Menerawang Demo di Iran
Iran hari ini bukan Iran 1979—tetapi juga bukan sekadar cerminan keinginan Barat. Ia adalah medan tarik-menarik antara sejarah, geopolitik, dan generasi baru yang menuntut artikulasi ulang hubungan antara ideologi, keadilan ekonomi, dan kehidupan sehari-hari.
POLITIK
Dr Haidar Bagir
1/6/20262 min read


Meskipun banyak dibesar-besarkan oleh media Barat, demonstrasi di Iran hari-hari ini, sebagaimana demo-demo sebelumnya, perlu dibaca dari beberapa sudut pandang yang lebih kompleks dan berlapis — bukan semata sebagai “pemberontakan terhadap rezim” atau penolakan total terhadap Republik Islam.
Pertama, sudut ekonomi. Iran memang sedang menghadapi tekanan ekonomi serius, terutama akibat sanksi Barat yang berkepanjangan. Pembatasan akses ke sistem keuangan global, perdagangan energi, dan teknologi berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Di tengah kondisi ini, muncul persepsi—terutama di kalangan kelas menengah dan pelaku ekonomi—bahwa sebagian sumber daya nasional digunakan untuk mendukung apa yang disebut “poros perlawanan” terhadap Israel dan kepentingan Barat di kawasan, sementara problem domestik dianggap terbengkalai.
Kedua, sudut generasi dan jarak historis. Mayoritas warga Iran hari ini tidak lagi memiliki keterikatan emosional langsung dengan Revolusi Islam 1979. Empat puluh enam tahun adalah jarak waktu yang panjang. Sebagian besar pelaku ekonomi, profesional muda, dan generasi produktif bahkan belum lahir ketika revolusi itu terjadi. Akibatnya, mereka sulit menerima beban ekonomi akibat boikot internasional dan mobilisasi sumber daya untuk agenda-agenda geopolitik dan ideologis tersebut.
Ketiga, pergeseran kultural dan ideologis. Generasi yang sama juga hidup dalam dunia yang jauh lebih terhubung secara global. Paparan terhadap ide-ide sekular, liberal, atau setidaknya progresif—melalui internet, media sosial, dan budaya global—membentuk horizon nilai yang sering kali tidak sepenuhnya sejalan dengan ideal-ideal keagamaan konservatif yang menjadi fondasi resmi negara. Ketegangan ini bukan sekadar konflik politik, melainkan benturan antara visi moral, gaya hidup, dan ekspektasi masa depan.
Namun demikian, membaca demonstrasi Iran hanya sebagai “penolakan terhadap Islam” atau “keinginan menjadi Barat” adalah penyederhanaan yang keliru. Yang terjadi lebih tepat dipahami sebagai negosiasi internal yang belum selesai antara negara ideologis, realitas ekonomi, dan masyarakat yang telah berubah secara demografis dan kultural. Iran hari ini bukan Iran 1979—tetapi juga bukan sekadar cerminan keinginan Barat. Ia adalah medan tarik-menarik antara sejarah, geopolitik, dan generasi baru yang menuntut artikulasi ulang hubungan antara ideologi, keadilan ekonomi, dan kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, konsekuensi jangka panjang dari demonstrasi-demonstrasi ini sangat bergantung pada kemampuan pemerintah Iran meyakinkan publik bahwa problem ekonomi dapat diatasi. Narasi ideologis saja tidak lagi cukup; yang dibutuhkan adalah sinyal kebijakan konkret—perbaikan tata kelola ekonomi, pengurangan tekanan hidup sehari-hari, serta prospek yang masuk akal bagi generasi produktif.
Di saat yang sama, negara, sebagaimana dalam penanganan demo-demo sebelumnya, tentu akan menempuh langkah-langkah politis dan keamanan untuk meredam eskalasi, namun efektivitas langkah tersebut sangat ditentukan oleh apakah ia disertai dengan solusi ekonomi yang kredibel atau justru memperdalam jarak antara negara dan masyarakat.
Dalam konteks ini, kicauan Donald Trump yang menyerukan intervensi untuk “membela demonstran Iran” harus dibaca secara kritis. Pernyataan semacam itu konsisten dengan pola kecerobohan Trump dalam banyak isu internasional: simplifikasi berlebihan, orientasi pada panggung domestik AS, dan pengabaian terhadap sensitivitas sejarah bangsa lain.
Intervensi eksternal—baik dalam bentuk tekanan politik, sanksi tambahan, maupun dukungan terbuka terhadap oposisi—memang selalu mungkin terjadi. Namun, sejarah bangsa-bangsa, dan khususnya sejarah Iran, menunjukkan paradoks yang berulang: ancaman dan campur tangan asing justru cenderung memperkuat solidaritas internal, karena masyarakat yang terfragmentasi oleh problem domestik tiba-tiba dihadapkan pada musuh bersama dari luar.
Dalam situasi seperti itu, protes yang awalnya berakar pada keluhan ekonomi dan sosial dapat kehilangan momentumnya, atau bahkan berbalik arah menjadi dukungan defensif terhadap negara. Karena itu, alih-alih melemahkan Republik Islam, intervensi ceroboh dari luar sering kali justru mengukuhkan logika negara keamanan dan menunda—bukan menyelesaikan—problem struktural yang menjadi sumber ketegangan sejak awal. ***
