Membumikan Filsafat

Sekilas, jalan kecil menuju asrama itu hanyalah sebuah lorong yang tidak menguntungkan, kumuh, dan mengundang rasa enggan. Siapa pun yang melintas akan disergap aura kemiskinan—bukan jenis yang memprihatinkan hingga tak mampu makan, melainkan kemiskinan yang kusam dan abai.

SASTRA

Nano Warno, Ph.D

8/11/20266 min read

white concrete building
white concrete building

Sekilas, jalan kecil menuju asrama itu hanyalah sebuah lorong yang tidak menguntungkan, kumuh, dan mengundang rasa enggan. Siapa pun yang melintas akan disergap aura kemiskinan—bukan jenis yang memprihatinkan hingga tak mampu makan, melainkan kemiskinan yang kusam dan abai.

Deretan kontrakan petakan di sana berdiri tanpa estetika: dindingnya berjamur, baju jemuran bergelantungan tak beraturan, serta sandal, ember, dan keset berdebu berserakan di depan pintu. Tak ada sebatang pohon pun yang menawarkan kesegaran hijau. Bangunan-bangunan sempit itu seperti dirancang agar mustahil memancarkan kemewahan, bahkan tak sanggup menyamai keasrian bersahaja ala rumah pedesaan.

Memasuki ceruk jalan itu, suasana berganti menjadi kelam dan meresahkan. Dedaunan rimbun menutup kelokan-kelokan sempit, seolah menyediakan tempat bersembunyi bagi kejahatan-kejahatan kecil maupun besar. Namun, terlepas dari wujudnya yang muram, lorong ini adalah jalan pintas tercepat menuju kawasan Gandul yang ramai.

Kawasan itu sendiri dijaga oleh dua masjid yang tak pernah sepi dari syiar: Masjid Al-Akhyar dan Masjid Al-Barakah. Bagi sebagian besar warga Betawi setempat, kedua masjid tersebut adalah benteng terakhir yang memelihara keagamaan di tengah gempuran modernisme. Di sekeliling mereka, orang-orang kaya baru sibuk membangun rumah mewah bertingkat, kontrakan empat belas pintu, hingga warung bakso yang mendadak viral.

Simbol kesuksesan finansial itu perlahan menciptakan jarak sosial yang tajam. Mereka yang berhasil memupuk kekayaan terjebak dalam status sosial yang mereka ciptakan sendiri: menjadi individualis, mengurung diri dalam kesendirian, dan amat irit tersenyum. Bagi mereka, keakraban hanya akan membuka celah bagi tetangga biasa untuk datang meminjam uang. Mereka hanya muncul di masjid saat hari raya atau salat Jumat. Seorang dosen yang tinggal di sana bahkan pernah berbisik sinis, "Lima belas tahun saya jadi ilmuwan di sini, tak ada satu pun tetangga yang menoleh. Tapi begitu saya renovasi rumah ini jadi dua tingkat seperti rumah kaya lainnya, baru mereka menyapa dan menghargai saya."

Namun, lorong kusam dengan tiga kontrakan petakan itu menyimpan rahasia yang tak pernah terlintas di pikiran warga yang sekadar berlalu-lalang. Tempat itu tidak pernah mengundang selera siapa pun untuk menggali kehidupan di dalamnya, hingga suatu hari Pak Yahya melangkah ke sana.

Pak Yahya adalah pengurus RW sekaligus petugas resmi kelurahan. Tugas rutinnya adalah mendata sensus, menagih iuran sampah, uang duka, hingga biaya keamanan. Dari pintu ke pintu, ia cukup mengenal karakter lahiriah maupun kondisi psikologis warga. Namun, ketika kakinya melangkah mendekati salah satu kontrakan petak di tengah deretan yang kusam itu, sebuah sensasi aneh menghentikan langkahnya.

Sebuah energi yang halus menerpa dadanya. Rasa itu lembut, membahagiakan, dan begitu menyejukkan—sesuatu yang hanya pernah ia rasakan sekali sewaktu muda, sebuah getaran mistis yang seolah jatuh langsung dari langit. Rongga dadanya melapang, memberikan kesegaran batin yang tak pernah ia temukan saat berkunjung ke rumah Ustadz Anwar, rumah para pejabat agama, apalagi rumah orang-orang kaya berpagar tinggi. Dengan langkah tergesa dan napas bergelombang oleh ketakjuban, Pak Yahya mendatangi sumber cahaya tak kasat mata itu.

