Tenangkan Batinmu dengan Kebaikan: Marifah Ramadhan

Kegelisahan bathin merupakan tekanan berat bagi seseorang. Dan banyak yang kemudian memintas jalan mengakhiri hidupnya karena kegelisahan selalu meliputinya.

RAMADHAN

Prof Dr H Kholid Al Walid

3/17/20262 min read

Kegelisahan bathin merupakan tekanan berat bagi seseorang. Dan banyak yang kemudian memintas jalan mengakhiri hidupnya karena kegelisahan selalu meliputinya.

Melepaskan diri dari jeratan kegelisahan ini begitu berat, obat tidak cukup dan psikiater seringkali hanya menambahkan dosis.

Al-Qur'an pada tiga Surah Qul hanya pada Surah Qul ketiga yaitu An-Nas kita diminta berlindung melalui tiga sisi ke-Tuhanan.

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ مَلِكِ النَّاسِ اِلٰهِ النَّاسِ

"Katakanlah, aku berlindung dari Tuhannya manusia, rajanya manusia, sembahan manusia"

(An-Nās [114]:1-3)

Terhadap apa kita diminta berlindung? Terhadap rasa was-was yang 'menghantui' jiwa manusia.

Ada sahabat saya mantan pramugara maskapai internasional. Salah satu keahliannya melayani penumpang adalah mencampur-campur minuman. Mungkin di masa mudanya pekerjaan itu sangat memadai namun semakin lama ada kegelisahan yang menerpa jiwanya. Pada puncaknya ia memutuskan untuk mengajukan pensiun. Hasil pesangonnya ia belikan rumah dan mobil baru, mobilnya dia gunakan untuk narik penumpang.

Satu petang sahabat saya ini telpon, ia sangat ingin bertemu saya secepatnya, dari nada suaranya saya mendengar kegelisahan. Tidak lama ia sudah tiba di rumah saya. Wajahnya lelah dan pandangan matanya tidak fokus. Saya langsung menebak bahwa ia stress. Ia mulai bertanya tentang kematian tapi saya bertanya apa masalah yang dia hadapi. Ia bilang bahwa dirinya tak tenang, tidur sulit dan ketakutan akan kematian tiba. Saya bertanya lagi penyebab utamanya.. Ia berkata bahwa ia divonis dokter menderita Cancer. Sudah sepuluh hari ia mengalami hal ini. Saya berkata pada dia bahwa saat ini ia masih hidup, kenapa tidak dinikmati untuk bersama keluarga? Saya tahu ia tertekan, saya ajak ia jalan dan makan nasi goreng di pinggir jalan, saya biarkan ia mengeluarkan keluhannya. Saya biasa menghadapi orang yang tengah mengalami tekanan seperti ini. (Walau sahabat saya ini ternyata kemudian diketahui hanya menderita prostat).

Tapi kegelisahan itu menyakitkan. Bukankah dengan zikir hati menjadi tenang?

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram."

(Ar-Ra‘d [13]:28)

Saya memahami bahwa ketenteraman bukan sekedar dengan menyebut-nyebut nama Allah akan tetapi ketika kesadaran seseorang itu memang hanya pada Allah maka jiwanya tenteram. Ini untuk mereka yang sudah mencapai derajat kecintaan pada Allah maka hanya dengan Allah saja hati mereka akan tenteram.

Jadi kalau pada tingkat kita zikir tidak otomatis menjadi 'obat' penenang. Jangan salahkan ayat Allah kalau tetap tidak tenang walau sudah merasa banyak berzikir.

Kebaikan pintu ketenangan karena kebaikan seirama dengan panggilan hati manusia. Setiap kebaikan yang dilakukan akan membawa ketenangan dan semakin banyak kebaikan yang dikerjakan akan membuat jiwa menjadi tenteram.

Jiwa yang tenteram (Nafs al-Muthmainnah) adalah jiwa yang dimiliki oleh orang-orang yang baik. Mereka mencapai ketenangan dan ketentraman karena jiwa mereka telah di penuhi kebaikan.

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْ ۗوَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ

"Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

(Al-Fatḥ [48]:4)

Dulu saya memiliki seorang guru (semoga Allah memuliakan beliau) setiap kali mengajar kami ia membagikan makanan, kalau ada yang sakit di antara kami dia membawa berobat, di musim dingin dia membagikan selimut tebal untuk kami. Suatu saat beliau mengundang kerumahnya untuk makan siang. Rumahnya kecil sekali di dalam gang sempit dan itupun menyewa. Istrinya yang memasak dan kelima anaknya sibuk melayani kami. Di rumahnya hampir tidak ada barang apa-apa hanya karpet usang dan kitab-kitab. Di ujung jamuan itu saya memberanikan diri bertanya: "Syaikh anda baik sekali kepada kami?" Beliau berkata: " Allah sudah sangat baik kepada kita maka kita harus berbuat kebaikan kepada siapapun dan Allah akan memenuhi seluruh keperluan hidup kita".

Saya melihat wajah keluarga ini dipenuhi ketulusan dan ketenteraman. Dari mereka saya belajar jangan mencari ketenangan tapi lakukanlah kebaikan karena itu akan menenangkan hati kita. ***