Perjalanan Ke Karbala
Sungguh indah pesona malam-malam di Karbala. Karbala, yang bermakna ‘tanah dan duka’ ini, selalu menghadirkan suasana religius. Di Bainal Haramain, kami mengumandangkan syair-syair bela sungkawa, layaknya majelis duka yang mengiringi kepergian cucunda Nabi SAWW dalam peristiwa Asyura.
ASYURA
Nure Beheshti
6/16/20264 min read


Sungguh indah pesona malam-malam di Karbala. Karbala, yang bermakna ‘tanah dan duka’ ini, selalu menghadirkan suasana religius. Di Bainal Haramain, kami mengumandangkan syair-syair bela sungkawa, layaknya majelis duka yang mengiringi kepergian cucunda Nabi SAWW dalam peristiwa Asyura.
Musim panas kali ini terasa lebih menyesakkan ketika aku harus berhadapan dengan dua pilihan, mengabulkan permintaan ayahku atau pergi memenuhi “undangan” Imam Husein AS. Jadwal kedatangan ayah dan adikku ke Iran memang hampir bersamaan dengan hari keberangkatanku ke tanah suci Karbala. Sementara, ayah berulang kali memintaku tetap tinggal di Iran untuk menemaninya berziarah dan mengunjungi tempat-tempat wisata di negeri Persia. Menurutnya, aku bisa pergi ke Karbala tahun depan.
Aku pun memutuskan untuk menunda keberangkatan. Rasanya, tidak tega meninggalkan ayah yang datang jauh-jauh untuk melepaskan kerinduannya padaku. Namun tak urung, hatiku terasa sedih, apalagi saat mendengar teman-teman membicarakan persiapan ke Karbala, atau saat mataku menangkap barisan indah teks ziarah Asyura. Hari-hariku pun bagai ditinggalkan oleh semangat. Tak hentinya kuberdoa agar Tuhan memberikan kesempatan padaku untuk menziarahi kekasih-Nya. Kegundahan ini juga selalu kuadukan ke hadapan Sayyidah Ma’sumah, di haram-nya yang terletak di pusat kota Qom. Entahlah, satu perasaan yang tak dapat kumengerti, setiap kali berziarah kepada wanita agung ini, selalu ada harapan besar di balik setiap permintaan.
Selang beberapa hari, terdengar kabar bahwa jadwal keberangkatan ke Karbala ditunda, karena beberapa hal yang belum terselesaikan. Kabar itu bagai membawaku ke angkasa untuk mengucap ribuan syukur. Tak mudah dipercaya, secepat itu Sayyidah Ma’sumah membuat para pemintanya tersenyum.
Tibalah hari keberangkatan. Hari saat kerinduan pada Imam Husein dan Abu Fadhl Abbas tak bisa lagi terbendung. Hari ketika setiap mata yang tertuju pada kami tersirat harapan, salam, serta permohonan doa.
Bus besar berwarna putih dengan setia menunggu di depan gerbang madrasah, sementara kami masih saling mengucap salam perpisahan dengan teman-teman yang belum berkesempatan pergi. Tak lupa, kami meminta maaf kepada mereka, agar tidak ada lagi “hutang” yang menghalangi kami saat berziarah nanti. Kami memohon doa dari teman-teman agar diberi-Nya keselamatan selama perjalanan.
Bus terus melaju, sedang aku masih terus melamunkan sebuah tempat, di mana cucu Rasulullah SAWW telah menghabiskan sisa hidupnya untuk membela agama Islam. Selama ini, aku hanya bisa mengharu biru saat menyaksikan kubah keemasan bertuliskan bendera “Ya Husein” dari balik layar televisi, atau mendengar cerita dari orang-orang yang pernah berkunjung. Seperti mimpi rasanya, aku akan langsung memandangi kubah suci itu.
Setelah menempuh perjalanan selama 15 jam, lambat-laun kota Mehran, perbatasan antara Iran-Irak, mulai terlihat di depan mata. Meski hari masih pagi, namun sengatan matahari terasa kuat hingga menembus kaca mobil. Pada musim panas, matahari selalu datang lebih awal seakan udara pagi enggan memberikan kesejukannya. Namun, sekuat apapun pancaran sinarnya, tidak akan mematahkan semangatku untuk menziarahi makam para syuhada yang gugur dalam pertempuran melawan kaum zalim.
Pemeriksaan ketat menghadang setiap rombongan yang akan memasuki kawasan Irak. Kami harus mengantre di tengah kerumunan orang keluar-masuk di perbatasan dua negara yang pernah dilanda perang berkepanjangan itu, untuk pemeriksaan paspor dan visa.
Di seberang sana, sebuah minibus milik haram Imam Husein AS telah menanti untuk membawa kami melanjutkan perjalanan menuju Karbala, kota yang terletak 100 kilometer sebelah barat daya Baghdad.