Pandangannya membentur sebuah keluarga kecil: seorang ayah, ibu, serta dua anak remaja—seorang pemuda berusia 21 tahun dan adiknya, gadis kecil berusia 15 tahun.

"Assalamu’alaikum... Maaf mengganggu, Pak, Bu," sapa Pak Yahya ragu di ambang pintu.

"Wa’alaikumussalam! Eh, Pak Yahya! Silakan masuk, Pak, silakan," sambut sang ayah dengan hangat, matanya berbinar tulus tanpa nada keterkejutan yang dibuat-buat.

Meski ruangan itu tampak sibuk dan belum sempat dirapikan, sambutan antusias keluarga itu menghapuskan canggung seketika. Hal yang membuat Pak Yahya paling terperangah adalah pemandangan di sekeliling dinding kontrakan yang sempit itu. Deretan rak kayu sederhana berjejal penuh dengan ribuan buku dan kitab-kitab klasik. Keberadaan literatur itu menyulap ruangan sempit yang kusam menjadi perpustakaan yang begitu anggun dan berkelas. Buku-buku itu jelas bukan sekadar pajangan; sampulnya yang agak terbuka dan posisi susunannya yang dinamis menandakan kitab-kitab itu dibaca saban hari.

"Silakan duduk dulu, Pak Yahya. Mohon maaf ruangannya agak berantakan," ucap sang ayah sembari tersenyum ramah.

Anak perempuannya yang berusia 15 tahun bergerak cekatan ke belakang, lalu menyajikan segelas minuman herbal yang harum. Sang ibu pun bergegas ke dapur, berniat menyiapkan hidangan.

"Ah, jangan merepotkan, Pak Rahmat, Bu," potong Pak Yahya agak segan. "Saya ke sini hanya ada tugas kelurahan, hendak mendata ulang warga untuk sensus."

Di tengah percakapan itu, pandangan Pak Yahya bertaut dengan mata kedua anak remaja di rumah itu. Bola mata mereka memancarkan tatapan tajam berwibawa bak seekor singa—bukan tatapan gertak yang menakutkan, melainkan pendar mata yang menenangkan dan melindungi.

"Bagaimana Bapak dan Ibu bisa mendidik anak-anak hebat seperti ini?" bisik Pak Yahya, tak mampu menahan kekagumannya. "Saya sangat terkesan dengan cara bicara, gestur, dan tatapan mata mereka. Begitu tenang dan berwibawa, padahal mereka masih sangat muda."

Pak Rahmat tersenyum bersahaja. "Kami tidak mengajari mereka hal besar, Pak Yahya. Kami hanya membiasakan mereka membaca dan mendengarkan sebelum berbicara."

Obrolan singkat itu terhenti karena Pak Yahya harus menyelesaikan tugas sensusnya. Ketika hari beranjak siang dan ia pamit melangkah keluar, Pak Yahya merasakan sesuatu yang ajaib. Kontrakan yang secara fisik hanya berukuran beberapa meter persegi itu mendadak terasa begitu melapang dan membengkak luas di dalam benaknya.

Sebagai mantan santri, Pak Yahya sangat akrab dengan kitab-kitab turats. Namun, di rumah Pak Rahmat tadi, ia melihat buku-buku berhuruf asing—Latin, Inggris, hingga Prancis—bersanding rata dengan kitab-kitab Arab gundul. Takjub dan haru berbaur di dadanya. Cita-cita masa mudanya yang sempat padam untuk menjadi seorang akademisi dan profesor mendadak terngiang kembali.

"Ayo diminum wedang jahenya, Pak Yahya," panggil Pak Rahmat ramah ketika Pak Yahya menyempatkan mampir lagi di lain kesempatan.

Cangkir di hadapannya menyajikan wedang jahe hangat yang ditaburi rempah, susu, dan racikan kacang—minuman kesukaannya. Di lorong kumuh ini, hanya rumah Pak Rahmat yang selalu menyajikan kehangatan istimewa.

"Ini ada sedikit hidangan, Pak. Kebetulan kami baru mendapat kiriman makanan dari kawan-kawan di Arab," tambah sang ibu seraya menyodorkan nampan berisi kudapan khas Mediterania.

Namun, yang paling memikat perhatian Pak Yahya adalah interaksi dua anak laki-laki dan perempuan di rumah itu. Keduanya memiliki kedewasaan pemikiran yang melampaui usianya. Setiap kali mereka berdiskusi, ritme kata-kata yang keluar dari bibir mereka saling mengisi, saling menguatkan, dan penuh presisi ilmu.

