Saat Rasulullah SAW Wafat

Sejarawan Akram Diya` Al-Umari menerangkan bahwa beberapa hari menjelang wafat dan berada dalam kondisi sakit, Rasulullah saw menyiapkan pasukan untuk berperang melawan pasukan Romawi.

SEJARAH

Ahmad Sahidin

10/8/202510 min read

Sejarawan Akram Diya` Al-Umari menerangkan bahwa beberapa hari menjelang wafat dan berada dalam kondisi sakit,[1] Rasulullah saw menyiapkan pasukan untuk berperang melawan pasukan Romawi. Rasulullah saw mengangkat pemuda berusia 18 tahun, Usamah bin Zaid bin Haritsah, sebagai panglima yang membawahi sahabat-sahabat Anshar dan Muhajirin. Di dalamnya terdapat Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Sa’d bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid, dan sahabat senior lainnya. Hanya Ali bin Abu Thalib dan keluarganya (ahlulbait) yang diperintahkan untuk tetap tinggal di Madinah bersama Rasulullah saw.[2]

Tiga hari di akhir bulan Shafar 11 Hijriah, Rasulullah saw memanggil Usamah bin Zaid bin Haritsah dan berkata, “Pergilah ke tempat terbunuhnya ayahmu dan perangilah mereka dan aku mengangkat engkau sebagai panglima pasukan.”

Pengangkatan Usamah sebagai panglima telah menjadi perbincangan di antara para sahabat. Mereka tidak bisa menerimanya karena Usamah merupakan pemuda yang belum berpengalaman dalam perang. Mereka saling membincangkan: mengapa tidak memilih sahabat senior yang sudah berpengalaman. Desas desus ini sampai kepada Rasulullah saw. Karena itu, Rabu pagi, Nabi mengumpulkan pasukan dari Muhajirin dan Anshar yang belum juga berangkat menuju Mu’tah untuk melawan pasukan Romawi.

Dengan kepala dililit serban dan menutupi tubuhnya dengan selimut, Rasulullah saw berkata, “Telah sampai berita kepadaku bahwa sebagian di antaramu telah mencela pengangkatan Usamah sebagai pemimpin (pasukan)! Kalian juga dahulu mencela tatkala aku mengangkat ayahnya menjadi pemimpin sebelum ini! Demi Allah, ia pantas memegang pimpinan sebagaimana ayahnya, yang juga pantas memegang pimpinan.”

Rasulullah saw turun dari mimbar dan menyerahkan panji-panji perang kepada Usamah dengan tangannya sendiri. Dengan membawa panji-panji, pasukan berangkat dan berkemah di Jurf. Pada saat di Jurf inilah terdengar kabar bahwa sakit Rasulullah saw semakin parah dan mendekati ajal. Pasukan Usamah belum juga melanjutkan perjalanan. Umar bin Khaththab dan Abu Bakar berinisiatif kembali ke Madinah[3]dan menginap di salah satu rumah Abu Bakar di Sunh,[4]sekitar satu setengah kilometer ke arah barat Masjid Nabawi.[5]

Malam hari Rasulullah saw berziarah ke makam Baqi. Rasulullah saw mengucapkan, “Assalamu 'alaikum, ya ahlal qubur. Semoga tempat di mana kalian berada ini lebih tenang daripada yang akan dialami oleh orang-orang yang masih hidup. Suatu malapetaka bakal terjadi seperti datangnya malam yang gelap gulita dari permulaan sampai akhir.”

Malam itu juga Rasulullah saw memberitahukan kepada keluarga tentang tanda-tanda akan berakhir masa hidupnya. Rasulullah saw berkata, “Biasanya Jibril menghadapkan Quran kepadaku setiap tahun satu kali, tetapi tahun ini menghadapkan kepadaku sampai dua kali, kukira itu karena ajalku sudah dekat.”[6]

Selama Rasulullah saw dalam keadaan sakit tidak menetap di salah satu rumah istrinya, tetapi berpindah-pindah tempat. Nabi dengan ranjangnya diangkat dari rumah istri yang satu ke rumah istri lainnya yang mendapat jatah giliran. Ketika sakitnya bertambah parah, Nabi Muhammad saw mengumpulkan para istrinya dan meminta izin untuk tinggal di rumah Aisyah binti Abi Bakar.[7]

