MEDIA BARAT, TRUMP, DAN KEGAGALAN MEMAHAMI IRAN ISLAM
Trump mendapat laporan bahwa rezim di Iran solid. Tidak ada pembelotan signifikan. Tidak ada pemimpin alternatif yang kredibel. Apalagi cuma Reza Shah. Dukungan terhadap sistem masih kuat.
POLITIK
Dr Haidar Bagir
1/18/20263 min read


17 Januari 2026
Media Barat itu, terus terang, sering kali tampak lucu—atau lebih tepatnya, menyedihkan (pathetic). Setiap kali terjadi gejolak protes di Iran, pola pemberitaannya nyaris selalu sama: angka korban disebutkan secara serampangan, dan sudut pandang serta sumbernya pasti anti-rezim. Tidak ada upaya verifikasi silang. Tidak ada pembedaan antara korban sipil pemrotes —atau bahkan para penyusup dukungan AS dan Israel — dan aparat keamanan. Yang ada hanyalah pengulangan klaim dari NGO atau kelompok oposisi yang sejak awal memang punya misi politik menjatuhkan pemerintahan yang berkuasa di Teheran.
Angka disebut, lalu dikutip berantai, seolah kebenarannya otomatis lahir dari pengulangan. Bahkan muncul klaim bahwa pemerintah Iran “mengakui” korban mencapai dua ribu orang—klaim yang sama sekali tak pernah bisa diversifikasi sebagai berasal dari sumber resmi pemerintah, dan sumbernya pun kembali ke lingkaran yang sama. Reuters dan sebangsanya. Tujuannya juga tetap sama, menggiring opini sehingga orang marah dan intervensi asing terjustifikasi. Dalam banyak kasus, rujukan hanya video amatiran di media sosial, yang sebagiannya dimanipulasi, bahkan dihasilkan oleh kecerdasan buatan.
Donald Trump, dalam hal ini, malah tampil lebih “lucu”. Ia terang-terangan mengharapkan kejatuhan rezim Iran, lalu mengulang narasi media Barat tentang “pemerintah membunuh rakyatnya sendiri”, dan menjadikannya dalih untuk mengancam serangan militer. Namun begitu situasi mereda, dan Iran disebut “tidak jadi mengeksekusi 800 demonstran”, Trump pun mendadak membatalkan ancamannya. Seolah-olah keselamatan Iran bergantung pada kemurahan hatinya.
Padahal, alasan sebenarnya jauh dari itu. Trump mendapat laporan bahwa rezim di Iran solid. Tidak ada pembelotan signifikan. Tidak ada pemimpin alternatif yang kredibel. Apalagi cuma Reza Shah. Dukungan terhadap sistem masih kuat. Dan yang tidak kalah penting: peluang keberhasilan serangan itu kecil, sementara risikonya besar—mulai dari pembalasan terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah, hingga ancaman blokade Selat Hormuz yang akan menghantam harga minyak dan ekonomi global, termasuk ekonomi Amerika sendiri.
Sayangnya, banyak orang terkelabui. Salah satunya karena perang siber dan informasi yang masif, yang jelas-jelas didukung Israel.
Dalam konteks inilah analisis Alastair Crook —seorang analis geopolitik dan intelijen Barat yang dikenal luas karena kritiknya terhadap kebijakan Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah — menjadi penting. Ia menolak melihat apa yang terjadi di Iran sebagai kerusuhan spontan. Menurutnya, peristiwa tersebut adalah kelanjutan dari upaya perubahan rezim yang sudah dimulai sebelumnya, terutama sejak serangan mendadak pada bulan Juni.
Pada bulan itu, Israel melancarkan serangan dengan tujuan bukan sekadar menghukum, melainkan untuk menjatuhkan negara Iran itu sendiri. Strateginya adalah strategi pemenggalan: membunuh pimpinan militer, menyasar ilmuwan nuklir, dan meyakinkan Trump bahwa Iran hanyalah rumah kartu yang akan runtuh seperti Suriah.
