Perjalanan Penghormatan Pemakaman al-Syahid Imam Ali Khamene'i (Bagian 4)
Konferensi di buka oleh Pezeskiyon Presiden Republik Islam Iran. Very Interesting, Pezeskiyon berbicara tentang persatuan Ummat sebagai kata yang mudah di ucapkan dan sangat sulit di wujudkan. Ayat-ayat dan perkataan Imam Ali bin Abi Thalib dari Nahjul Balaghah mengalir tanpa putus.
RISALAH
Prof Dr KH Kholid Al Walid
7/5/20262 min read


Perjalanan ke Tehran yang direncanakan pukul 10.00 waktu Tehran molor 1 jam. Terasa panas angin yang berhembus. Minibus yang tidak nyaman membawa kami semua ke Tehran namun berhenti di makam Imam Khomeini. Makam Imam Khomeini hanyalah bagian kecil dari luasnya aula yang menanungi.
Bangunan dengan perpaduan arsitektur persia dan modernitas. Berbeda umumnya dari bangunan masjid atau hauzah yang cenderung mempertahankan pola arsitek tradisional.
Ternyata sudah banyak para penziarah datang dari beragam daerah dan mereka menginap di komplek makam untuk menantikan penghormatan jenazah.
Setelah sholat zuhur dan ashar pihak pengelolaan komplek tersebut menyiapkan makan siang.
Perjalanan kami lanjutkan menulusuri jalan-jalan Tehran menuju utara. Utara Tehran tempat tertinggi dan umumnya orang-orang kaya Iran tinggal di wilayah ini. Karena memang udaranya lebih sejuk dan lebih hijau.
Pukul 16.00 Kami tiba di gedung yang biasanya memang digunakan untuk konferensi-konferensi International.
Konferensi di buka oleh Pezeskiyon Presiden Republik Islam Iran. Very Interesting, Pezeskiyon berbicara tentang persatuan Ummat sebagai kata yang mudah di ucapkan dan sangat sulit di wujudkan. Ayat-ayat dan perkataan Imam Ali bin Abi Thalib dari Nahjul Balaghah mengalir tanpa putus. Penafsiran terhadap ayat-ayat tersebut menunjukkan penguasaan mendalam beliau terhadap al-Qur'an bahkan menurut saya melebihi DR Tafsir dan diujung pembicaraan beliau menyatakan bahwa beliau tidak akan menyatakan perpisahan dengan Imam Sayid Ali Khamnei karena orang yang mati di jalan Allah tetap hidup sebagaimana yang disebutkan al-Qur'an.
Saya dan Ustad Husein Sahab sempat secara khusus bersalaman dan mengucapkan kebanggan atas Republik Islam Iran serta memperkenalkan asal kami.
Setelah itu bergantian pembicara dari gerakan al-Muqawwamah, Hamas, Jihad Islam, Al-Qassam, Hizbullah, al-Wahdah, kalangan gerakan sosialis Spanyol dan sebagainya. Sayang karena waktu Ustad Zahir Yahya yang tadinya diagendakan untuk menyampaikan speech mewakili delegasi Indonesia tidak dapat tampil.
Makan malam bersama dilakukan di restauran di bagian Tehran yang paling tinggi sehingga hampir seluruh bagian Tehran dapat terlihat. Sayangnya para delegasi harus menanggung rasa lapar yang cukup lama karena ajang makan malam berubah menjadi konferensi tidak resmi kembali di buka dengan bacaan al-Quran, sambutan-sambutan yang panjang dan melelahkan. Pukul 22.00 makanan barulah terhidang.
Kelelahan yang luar biasa maka kami putuskan untuk kembali ke Qom. Rencana awal menginap di Tehran dan subuh ikut mensholati Jenazah Rahbar kami batalkan karena untuk mencapai Mushola Imam kami harus naik mrt yang sudah dipastikan akan kesulitan karena jutaan masyarakat sudah mulai berjalan menuju lokasi.
Plan berikutnya mensholati jenazah Rahbar di kota Qom menjadi lebih memadai. Dan sholat jenazah di Qom akan dilakukan pagi selasa dari Masjid Jamkaran (Masjid Imam Mahdi) hingga Haram Fathimah al-Ma'somah berjarak sekitar 20 Km. (Bersambung)
