Rangkaian Kebaikan: Ma'rifah Ramadhan (13)
Kebaikan itu tidak sekadar perbuatan, tetapi harus tersusun dari tiga unsur yang baik (meliputi): niat yang baik, cara yang baik, dan tindakan kebaikan itu sendiri.
RAMADHAN
Prof Dr KH Kholid Al Walid MAg
3/2/20262 min read


Menarik bahwa Bukhari memulai kitab haditsnya dengan hadits berikut :
إنَّما الأعمالُ بالنِّيَّاتِ وإنَّما لِكلِّ امرئٍ ما نوى
"Sesungguhnya setiap amal itu dengan niat dan segala sesuatu bergantung pada niat."
Niat merupakan maksud dari tindakan yang kita lakukan. Bahwa segala sesuatu sangat tergantung dari maksud orang yang melakukannya.
Pernah seorang Bapak memarahi guru agama yang ketika guru itu mengajar ia membuat simulasi pernikahan. Ada di antara anak-anak murid tersebut yang memerankan pengantin pria dan ada yang memerankan sebagai pengantin perempuan, ada yang memerankan wali dan ada yang memerankan saksi. Apakah terjadi pernikahan di antara mereka? Jelas tidak. Karena maksud dari prosesi tersebut hanyalah simulasi dan praktek ibadah.
Para marketing Pinjol luar biasa manisnya menawarkan pinjaman, menggambarkan bahwa pinjaman itu adalah bantuan yang akan menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi. Tapi begitu anda menerima tawarannya maka mulailah pinjaman itu menjadi masalah yang lebih berat dari yang anda coba atasi. Beberapa mahasiswa saya gagal selesai kuliah setelah terjebak pinjol ini. Caranya baik tapi maksudnya menguras uang anda.
Saya masih ingat ketika kecil mengaji, guru mengaji dikampung selalu membawa rotan. Jika ada di antara kami salah baca maka rotanlah yang berbicara. Niat guru ngaji itu baik dan tujuannya juga baik tapi caranya yang tidak baik. Saya bisa baca al-Qur'an ketika kecil bukan karena guru ngaji tapi otodidak. Saya belajar baca sendiri dengan cara saya sendiri.
Ketika saya di New Zealand ada seorang ibu yang curhat tentang suaminya yang sudah lama mualaf tapi tidak bisa meninggalkan minuman beralkohol. Saya tanya pada suaminya kok masih minum? Suaminya bilang: di sini dingin dan tubuh saya jadi hangat kalau minum-minuman yang beralkohol.
Syaikh Sya'rawi berjumpa dengan seorang pemuda yang sangat agamis. Syaikh Sya'rawi bertanya "kalau engkau melihat orang kafir yang melakukan maksiat apa yang engkau lakukan? "
Pemuda itu dengan semangat berkata: "akan aku bom mereka." Syaikh bertanya lagi: "kalau mereka mati maka ke mana mereka akan pergi?" Pemuda itu menjawab: "Pasti ke Neraka."
Kemudian Syaikh Sya'rawi sambil menghela nafas berkata: "Kalau begitu engkau sudah memudahkan pekerjaan setan. Sungguh berapa jauhnya engkau dari Rasulullah Saw. Engkau berada di satu lembah dan Rasulullah berada di lembah lain. Wahai anak muda tidakkah engkau pernah mendengar kisah ini. Ketika Rasulullah SAW sedang duduk bersama sahabatnya lewat jenazah seorang Yahudi. Rasulullah berdiri hingga jenazah itu lewat kemudian Rasulullah menangis. Sahabat yang duduk di sebelahnya bertanya: Ya Rasulullah mengapa engkau berdiri dan menangis bukanlah itu jenazah Yahudi? Rasulullah SAW berkata: Aku berdiri karena dia adalah hamba Allah dan aku menangis karena sedih tidak mampu memberi petunjuk kepada seorang hamba Allah."
Pemuda agamis itu menginginkan kebaikan, tapi melalui jalan dan pikiran yang salah. Ketika Imam Ali ditanya tentang kalangan Khawarij yang selalu menggunakan ayat, namun tindakannya brutal. Imam Ali menjawab :
"كلمة حق يراد بها باطل"
"Perkataannya benar tapi maksud mereka batil."
Kisah di atas sebenarnya mengantarkan kita bahwa kebaikan itu tidak sekadar perbuatan, tetapi harus tersusun dari tiga unsur yang baik: (1) niat yang baik, (2) cara yang baik, dan (3) tindakan kebaikan itu sendiri.
Tidak cukup dianggap baik sekiranya hanya niat semata, tidak juga dianggap baik kalau cuma caranya yang baik dan tidak juga baik walaupun niat dan caranya yang baik, tapi perbuatannya buruk seperti Robin Hood yang mencuri untuk membantu orang miskin. Ketiga unsur tersebut haruslah baik barulah menjadi kebaikan. ***