Seminggu kemudian, Pak Yahya kembali melewati lorong kontrakan petakan itu. Kali ini, suasananya jauh berbeda. Tempat yang biasanya sunyi dan kusam itu tampak semarak dan hidup.

Di pelataran kontrakan, terlihat beberapa warga asing—bule-bule berparas menawan dengan pakaian kasual bernuansa Timur Tengah—sedang duduk santai. Tatapan mereka memancarkan kecerdasan para seniman dan filsuf. Kontrakan petak di sebelahnya bahkan sengaja dikosongkan untuk menyambut tamu-tamu tak biasa ini. Siapa pun boleh bergabung. Pintu gerbang kayu dibuka lebar-lebar. Makanan dan kudapan lezat khas Mediterania yang jarang dijumpai warga setempat tersaji rapi di atas meja.

"Mari, Bu, Pak, silakan cicipi makanannya," sapa salah satu pemuda asing itu dalam bahasa Indonesia yang fasih namun beraksen lembut.

Merangkul orang-orang bersahaja ternyata menjadi sangat efektif ketika keramahan diwujudkan dalam hidangan lezat dan pintu yang terbuka. Tempat sempit itu kembali terasa membengkak dan meluas, menembus dinding-dinding bata yang membatasinya. Masuk ke area itu seperti melangkah ke alam imajinal yang tak bertepi—sebuah ruang spiritual yang mengingatkan pada Kota Fez di Maroko, tempat waktu seolah berhenti dalam keabadian.

Satu per satu warga Kecamatan Cinere dan sekitarnya mulai mendatangi tempat itu. Para ibu membawa anak-anak mereka. Alasan awal mereka cukup rasional: ingin mencari teman baru, atau sekadar didorong rasa penasaran melihat kerumunan orang, apalagi ada pria dan wanita asing berparas menawan yang sering berkumpul di sana. Warga berdatangan untuk mencicipi hidangan yang menyehatkan.

Anehnya, meski setiap acara dihadiri lebih dari seratus orang, tidak ada kesan kerumunan yang crowded atau desak-desakan. Lalu lintas motor di gang sempit itu tetap lancar. Tak ada suara riuh, riak politik, atau teriakan saling sikut seperti pada pembagian sembako gratis. Peristiwa itu tergolong anomali, tetapi tak seorang pun merasa terganggu. Semua orang larut dalam percakapan yang ringan, bersahaja, dan merasuki jiwa raga.

Batas-batas fisik seolah lenyap karena hati orang-orang di sana telah selaras. Mereka yang hadir mendadak kehilangan kesadaran akan waktu. Jam tak lagi menghabiskan durasi mereka. Diskusi yang mengalir memang terdengar sederhana, tetapi perlahan mengubah jiwa: memperbaiki perspektif hidup, memperhalus empati, mencerdaskan pikiran, dan memperkuat daya ingat. Waktu seakan lelap dalam keheningan spiritual dan sosial yang saling menghargai.

Namun, sebagaimana sunnatullah, setiap sistem yang agung akan diuji oleh proses ketidaksempurnaan. Keunggulan dari komunitas ini adalah kelapangan hatinya untuk memaafkan, menyayangi, dan memberikan kesempatan kedua bagi siapa pun untuk berbenah. Jiwa-jiwa yang unggul di sana selalu belajar menurunkan diri, menyapa mereka yang belum matang, dan melapangkan jalan bagi siapa saja yang ingin bertransformasi.

Hingga suatu hari, seorang pria dengan pembawaan racun dan keangkuhan masuk ke dalam lingkaran itu. Pria itu berniat memanfaatkan komunitas demi kepentingan pribadinya: ia tergiur oleh jaringan warga asing dan berniat mengekspansi kariernya ke luar negeri. Tanpa rasa segan, pria itu mencoba menguasai panggung dengan kata-kata muluk dan tingkah laku yang merusak adab.

Tepat di sebelah kontrakan itu, masjid kelurahan terus berkumandang. Berbeda dari masjid lain yang menggunakan pengeras suara seperlunya untuk adzan, masjid ini menyalakan empat speaker besar ke empat penjuru angin tanpa henti—mulai dari adzan, iqamah, zikir, pengajian, hingga pengumuman jam-jam ibadah. Niatnya mulia: menjaga kesadaran ilahi dan membangunkan jiwa yang lelap. Namun, gemuruh suaranya yang tajam acap kali tak memberikan ruang bagi tubuh-tubuh yang lelah untuk beristirahat.

Di tengah gemuruh speaker masjid dan gangguan kehadiran orang beritikad buruk, komunitas di kontrakan pet. ***

Social Media