Tangisan Laleh Bertambah Deras ketika Peti Jenazah Imam Ali Khamenei Melintas Dihadapannya
Perempuan muda Iran di Tehran menangis sesenggukan. Air matanya tak berhenti. Ia menyesal dengan penyesalan teramat dalam, ia marah, marah pada dirinya, kebodohan yang ia sesali.
Prof. Dr. KH. Kholid Al Walid, M.Ag
7/12/20261 min read


Pedaremun az dast raft, Pedare Iron ro az dast raft
Perempuan muda Iran di Tehran menangis sesenggukan, air matanya tak berhenti. Ia menyesal dengan penyesalan teramat dalam, ia marah, marah pada dirinya, kebodohan yang ia sesali. Ia ikut mengantarkan jenazah Imam Ali Khamnei sepanjang jalan dengan harapan bahwa kelemahannya dapat menebus semua kebodohan yang ia lakukan selama ini.
Laleh, selama ini adalah yang paling menentang pemerintahan. Ia hadir dalam demo-demo dan meneriakkan bahwa Khamenei Diktator, ia pernah merobek foto Rahbar. Namun kemudian ia menyadari ada yang salah padanya, ia mengikuti ceramah-ceramah Imam Ali Khamnei. Ia dapati ceramah-ceramah yang menyejukkan dan membuka hatinya. Ia sadar dirinya telah terprovokasi oleh media-media sosial ia menyesal dan penyesalannya bertambah ketika Imam Ali Khamenei terbunuh.
Ia ingin Rahbar mendengar penyesalannya dan ia kini ikut dalam malam-malam duka menangisi kepergian Imam dan mengutuk Amerika dan Israel.
Kisah Laleh tidak satu. Ada Laleh yang lain. Anak-anak muda yang menginginkan kebebasan, kehidupan yang mudah dan seperti umumnya anak-anak muda mereka lebih banyak mengakses media-media sosial dan lebih mempercayai apa yang dinyatakan media sosial.
Kini tangisan Laleh bertambah deras ketika peti jenazah Imam Ali Khamenei melintas dihadapannya. Penyair menyenandungkan lagu duka. Khudo Hofez, Khudo Hofez, Fi Amanillah, Fi Amanillah..