Dalam Shahih Bukhari,[8]Shahih Muslim,[9]Musnad Ahmad,[10]dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Ath-Thib Al-Nawawi[11]bahwa saat Rasulullah saw sakit yang terbaring di rumahnya, ada beberapa perempuan yang sibuk meracik obat. Salah seorang dari mereka memaksa Nabi Muhammad saw untuk meminumnya, tetapi Nabi menolak. “Jangan minumkan obat itu kepadaku,” kata Nabi. Salah seorang perempuan berkata, “Paksa saja, mana ada orang sakit mau minum obat.” Di antara yang hadir tidak ada yang menuruti ucapannya. Baru ketika Nabi tidur mulutnya dibuka dan dimasukan obat.

Nabi Muhammad saw terbangun karena merasakan sesuatu yang basah dibibirnya. Nabi bertanya, “Siapakah yang melakukan ini?”

Tidak ada seorang pun yang mengaku. Tidak ada yang berani melaporkan, termasuk perempuan-perempuan yang hadir terdiam. Tidak ada yang berani memberitahukan siapa yang melakukannya. Dengan suara parau Rasulullah saw kembali bertanya, “Siapakah yang melakukan ini? Bukankah sudah kularang kalian.” Kembali tidak ada yang mengaku dan Rasulullah saw tertidur lagi.

Ketika Nabi tertidur, istri Nabi lainnya dan para sahabat datang ke rumah Nabi. Rasulullah saw terbangun dan menatap orang-orang yang hadir. Dengan suara lembut, Nabi meminta secarik kertas dan alat tulis untuk menuliskan wasiat yang kalau mengikutinya akan selamat. Namun, Umar bin Khaththab menyatakan Nabi sedang mengingau. Umar juga menyatakan cukup dengan al-Quran sehingga tidak perlu wasiat. Di antara sahabat terjadi keributan antara yang akan memenuhi permintaan Nabi dengan mereka yang menolaknya. Suasana gaduh membuat Nabi terganggu sehingga memerintahkan orang-orang supaya keluar.[12]

Tinggal para istri Nabi yang berada di rumah. Kemudian Nabi menanyakan putri dan suaminya beserta cucu-cucunya. Datanglah Sayidah Fathimah yang didampingi Ali bin Abi Thalib beserta anak-anaknya.

Keluarga Rasulullah saw yang ditunggu sudah berada di samping pembaringan Rasulullah saw. Nabi terbangun dan meminta putrinya membacakan ayat al-Quran. Fathimah membacakan ayat, “(Orang bertaqwa) ialah orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit; dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS Al-Imran [3]: 134). Kemudian Nabi memintanya untuk mendekatkan telinga. Rasulullah saw membisikan sesuatu yang membuatnya menangis. Membisikannya lagi dan kali ini membuat Fathimah tersenyum. Ketika Rasulullah saw kembali tidur, Aisyah menanyakannya, tetapi Sayidah Fathimah tidak memberitahukannya.[13]

Nabi meminta Ali bin Abi Thalib untuk mendekat. Nabi berpesan agar ia yang mengurus jenazahnya dan kalau sudah siap untuk shalat harap meninggalkan ruangan karena para malaikat Allah yang kali pertama menyalatinya. Kemudian meminta siwak dan air untuk bersuci. Nabi dibantu Ali mengambil siwak dan menggunakannya dengan perlahan. Air yang disediakan diambil dengan tangan kemudian melakukan gerakan wudhu dari awal sampai akhir dibantu oleh Ali bin Abu Thalib. Nabi meminta Ali bin Abu Thalib duduk di belakangnya untuk disandari.[14]

