Perjalanan Penghormatan Pemakaman al-Syahid Imam Ali Khamene'i (Bagian 2)
Salam bagimu duhai pemimpin kasih sayang, seperti Al-Husain engkau telah korbankan keluargamu yang tercabik-cabik. Perjalanan kami sekarang menuju kota Qom karena penginapan kami di kota mulia Qom dan esok pagi kami kembali ke Tehran untuk mengikuti prosesi mengantar jenazah.
RISALAH
Prof Dr KH Kholid Al Walid, M.Ag
7/4/20262 min read


Hari Pertama
Flight Fly Sepehran yang kami tumpangi berjenis Boeing 737-300 tiba tepat waktu. Pesawat di penuhi penumpang Iran yang mungkin sudah lama tertahan tidak bisa kembali ke Iran. Pukul 01.10 pesawat mendarat di Imam Khomeini International Airport. Airport ini sempat diserang Amerika tapi sudah tidak tampak sedikitpun bekas serangan tersebut.
Imam Khomeini Airport ini dibangun di tahun 2000an jadi terlihat sudah rada tua walau masih megah. Sepertinya kami pesawat terakhir dan terlihat sangat langeng tidak seperti biasanya. Sejak awal digunakan hingga saat ini tidak terlihat perubahan apa pun.
Udara dingin menusuk pori-pori, berbeda sekali dengan Oman yang kering dan sudah terasa panas. Mungkin udara di Tehran sekitar 20 derajat celcius, nyaman.
Proses Imigrasi sangat cepat selain karena sepi dan juga semua proses kami sudah di urus pihak pengundang dari Iran.
Setelah mengambil bagasi kami keluar dan Taqi sudah menanti dengan senyum lebar. Bahagia entah karena menyambut saya atau oleh-oleh yang banyak semoga karena keduanya. Juga telah menanti Mr. Mottaqi dan Mr. Adib. Mr. Mottaqi masih bertugas di Indonesia tapi lebih dahulu kembali ke Iran sedangkan Mr. Adib pernah cukup lama bertugas di Indonesia dan sekarang kembali bertugas di Al Musthafa International University.
Bagasi kami secara khusus di bawa ke Qom, sedangkan minibus yang membawa kami berencana membawa ziarah ke makam Imam Khomeini yang tidak jauh dari airport namun sayangnya sepertinya sedang dilakukan sterilisasi sehingga kami tidak masuk dan minibus menelusuri jalan-jalan Tehran membawa kami ke salah satu Masjid untuk melaksanakan sholat Shubuh.
Sepanjang perjalanan tidak terlihat bahwa Tehran pernah diserang. Keadaan biasa-biasa saja dan seperti biasa, kesibukan juga berjalan seperti biasa.
Minibus membawa kami ke Husainiyah tempat Rahbar biasa menerima tamu, tapi kali ini berbeda. Kami di hidangkan sarapan pagi dan kemudian diberikan kesempatan khusus untuk menziarahi jenazah Rahbar Imam Ali Khamnei, istri beliau, menantu beliau dan cucu mungil beliau.
Diiringi suara marching band kedukaan dan para pengawal resmi kami memasuki ruang khusus dengan panggung kecil dan 5 koyak jenazah. Di atas kotak jenazah Rahbar di taruh sorban hitam beliau. Melihat pemandangan kotak jenazah Rahbar dan keluarganya hanya air mata dan bibir yang bergetar tak kuasa membacakan salam perpisahan dan al-fatihah. Hanya 10 menit kami diberikan waktu dengan kesedihan yang tak teruraikan.
Salam bagimu duhai pemimpin kasih sayang, seperti Al-Husain engkau telah korbankan keluargamu yang tercabik-cabik. Perjalanan kami sekarang menuju kota Qom karena penginapan kami di kota mulia Qom dan esok pagi kami kembali ke Tehran untuk mengikuti prosesi mengantar jenazah. (bersambung)
