SAYA TIDAK TAHU

Di masa lalu, kebijaksanaan dimulai dari kerendahan hati intelektual. Orang belajar bertahun-tahun sebelum merasa layak berbicara. Dan, makin pintar ia, makin ia tahu bahwa lebih banyak hal yang tidak ia ketahui. Kini yang terjadi justru sebaliknya: semakin sedikit pengetahuan, semakin besar rasa percaya diri bahwa dia tahu segalanya.

AKHLAK

Dr. Haidar Bagir

6/14/20262 min read

white concrete building during daytime
white concrete building during daytime

Socrates diriwayatkan pernah mengatakan: “Satu-satunya kebijaksanaan sejati adalah tahu bahwa kamu tidak tahu.”

Terlepas dari apakah kalimat itu secara persis benar-benar diucapkan Socrates hal itu menunjuk kepada satu persoalan besar zaman kita: hilangnya kesadaran akan batas pengetahuan diri sendiri.

Di masa lalu, kebijaksanaan dimulai dari kerendahan hati intelektual. Orang belajar bertahun-tahun sebelum merasa layak berbicara. Dan, makin pintar ia, makin ia tahu bahwa lebih banyak hal yang tidak ia ketahui. Kini yang terjadi justru sebaliknya: semakin sedikit pengetahuan, semakin besar rasa percaya diri bahwa dia tahu segalanya.

Media sosial menjadikannya lebih parah dengan menciptakan ilusi kompetensi. Membaca dua thread, menonton satu video pendek, atau mendengar potongan podcast sering dianggap cukup untuk merasa lebih tahu daripada ilmuwan, dokter, ulama, atau orang yang menghabiskan puluhan tahun mendalami suatu bidang.

Dan, masalah yang paling besar adalah, makin tidak tahu seseorang, makin tidak tahu pula dia bahwa dirinya tidak tahu. Makin tidak tahu dia, makin merasa bahwa ia tahu segala. Terciptalah lingkaran setan yang menjebak tanpa orang bisa keluar darinya.

Fenomena inilah yang oleh penulis buku The Death of Expertise disebut sebagai “kematian kepakaran”. Bukan karena para ahli sudah tidak ada, tetapi karena otoritas pengetahuan kehilangan legitimasi di mata publik. Semua opini dianggap setara, seolah pengalaman panjang, metodologi ilmiah, disiplin intelektual, dan verifikasi fakta tidak lagi memiliki nilai lebih dibanding teriakan paling keras di internet.

Ironisnya, Socrates justru mengajarkan bahwa orang bijak adalah orang yang sadar bahwa dirinya bisa salah. Sedangkan budaya digital hari ini sering memberi panggung terbesar kepada mereka yang paling yakin, bukan yang paling tahu. Akibatnya bukan sekadar kebisingan. Dalam politik lahir populisme dangkal. Dalam agama muncul fatwa instan. Dalam kesehatan tersebar hoaks medis. Dalam kehidupan sosial berkembang kemarahan kolektif yang diproduksi oleh ketidaktahuan yang merasa dirinya pengetahuan.

Peradaban tidak runtuh hanya karena kurangnya informasi. Kadang ia runtuh karena terlalu banyak orang berbicara tentang hal yang tidak mereka pahami, sambil kehilangan kemampuan paling dasar dari intelektualitas: mengatakan, “Saya tidak tahu.”

Inilah, sekali lagi, problem terbesar zaman kita. Kalimat (yang diatribusikan kepada) Ibn Sina di bawah ini menjelaskan segalanya:

“Semua masalah akan selesai jika orang-orang bodoh berhenti bicara.”

Persoalannya sekarang, makin tidak tahu seseorang, makin pe-de ia untuk berbicara. Tentang apa saja...

Social Media