Sambil menyandar di dada Ali bin Abu Thalib, Rasulullah saw dengan wajah tersenyum mengembuskan napas terakhir.[15]Ali bin Abu Thalib sambil meneteskan air mata mengusap wajah Nabi kemudian diusapkan di wajahnya. Selembar kain Yaman dibentangkan untuk menutupi jenazah suci Rasulullah saw.[16] Peristiwa ini terjadi 28 Shafar 11 Hijriah (24 Mei 632 M.) dalam usia 63 tahun.[17]

Ali bin Abi Thalib meminta bantuan keluarganya, Abbas bin Abdul Muthalib dan dua putranya, Al-Fadhl dan Qutsam, untuk bersama-sama memandikan jasad Rasulullah saw. Hanya Keluarga Nabi dan segelintir sahabat yang ikut serta dalam pengurusan jenazah Rasulullah saw.

Ali bin Abi Thalib saat memandikan jenazah Rasulullah saw berkata, “Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah, telah terhenti dengan kematianmu hal-hal yang tidak terhenti dengan kematian siapa pun selain engkau, yaitu nubuwwah dan berita-berita (wahyu) dari langit. Kau khususkan dirimu sehingga tiada penghibur selain engkau; sementara kau buka dirimu sehingga semua orang menjadi sama rata di hadapanmu. Sekiranya kau tidak memerintahkan kami agar bersabar dan tidak melarang berputus asa niscaya air mata telah kami kuras habis dalam menangisimu.

Kepiluan segan menghilang, kesedihan pun tak mau beranjak. Dan semua itu masih amat sedikit disbanding beratnya perpisahan denganmu. Namun ketetapan Allah tidak dapat kami tolak atau kami kembalikan. Demi ayah dan ibuku, sebutlah kami di sisi Tuhanmu. Ingatlah kami selalu.”[18]

Usamah bin Zaid dan Syuqran yang mendengar kabar wafat Nabi langsung datang ke rumah Nabi dan ikut membantu dalam mengurus jenazah suci Rasulullah saw. [19]

Selesai dikafani, semua orang yang berada di rumah segera keluar sesuai dengan pesan Rasulullah saw. Kemudian Ali menshalati jenazah Nabi dan dikuburkan dengan bantuan Abbas dan Fadhl di rumah Rasulullah saw,[20]yang kini berada dalam kompleks Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi. ***


Footnote

[1] Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Nabi Muhammad saw menderita sakit kurang lebih tiga bulan setelah haji wada atau tahun ke-7 setelah menaklukan kaum Yahudi di Khaibar. Ketika itu Nabi saw disuguhi makan sepotong daging kambing yang telah diracuni seorang wanita Yahudi. Meski dimuntahkan, tetapi racun yang tertelan membekas dalam tubuhnya dan berujung sakit. Rasa sakit yang paling keras dirasakannya saat berada di rumah Maimunah, istrinya. Lihat Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa Al-Nihayah, jilid V, halaman 101; dan Akram Diya Al-Umari, Tolak Ukur Peradaban Islam (Yogyakarta: Ircisod, 2003) halaman 314.

[2]Akram Diya Al-Umari, Tolak Ukur Peradaban Islam (Yogyakarta: Ircisod, 2003) halaman 311-312.

[3] Jurf terletak tujuh kilometer sebelah barat laut Madînah dan sebelah barat Bukit Uhud. Ada delapan mata air. Padang datar dan sumber air ini menjadikan Jurf tempat perkemahan kafilah. Lihat buku Saqifah: Awal Perselisihan Umat karya O.Hashem (Lampung: YAPI, 1983) bagian Madinah Al-Munawwarah.

[4] Sunh terletak di tepi barat laut Bukit Sala’ dekat sebuah masjid yang bernama Masjid Al-Fatah, berjarak 1,6 kilometer dari Masjid Nabî. Keterangan tersebut diambil dari buku Saqifah: Awal Perselisihan Umat karya O.Hashem (Lampung: YAPI, 1983) bagian Madinah Al-Munawwarah.

[5] Peristiwa lengkap yang berkaitan dengan kejadian-kejadian sebelum wafat Rasulullah saw dapat dilihat pada buku Saqifah: Awal Perselisihan Umat karya O.Hashem (Lampung: YAPI, 1983).