Iran memang terkejut. Bukan hanya oleh serangan udara, tetapi oleh kenyataan bahwa ancaman datang dari dalam. Jaringan rahasia telah lama disusupkan. Drone dibawa dalam koper, senjata anti-tank dalam ransel. Serangan datang dari segala arah. Untuk sesaat, Iran terpaksa menarik radar bergeraknya. Inilah celah yang diharapkan Israel. Dan korbannya di pihak Iran tidak kecil. Termasuk oleh upaya penghancuran reaktor nuklirnya oleh militer AS.
Namun Iran belajar cepat. Mereka menemukan bahwa koordinasi infiltrasi bergantung pada jaringan komunikasi sipil. Internet diputus. Komunikasi dilumpuhkan. Jaringan dibersihkan.
Gelombang kedua dimulai pada akhir Desember, dengan pendekatan berbeda. Bukan bom, melainkan ekonomi. Nilai rial jatuh tajam secara tiba-tiba, tanpa penyebab ekonomi yang masuk akal—sebuah serangan spekulatif terkoordinasi, mirip dengan yang pernah dilakukan terhadap rubel Rusia. Para pedagang bazaar terpukul. Mereka marah, frustrasi, dan turun ke jalan.
Namun kemarahan ini sering disalahpahami. Ia tak selalu merupakan kemarahan terhadap negara, melainkan terhadap kehancuran mata uang. Bazaar, sebagaimana dicatat Crook, tetap berpihak pada sistem dan Pemimpin Tertinggi.
Fase kekerasan justru dimulai oleh kelompok kecil perusuh terlatih. Mereka menyusup, memicu kekacauan, menyerang warga secara acak, membakar fasilitas publik, dan menciptakan kesan negara kehilangan kendali. Ketika aparat datang dan tembakan dilepaskan dari arah tak jelas dari kerumunan demonstran —semacam upaya serangan false flag —benturan pun tak terelakkan. Narasi pun dibentuk: negara menembaki rakyatnya sendiri.
Semua ini dilakukan dengan satu tujuan: menciptakan krisis segera agar intervensi asing punya alasan. Bahkan Trump berbicara seolah menjadi pemandu operasi dari jauh.
Namun titik baliknya datang ketika Iran memutus bukan hanya internet dan jaringan seluler, tetapi juga Starlink. Ini langkah yang tak diperhitungkan Barat. Koordinasi runtuh. Mesin kerusuhan nyaris mati mendadak. Tidak ada pembelotan. Tidak ada runtuhnya institusi. Justru muncul jutaan orang dalam demonstrasi pro-pemerintah dan prosesi pemakaman pihak keamanan yang menjadi korban.
Kegagalan ini juga dijelaskan dengan jernih oleh Sharghzadeh. Penulis dan pengajar puisi Persia asal Iran di Universitas Michigan ini mengingatkan bahwa revolusi tidak terjadi dalam hitungan minggu. Ia butuh waktu bertahun-tahun. Ia butuh pemimpin dan ideologi. Revolusi 1979 punya Khomeini dan visi yang jelas. Protes hari ini tidak punya keduanya. Tidak ada ideologi yang dipercaya. Demokrasi Barat sendiri sedang kehilangan daya pikatnya.
Iran tentu harus terus menampung dan mengupayakan pemenuhan aspirasi rakyatnya dengan sebaik-baiknya, termasuk harus mengambil tindakan serius untuk memperbaiki kondisi sosial-ekonomi-politik dalam negerinya, yang cukup morat marit antara lain akibat boikot ekonomi puluhan tahun oleh AS dan Eropa.
Tapi Iran juga bukan banana Republic yang pemerintahannya rapuh dan mudah digulingkan. Ia punya tradisi kesyahidan yang menanamkan makna pengorbanan, kesabaran, dan janji kemenangan di masa depan. Mereka telah melewati perang, sanksi, dan krisis. Ini bukan masyarakat yang runtuh hanya karena tekanan jalanan.
Meski rezim yang berkuasa di Iran tentu juga rentan terhadap perlawanan para penentangnya, di samping selalu berada dalam bahaya serangan AS dan Israel yang bisa berakibat fatal, yang kita saksikan kali ini belum lagi awal runtuhnya Iran, melainkan kegagalan pemahaman Barat dan narasinya dalam memahami negara dan bangsa Iran serta pemerintahannya saat ini. ***
