Marifat Doa, Upaya meraih Rahmat Ilahi

Semakin besar hajat agar doa kita diperkenankan Allah tidak salah jika semakin besar pula nilai yang kita shodaqohkan dan kita alirkan kepada mereka yang hidupnya masih dilanda beragam kesulitan dan penderitaan.

RISALAH

Prof Dr KH Kholid Al Walid

11/9/20252 min read

"Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya" (QS 35:10). Al-Kalim al-Thayyib, yang diterjemahkan dengan perkataan-perkataan yang indah selain dimaknai sebagai keimanan, namun lebih dekat bermakna do'a-do'a seorang hamba dan rintihan atas dosa-dosanya.

Dalam hadist Qudsi Allah SWT isyaratkan; "Demi Keagungan-Ku, sekiranya di bumi ini sudah tidak ada lagi hamba-Ku yang berbuat dosa maka akan Aku hancurkan bumi ini dan Aku gantikan dengan bumi yang lain sehingga ada hamba-hamba-Ku yang berbuat dosa dan memohon ampunan atas dosa-dosanya. Sungguh tidak ada suara yang lebih indah di sisi-Ku kecuali rintihan para pendosa yang memohon ampunan akan dosa-dosanya" (Kalimatullah Hiya Ulya).

Lanjutan ayat di atas mensyaratkan diangkatnya doa-doa melalui amal shaleh yang kita persembahkan. Bisa jadi yang dimaksud adalah perbuatan baik yang kita kerjakan sehingga membuat Allah ridho dan menerima doa kita, tetapi Amal Sholeh juga berarti Shodaqoh dan Infaq yang kita alirkan kepada saudara-saudara kita yang fakir dan miskin. Rasul yang mulia bersabda; "Shodaqoh itu mempercepat Ijabah".

Jadi, ketika kita ingin do'a-do'a kita segera naik ke sisi Allah SWT dan mendapat jawaban angkatlah doa-doa itu melalui infaq dan shodaqoh. Semakin besar hajat agar doa kita diperkenankan Allah tidak salah jika semakin besar pula nilai yang kita shodaqohkan dan kita alirkan kepada mereka yang hidupnya masih dilanda beragam kesulitan dan penderitaan.

Mungkin kita semua pernah menginginkan sesuatu terjadi segera atau mengharapkan hal yang baik berlangsung selama hajat tertentu dengan kita laksanakan.

Orang tua mengharapkan anaknya dapat diterima disekolah yang baik, seorang suami mengharapkan keselamatan istri dan anaknya ketika melahirkan, seorang gadis berharap mendapatkan pasangan yang shaleh, dan lainnya.

Sekiranya kita menginginkan harapan kita segera terwujud disamping do'a, Allah SWT mengajarkan kita utk mengikat janji dengan-Nya melalui apa yang disebut al-Qur'an dengan kata "Nazar".

Al-Qur'an mencontohkan sosok-sosok mulia yang mengikat nazarnya dihadapan Allah SWT: "Ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS 3: 35).

"Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini". (QS 19:26).

Allah SWT juga menggambarkan upaya hamba-hamba-Nya yang shaleh agar terhindar dari keburukan melalui Nazar. "Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana" (QS 76:7). "Hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka" (QS 22:29).

Suatu saat Rasulullah Saw melihat kedua cucunya al-Hasan dan al-Husein yang dlm keadaan demam. Kemudian Rasul berkata kepada Ali. "Wahai Abal Hasan bernazarlah agar Allah menyembuhkan kedua putramu." Ali berkata "Aku bernazar untuk berpuasa tiga hari sebagai syukurku kepada Allah." Nazar Ali diikuti istrinya Fathimah dan pembantunya Fiddhah. Dan Allah menyembuhkan kedua cucu Rasulullah Saw tersebut.

Jika Allah dan Rasul-Nya saja mengajarkan Nazar, tidak salahnya kita melakukannya dengan mengikat janji antara diri kita dengan Allah SWT jika ada hal-hal yang baik yang kita inginkan terjadi dalam kehidupan kita. Melalui Nazar Allah ingin melihat kesungguhan kita. ***