[6] H.M.H.Al-Hamid Al-Husaini dalam buku Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a., (Jakarta: Lembaga Penyelidikan Islam, 1981) Bab V, bagian wafatnya Rasul Allah saw.

[7] Murtadha Muthahhari, Duduk Perkara Poligami (Jakarta: Serambi, 2007) halaman 142-144.

[8] Shahih Bukhari, jilid 7, halaman 17 dan jilid 8, halaman 40.

[9] Shahih Muslim, jilid 7, halaman 24 dan 198.

[10] Musnad Ahmad, jilid 6, halaman 35.

[11] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Ath-Thib Al-Nawawi, jilid 1, halaman 66.

[12] Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari memuat hadits dengan sanad dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah dan berasal dari Ibnu Abbas bahwa ketika Rasulullah saw sedang mendekati ajal, berkata kepada para sahabat yang berada di sekelilingnya. Nabi Muhammad saw berkata, “Marilah, akan kutuliskan untuk kalian suatu wasiat yang dengannya kalian tidak akan sesat sepeninggalku.” Umar bin Khaththab berkomentar, “Nabi dalam keadaan sangat payah (mengingau) dan kalian telah mempunyai al-Quran. Cukuplah Kitab Allah itu bagi kita.” Para sahabat lainnya berselisih. Ada yang segera minta supaya disediakan alat tulis dan ada pula yang menganggapnya sebagai igauan seorang yang sakit. Terjadilah adu mulut di antara mereka yang membuat Rasulullah saw terbangun kemudian menghardik, “Enyahlah kalian!”

Hadits yang sama diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim pada bagian wasiat terakhir dengan sanad dari Sa'ad bin Zubair yang berasal dari Ibnu Abbas. At-Thabrani dalam Al-Ausath menyebutkan, “Pada waktu Rasulullah saw menghadapi ajal, beliau berkata, ‘Bawalah kepadaku lembaran dan tinta. Akan kutuliskan untuk kalian yang dengan itu kalian tidak akan sesat selama-lamanya’. Para sahabat terdiam. Kemudian para wanita yang menunggu di belakang tabir berkata kepada para sahabat Nabi Muhammad saw yang berada di tempat itu, ‘Tidakkah kalian mendengar apa yang dikatakan Rasulullah?’ Umar bin Khaththab segera berkomentar: ‘Kalian itu sama dengan wanita-wanita yang mengelilingi Nabi Yusuf. Jika Rasulullah sakit kalian mencucurkan air mata dan jika beliau sehat kalian menunggangi lehernya!’ Merasa terganggu dengan suara itu, Rasulullah langsung berkata: ‘Biarkan mereka itu, mereka itu lebih baik daripada kalian’.”

[13] Sayidah Fathimah Az-Zahra baru menceritakannya kepada Aisyah setelah selesai penguburan jenazah Nabi Muhammad saw. Sayidah Fathimah memberitahukan bahwa pada bisikan pertama ayahnya mengabarkan malaikat maut telah tiba. Itu sebabnya ia menangis karena sebentar lagi akan menjadi yatim-piatu. Pada bisikan kedua, ayahnya memberitahukan bahwa ia adalah Muslimah pertama yang akan menyusulnya. Inilah yang membuatnya bahagia.

[14] Ada yang berpendapat bahwa Aisyah bin Abu Bakar yang disandari oleh Rasulullah saw. Riwayat ini secara akhlak tidak bisa diterima karena tidak mungkin Nabi Muhammad saw memperlihatkan kemesraan di depan umum. Apalagi di sekelilingnya banyak sahabat dan istri-istri Nabi yang hadir yang bisa mengundang cemburu. Sangat tidak etis Nabi Muhammad saw menyandar di dada seorang perempuan yang dilhat sahabat-sahabatnya. Juga ada pendapat bahwa Usamah bin Zaid bin Haritsah yang menjadi sandaran Nabi ketika wafat. Pendapat ini dikemukakan oleh Ali Syariati dalam buku Rasulullah saw: sejak hijrah hingga wafat (Bandung: Pustaka Hidayah, 2006) halaman 236-237. Riwayat ini bertentangan dengan hadits yang menyebutkan Usamah datang ketika jenazah Nabi akan dimandikan. Bukankah Usamah diperintahkan untuk berperang dan sedang berada di Juhfah ketika Rasulullah saw menjelang ajal? Tampaknya kedua riwayat ini perlu untuk dikaji kembali secara kritis.

