Ma'ruf, Kebaikan yang Universal: Ma'rifah Ramadhan

Saya terharu ketika seorang pekerja Indonesia di Korea, Sugianto menyelamatkan 60 lansia ketika terjadi kebakaran di hutan Yeongdok pada 31 Maret 2025. Banyak penduduk desa di situ yang tinggal merupakan lansia. Kebanyakan mereka sudah tidak mampu berjalan apalagi berlari. Sugianto memanggul mereka dan menyelamatkan mereka. Tanpa merasakan lelah ia terus berlari bolak-balik dari satu rumah ke rumah lainnya. Tanpa pernah berfikir bahwa para lansia itu beragama apa pun.

RAMADHAN

Prof Dr KH Kholid Al Walid

3/8/20263 min read

Apakah ketika melakukan tindakan kita yang baik kita perlu penegasan ayat atau hadist?

Tentu tidak, karena kebaikan adalah tindakan mulia dan semua orang sepakat atas kemuliaannya. Karenanya melakukannya tentu tidak perlu mencari dalil secara khusus, tidak perlu juga melakukan tindakan kebaikan hanya untuk kelompok agama yang sama dengannya.

Saya terharu ketika seorang pekerja Indonesia di Korea, Sugianto menyelamatkan 60 lansia ketika terjadi kebakaran di hutan Yeongdok pada 31 Maret 2025. Banyak penduduk desa di situ yang tinggal merupakan lansia. Kebanyakan mereka sudah tidak mampu berjalan apalagi berlari. Sugianto memanggul mereka dan menyelamatkan mereka. Tanpa merasakan lelah ia terus berlari bolak-balik dari satu rumah ke rumah lainnya. Tanpa pernah berfikir bahwa para lansia itu beragama apa pun.

Dan siapa pun yang mengetahui apa yang telah dilakukan Sugianto melihatnya sebagai manusia yang berhati emas. Ia rela menyabung nyawa demi menyelamatkan nyawa yang lain.

Masyarakat Korea yang dikenal rasis itu kagum di era sekarang masih ada orang seperti Sugianto. Bahkan banyak yang malu melihat kebaikan Sugianto yang notabene selama ini dianggap rendah.

Kebaikan itu bersifat universal, siapa pun dia akan melihat kebaikan sebagai kebaikan. Karena itulah salah satu istilah yang digunakan untuk mengekspresikan kebaikan adalah kata al-ma'ruf.

Ayat yang paling populer terkait al-ma'ruf :

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

"Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS Āli ‘Imrān [3]:104)

kata al-ma‘rūf berasal dari akar kata ‘arafa yang berarti mengetahui, mengenal, atau mengakui. Dari akar kata ini, ma‘rūf secara harfiah berarti sesuatu yang dikenal, sesuatu yang diakui oleh hati dan akal sebagai kebaikan. Maka kebaikan dalam bentuk ma‘rūf bukanlah sesuatu yang asing bagi manusia; ia adalah nilai yang secara fitri dikenali oleh nurani manusia. Kata al-ma’ruf juga kerap di terjemahkan sebagai sesuatu yang telah dikenal atau popular.

Para ulama juga sering mengaitkan konsep ma‘rūf dengan ‘urf (kebiasaan masyarakat yang baik). Hal ini menunjukkan bahwa kebaikan tidak selalu hadir dalam bentuk aturan yang kaku, tetapi sering kali hidup dalam budaya dan kebiasaan masyarakat yang selaras dengan nilai-nilai fitrah manusia. Sehingga urf juga dijadikan salah satu ukuran dalam menetapkan nilai baik.

Jadi, ketika al-Qur’an memerintahkan manusia untuk melakukan perbuatan yang al-ma‘rūf, sebenarnya ia sedang mengajak manusia kembali kepada pengetahuan batinnya sendiri tentang kebaikan.

Perintah “al-amr bi al-ma‘rūf” (menyeru kepada kebaikan) bukan sekadar tuntutan moral eksternal, tetapi juga panggilan untuk menghidupkan kesadaran fitrah yang telah Allah tanamkan dalam diri manusia.

Kita melihat penggunaan kata ma‘rūf dalam banyak ayat al-Qur’an, terutama dalam konteks kehidupan sosial: hubungan suami istri, perceraian, warisan, interaksi dengan orang tua, hingga hubungan masyarakat secara umum. Al-Qur’an misalnya memerintahkan :

ۚ وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ

"Pergaulilah mereka dengan cara yang patut (al-ma'ruf)". (QS An-Nisā' [4]:19)

Al-Ma’ruf di sini bisa dimaknai lemah lembut, kasih sayang, tidak kaku dalam norma ketentuan fikih semata.

Secara spiritual, konsep ma‘rūf juga memiliki dimensi yang lebih dalam. Ia mengingatkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang mengenal kebaikan sebelum diajarkan secara formal. Dalam hati manusia terdapat semacam cahaya yang mampu mengenali apa yang baik dan apa yang buruk. Ketika manusia melakukan ma‘rūf, ia sebenarnya sedang menjalani harmoni antara fitrah batinnya dengan kehendak Ilahi.

Nilai-nilai kebaikan menjadi bagian alamiah kehidupan masyarakat bukan sebagai nilai-nilai yang dipaksakan. Kebaikan dalam makna al-ma’ruf adalah kebaikan yang sudah menjadi bagian kehidupan diri seseorang atau pun masyarakat.

Saya berasal dari kampung dan dulu saya merasakan betul nilai-nilai kebaikan di masyarakat. Antar tetangga selalu berbagi makanan bahkan ada pepatah yang hidup: “Berdosa membiarkan tetangga hanya mencium aroma masakan kita tanpa menikmati apa yang kita masak.”

Dengan demikian, ma‘rūf mengajarkan bahwa kebaikan sejati adalah kebaikan yang dikenal oleh hati, diakui oleh akal, dan dirasakan manfaatnya oleh manusia. Setiap kebaikan yang kita lakukan di dunia akan membuat kita semakin ma'ruf di langit. ***