Perlahan suara azan maghrib menyelinap dari celah jendela minibus yang kami tumpangi. Lantunan takbir berkumandang indah, menyadarkanku dari kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang. Suguhan indah lain segera kurasakan, saat sebuah kubah keemasan memandikan cahaya lampu terpampang di depan mataku, persis seperti yang sering kulihat di gambar-gambar. Kubah itu milik Abu Fadhl Abbas, pangeran pengambil air minum untuk bayi-bayi yang kehausan di perkemahan Bani Hasyim. Derai air mata pun tak tertahankan, mewakili perasaan haru yang menyelimutiku.
Beliau adalah adik sekaligus tulang punggung Imam Husein. Keberanian, kehebatan, dan kekuatannya saat itu tak tertandingi oleh siapapun. Pada akhir hembusan nafasnya, ketika kedua tangan telah terpisah dari badannya yang bersimbah darah, Abu Fadhl Abbas menangis seraya mengucapkan salam perpisahan pada kakaknya. Imam Husein bertanya sambil mendekap erat-erat adik tercintanya, “Mengapa engkau menangis?” Ia menjawab, “Bagaimana aku tidak akan menangis saat aku melihatmu mengangkat kepalaku dari tanah dan merebahkanku ke pangkuanmu, sementara tak lama lagi tidak akan ada seorang pun yang akan meraih dan mendekap kepalamu dan membersihkan debu-debu dan tanah di wajahmu.”
Tak jauh dari Haram Abu Fadhl Abbas, lagi-lagi nafasku terhenti sejenak saat kulihat kibaran bendera merah bertuliskan “Yaa Husein” yang berdiri kokoh di atas kubah suci cucu Nabi. Di sinilah Imam Husein as dimakamkan. Di tempat inilah aku menuangkan setiap deru kerinduan, tangisan, dan duka yang mendalam atas terbunuhnya putra Amirul Mukminin as. Lambaian daun-daun pohon kurma di Bainal Haramain, tempat antara Haram Imam Husein dan Haram Abu Fadhl Abbas, seakan turut menyambut kedatangan kami. Di atas sana, matahari perlahan menepi ke ujung cakrawala, meninggalkan warna jingga yang indah.
Minibus kami berhenti di ujung jalan kecil, dekat penginapan yang telah disediakan oleh pihak Darul Qur'an. Kedatangan kami memang bukan hanya untuk ziarah, melainkan juga diundang Syeikh Mansouri, ketua Darul Qur’an Haram Imam Husein as, untuk mengikuti short course metode praktis menghafal Al-Qur’an, tajwid, dan metode pengajaran Al-Qur’an. Kursus itu kami jalani setiap hari selama dua minggu di penginapan tersebut.
Syeikh Mansouri adalah ayah dari dua penghafal Al-Qur’an tingkat internasional. Darul Quran memiliki banyak program, di antaranya program hafalan Quran untuk anak-anak. Mengingat Irak adalah negara yang masih dalam masa pemulihan pasca perang, banyak anak-anak yang belum dapat merasakan duduk di bangku sekolah.
Darul Qur’an
Sungguh indah pesona malam-malam di Karbala. Karbala, yang bermakna ‘tanah’ dan ‘duka’ ini, selalu menghadirkan suasana religius. Di Bainal Haramain, kami mengumandangkan syair-syair bela sungkawa, layaknya majelis duka yang mengiringi kepergian cucunda Nabi SAWW dalam peristiwa Asyura.
Selama tinggal di kota Karbala, kami juga menyempatkan berkunjung ke museum unik, bertempat di lantai dua bangunan yang memagari setiap sudut Haram. Di museum itu, tersimpan berbagai benda bersejarah dan bernilai tinggi, serta melambangkan karomah Imam Husein as.
Ada acara yang menurutku sangat berkesan, yaitu ketika kami mendapat kesempatan makan siang di restoran dalam kompleks Haram Imam Husein as. Namun sejujurnya, di lubuk hatiku terbersit rasa malu yang teramat dalam. “Apakah kami layak menerima jamuan istimewa ini, wahai Imam?” Perasaan itu terus menemaniku di sela-sela menikmati jamuan makan.
Sungguh, perjalanan yang indah. Ketika kami meninggalkan Karbala, sungguh terasa bahwa tak mudah berpisah dari kasih sayang para manusia suci itu. Kami akan selalu merindukan setiap sudut Haram dan setiap lorong di Karbala. Karena tanah ini adalah saksi sejarah, tempat kebangkitan melawan ketidakadilan. Kami kembali dengan harapan baru, semoga peristiwa di Karbala 14 abad lalu, memberikan pencerahan serta inspirasi dalam keseharian hidup kami. Terima kasih untuk undangan suci ini, wahai Imam! ***