[15] Kitab Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid II, halaman 300; dan Ibnu Jarir At-Thabariy dalam kitab Dzakha'irul'Uqba', halaman 73, bahwa Rasulullah saw wafat dalam pangkuan Ali bin Abi Thalib. Dalam kitab Ath-Thabaqat Al-Kubra (jilid 2, bab 2, halaman 29), Abu ‘Abdullâh Muhammad bin Sa’d (lahir 168 H./768 M.) meriwayat­kan dari Ali bin Abi Thalib bahwa tatkala Rasulullah saw wafat kepala beliau berada di pangkuan Alî. Ali bin Abi Thalib berkata: “Rasulullah saw bersabda tatkala beliau sedang sakit: ‘Panggilkan untukku saudaraku!’ Mereka pun memanggil aku (Ali). Dan beliau bersabda: ‘Dekatlah kepadaku!’ Dan aku mendeka­tinya. Kemudian Beliau bersandar dan berkata-kata kepadaku .. sampai penyakitnya menjadi berat di pangkuanku!” Abu Ghatfan berkata: “Aku bertanya kepada Ibnu Abbâs, apakah engkau melihat bahwa Rasulullah saw wafat dan kepalanya berada dipangkuan seseorang?’ Ibnu Abbas menjawab: ‘Rasulullah wafat sambil ber­sandar pada Ali!’ Dan aku bertanya: ‘Urwah menceritakan kepadaku yang didengarnya dari Aisyah yang berkata: ‘Rasulullah saw wafat sedang kepalanya berada antara dada dan leherku (baina sahrî wa nahrî)! Ibnu Abbâs menjawab: ‘Apakah engkau berakal? Demi Allah, sungguh Rasulullah saw wafat sambil bersandar ke dada Ali dan Ali memandikan Beliau.’ Abu Ghatfan berkata: “Aku bertanya kepada Ibnu Abbâs, apakah engkau melihat bahwa Rasulullah saw wafat dan kepalanya berada dipangkuan seseorang?’ Ibnu Abbas menjawab: ‘Rasulullah wafat sambil ber­sandar pada Ali!’ Dan aku bertanya: ‘Urwah menceritakan kepadaku yang didengarnya dari Aisyah yang berkata: ‘Rasulullah saw wafat sedang kepalanya berada antara dada dan leherku (baina sahrî wa nahrî)! Ibnu Abbâs menjawab: ‘Apakah engkau berakal? Demi Allah, sungguh Rasulullah saw wafat sambil bersandar ke dada Ali dan Ali memandikan Beliau.’.

[16] Jafar Subhani, Sejarah Nabi Muhammad saw: ar-risalah (Jakarta: Lentera, 2006) halaman 695.

[17] Maulana Wahiduddin Khan, Muhammad: Nabi Untuk Semua (Jakarta: Alvabet, 2005) halaman 21 disebutkan wafat 8 Juni 632 M. Yang populer di kalangan Ahlussunah bahwa tanggal dan bulan wafat Nabi sama dengan kelahirannya: 12 Rabiul Awwal.

[18] Muhammad Al-Baqir, Mutiara Nahjul Balaghah: Wacana dan Surat-surat Imam Ali R.A.(Bandung: Mizan, 2001) halaman 63.

