Perjalanan Penghormatan Pemakaman al-Syahid Imam Ali Khamene'i (Bagian 1)
Ia letakkan kepala mulia itu di atas meja yang sudah dilapisi kain beludru keemasan, ia taruh baskom disitu dan dengan kain halus ia bersihkan kepala itu dari bekas luka panah dan pecahan batu. Setiap debu ia bersihkan perlahan dengan air mata yang meleleh. Kepala itu mengeluarkan wewangian yang tak pernah tercium sebelumnya.
RISALAH
Prof. Dr. KH. Kholid Al Walid, M.Ag
7/4/20262 min read


Berita keberangkatan
Malam Syams al-Gharibah adalah malam setelah syahid nya Imam Husein a.s., sahabat dan keluarga kecilnya. Tibalah saat bala' dan musibah lainnya. Sayidah Zainab a.s. dan Imam Ali Zainal Abidin a.s. yang dalam keadaan sakit mulai di rantau. Musuh-musuh menakuti anak-anak perempuan Imam Husain a.s. yang masih tersisa.
Di malam itu saya menceritakan satu kisah ketika seorang rahib melihat kepala Imam Husein a.s. di atas tombak mengeluarkan cahaya yang cahaya nya memancar ke langit. Ia bertanya kepada pengawal tentang kepala siapakah itu? Mereka menjelaskan sambil tertawa ruang. Rahib nasrani itu terkejut luar biasa dan berkata 'Sekiranya itu putra Nabi kami maka kami akan menaikkannya di atas punggung punggung kami. Dengan harta yang dimilikinya ia 'meminjam' kepala tersebut. Ia letakkan kepala mulia itu di atas meja yang sudah dilapisi kain beludru keemasan, ia taruh baskom disitu dan dengan kain halus ia bersihkan kepala itu dari bekas luka panah dan pecahan batu. Setiap debu ia bersihkan perlahan dengan air mata yang meleleh. Kepala itu mengeluarkan wewangian yang tak pernah tercium sebelumnya. Ia mengusap-usap wajah mulia itu dengan tangannya sambil membacakan doa-doa.
Sepanjang malam ia terjaga dalam ibadah dan doa disamping kepala tanpa raga. Menjelang subuh tidur meliputinya, dalam mimpinya ia melihat seorang perempuan bercahaya yang wajahnya tertutup kemilau keindahan mendatanginya sambil berkata: "Terima kasih dari kami Ahlul Bait, aku Fathimah putri Muhammad SAW, Nabi terakhir yang diutus Tuhan dan kepala yang kau bersihkan adalah puteraku al-Husein as. kelak engkau mendapat perlindungan kami di akhirat." Rahib itu terjaga, ia menangis terisak-isak dan bertambah air matanya menatap wajah al-Husain. Dihadapan wajah al-Husain ia mengikrarkan Syahadat."
Kisah ini merujuk pada kitab Al-Irsyad karya Syeikh Mufid. Saya sampaikan di malam itu di hadapan jamaah Ahlul Bait as Singapore. Air mata mereka jatuh tak tertahan, isakan terdengar memenuhi ruangan. Mereka yang mengaku sebagai ummat datuknya justru memperlakukan dengan tindakan hina sementara seorang rahib yang belum mengimani Rasulullah SAW justru memperlakukannya dengan penuh kemuliaan.
Acara majlis Syams al-Gharibah ini diakhiri dengan Ziarah setelah Ma'tam dan kemudian saya mengaktifkan kembali handphone. Ada banyak WA yang masuk dan di antaranya dari Ustadz Abdullah Beik mengabarkan undangan untuk menghadiri pemakaman Imam Ali Khamene'i di Iran.
Awalnya saya masih berfikir tentang waktu karena sebagai dosen tentu saya tidak bisa meninggalkan tanggung jawab mengajar begitu saja dan Alhamdulillah kama huwa ahluh waktunya bertepatan dengan libur sebelum UTS.
Kamis tanggal 2 Juli 2026 tiket telah siap. Istri saya seperti biasa dengan cermat menyiapkan keperluan saya dan satu koper berisi indomie, bumbu-bumbu dan makanan lainnya untuk Taqi Askari, ponakan kami yang kuliah di Tehran. Dengan di antar istri dan putri kedua kami Nabila, kami berangkat menuju Bandara Soetta. Biasanya Najwa putri kami ketiga yang mengantar, tapi bertepatan ada UAS sehingga tidak dapat ikut.
Ada 12 orang tokoh yang di undang dari Indonesia untuk menghadiri acara ini. Bagi saya ini satu kehormatan yang luar biasa dan tanpa dinyana saya dan 3 ustad lainnya mendapat kelas business sehingga perjalanan menggunakan flight Oman Air ini terasa sangat nyaman. Perjalanan 8 jam menjadi kesempatan beristirahat yang jarang saya dapatkan di Jakarta. Sedikit lebih lambat dari jadwal, namun tepat pukul 15.00 waktu Jakarta pesawat take off menuju Muscat-Oman.
Pesawat landing pukul 18.43 waktu Muscat atau sekitar pukul 21.40 Waktu Jakarta. Selama penerbangan hanya sedikit turbulence, tapi entahlah ketika tidur melelapkanku.
Kami akan meneruskan penerbangan Muscat-Tehran menggunakan Mahan Air. Maskapai swasta Iran yang usia pesawatnya rata-rata di atas 15 tahun. Kami akan terbang pukul 22.55 waktu Muscat dan diperkirakan tiba di Imam Khomeini International Airport pukul 01.10 dini hari waktu Tehran.
Penerbangan melintas persis di atas selat Hormuz pusatnya konflik. Semoga tidak ada rudal nyasar ketika pesawat melintas dan kabarnya setelah kami tiba bandara Imam Khomeini akan ditutup total hingga selesainya prosesi pemakaman. (bersambung)
