan kulit.”²⁰

Bahkan ketika ia hendak mengecam sang khalifah, ia pun mengatakan Khalifah Allah! Para penyair terkenal periode ini, seperti Jarir, Farazdaq, Nasib dan lain-lain, biasa menyebut penguasa dengan “Khalifah Allah” dalam eulogi-eulogi mereka yang disusun demi memuji sang khalifah. Contoh ini menunjukkan lemahnya keimanan atau akidah orang-orang dalam dasar-dasar agama.

Moralitas rakyat juga tidak dalam kondisi yang baik. Ketika saya mempelajari kitab Aghani Abulfaraj, saya menemukan sebuah fakta dari tahun 80-an Hijriah sampai lima atau enam dekade berikutnya, bahwa para penyanyi ternama, musisi dan orang-orang yang suka pesta pora adalah dari Madinah atau Mekkah. Setiap kali Khalifah di Damaskus menyelenggarakan sebuah pesta,

para penyanyi terkenal dan penghibur terkenalnya akan dikirim kepadanya dari Madinah. Selain itu, para satiris terburuk dan penyair vulgar dibesarkan di Mekkah dan Madinah.

Tempat Wahyu Ilahi dan tempat kelahiran Islam telah berubah menjadi pusat kebejatan dan penyelewengan. Penting bagi kita mengetahui fakta-fakta tentang Mekkah dan Madinah. Sayangnya, tidak ada informasi tentang masalah ini dalam kehidupan para khalifah dalam buku-buku sejarah yang ada. (tamat)

SUMBER artikel: Jurnal Bayan. Vol. VI. No.3, Tahun 2017.