[19] Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari berkata: ‘Di zaman Umar, suatu ketika Ka’ab Al-Ahbar berdiri dan kami sedang duduk. Ia bertanya kepada Umar, kata-kata apa yang disabdakan Rasulullah saw pada akhir hidupnya?’ Umar menjawab: ‘Tanyakan kepada Alî!’ Ka’ab: ‘Di mana dia?’ Umar: ‘Dia berada di sini!’ Kemudian Ka’ab bertanya kepadanya dan ‘Alî menjawab: ‘Ia bersandar ke dadaku dan kepalanya berada di pundak­ku sambil berkata: ‘(Jangan tinggalkan) salat, salat!’ Kemudian Ka’ab berkata: ‘Demikianlah akhir kehidupan para Nabî dan demikianlah mereka diperintahkan dan di utus!’ Dan ia melanjutkan: ‘Dan siapa yang memandikan wahai Amirull-mukminin?’‘ Umar menjawab: ‘Tanyakan kepada Alî!’ Dan Ka’ab lalu bertan­ya kepada Ali. Kemudian Ali menjawab: ‘Akulah yang memandikannya dan ‘Abbâs pada waktu itu sedang duduk tatkala Usamah serta Syuqran bergantian menyiramkan air!’

[20] Dalam kitab Ath-Thabaqat Al-Kubra (Jilid 2, bab 2, halaman 29) karya Abu Abdullah Muhammad bin Sa’d (lahir 168 H./768 M.)—yang lebih dikenal dengan Thabaqat Ibnu Sa’d—meriwayat­kan dari Ali bin Abi Thalib bahwa ketika Rasulullah saw wafat kepala beliau berada di pangkuan Ali. Ali bin Abi Thalib berkata: “Rasulullah saw bersabda ketika beliau sedang sakit: Panggilkan untukku saudaraku! Mereka pun memanggil aku (Ali). Dan Beliau bersabda: Dekatlah kepadaku! Dan aku mendeka­tinya. Kemudian Beliau bersandar dan berkata-kata kepadaku sampai penyakitnya menjadi berat dipangkuanku!” Abu Ghatfan berkata: “Aku bertanya kepada Ibnu Abbas, apakah engkau melihat bahwa Rasulullah saw wafat dan kepalanya berada dipangkuan seseorang? Ibnu Abbas menjawab: Rasulullah wafat sambil ber­sandar pada Ali! Dan aku bertanya: Urwah menceritakan kepadaku yang didengarnya dari Aisyah yang berkata: Rasulullah saw wafat sedang kepalanya berada antara dada dan leherku (baina sahri wa nahri)! Ibnu Abbas menjawab: Apakah engkau berakal? Demi Allah, sungguh Rasulullah saw wafat sambil bersandar ke dada Ali dan Ali memandikan Beliau.” Abu Ghatfan berkata: “Aku bertanya kepada Ibnu Abbas, apakah engkau melihat bahwa Rasulullah saw wafat dan kepalanya berada dipangkuan seseorang? Ibnu Abbas menjawab: Rasulullah wafat sambil ber­sandar pada Ali! Dan aku bertanya: Urwah menceritakan kepadaku yang didengarnya dari Aisyah yang berkata: Rasulullah saw wafat sedang kepalanya berada antara dada dan leherku (baina sahri wa nahri)! Ibnu Abbas menjawab: Apakah engkau berakal? Demi Allah, sungguh Rasulullah saw wafat sambil bersandar ke dada Ali dan Ali memandikan Beliau.” Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari berkata: “Di zaman Umar, suatu ketika Ka’ab Al-Ahbar berdiri dan kami sedang duduk. Ia bertanya kepada Umar, kata-kata apa yang disabdakan Rasulullah saw pada akhir hidupnya? Umar menjawab: Tanyakan kepada Ali! Ka’ab: Di mana dia? Umar: Dia berada di sini! Kemudian Ka’ab bertanya kepadanya dan Ali menjawab: Ia bersandar ke dadaku dan kepalanya berada di pundak­ku sambil berkata: (Jangan tinggalkan) shalat, shalat! Kemudian Ka’ab berkata: Demikianlah akhir kehidupan para Nabi dan demikianlah mereka diperintahkan dan diutus! Dan ia melanjutkan: Dan siapa yang memandikan wahai Amirulmukminin? Umar menjawab: Tanyakan kepada Ali! Dan Ka’ab lalu bertan­ya kepada Ali. Kemudian Ali menjawab: Akulah yang memandikannya dan Abbas pada waktu itu sedang duduk ketika Usamah serta Syuqran bergantian menyiramkan air!