Tharaif al-Hikmah
Hati kita, jiwa kita, pikiran dan perasaan kita bisa lelah juga. Ia bisa capek, jenuh dan bosan. Sebagaimana badan kita. Ia perlu istirahat. Imam Ali as menyebutnya tharaif al-hikmah. Percik kebijaksanaan, sentuhan kearifan. Ia bisa datang kapan saja, di mana saja, dan dari siapa saja. Itulah barang yang hilang dari kaum Mukminin. Sesuatu yang dirindukan, yang diharapkan.
AKHLAK
KH Miftah Fauzi Rakhmat
6/13/20263 min read


Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Ali Sayyidina Muhammad
Dear Ibu Bapak yang baik hati, saudaraku sekalian.
Belakangan ini ada kalimat Imam Ali as yang sering saya kutip. “Sesungguhnya hati ini (dapat) melemah, sebagaimana melemahnya tubuh. Maka berikanlah kepadanya tharaif al-hikmah.” (Hikmah ke-75 Nahjul Balaghah, dimuat pula dalam ‘Uyun Akhbar al-Ridha as).
Hati kita, jiwa kita, pikiran dan perasaan kita bisa lelah juga. Ia bisa capek, jenuh dan bosan. Sebagaimana badan kita. Ia perlu istirahat. Imam Ali as menyebutnya tharaif al-hikmah. Percik kebijaksanaan, sentuhan kearifan. Ia bisa datang kapan saja, di mana saja, dan dari siapa saja. Itulah barang yang hilang dari kaum Mukminin. Sesuatu yang dirindukan, yang diharapkan.
Beberapa hari yang lalu, saya silaturahmi pada kawan-kawan Konghucu. Setelah berbincang satu dan lain hal, bahasan sampai pada kajian Ba Zi. Ini ilmu membaca kepribadian dan perjalanan hidup seseorang berdasarkan tanggal, jam, bulan, dan tahun kelahiran seseorang. Ba Zi berarti delapan aksara. Ia lebih dikenal sebagai ilmu tentang empat pilar nasib, meliputi pilar tahun, bulan, hari dan jam kelahiran. Menarik, saya minta diri saya dibaca. Saya sebut jam kelahiran sesuai ingatan. Sekiranya hasilnya kurang baik, mungkin saya ganti jam kelahiran saya. Tapi kata kawan Konghucu, garis besarnya akan sama saja.
Saya pun menyimak apa yang beliau sampaikan. Ada beberapa pesan. Antara lain, saya mesti lebih sering berolahraga. Saya mesti mengurangi ekspektasi yang ada pada sesama, dan yang terpenting: saya sering terjebak dalam berbagai masalah dan dilema, bukan diri sendiri melainkan orang-orang di sekitar dan yang datang pada kita. Istri saya menjawab, “Itu mah kerjaan dia.” Maksudnya, saya sering dapat berkah ikut berkhidmat untuk membantu mengurai berbagai permasalahan kawan-kawan. Demikian bacaan Ba Zi saya.
Anak saya menyebut saya dapat jatuh pada Compassion Fatigue. Lelah karena berwelas asih. Sementara saya melihatnya sebagai sebuah kesempatan, sebuah alap keberkahan. Khidmat pada sesama adalah sekecil apa yang bisa saya lakukan untuk ikut alap berkah para pengkhidmat sepanjang masa. Para kekasih hati yang dirindukan, semua adalah teladan tersempurna di jalan perkhidmatan. Selalu menyambut dengan tangan terbuka. Selalu bersiap kapan saja diminta.
Tapi memang, lelah itu sesekali datang. Terasa dengan mengerasnya beberapa bagian tubuh, atau pikiran yang tak dapat berfungsi penuh. Ia perlu istirahat. Meski kadang berat, bukan berarti tak dijalani. Ruh hanya perlu sentuhan hikmah itu. Percik kebijaksanaan yang akan menyiram dedaunan layu dengan satu sentuhan butir tetes air yang segar.
Sebutir air bagi ruh yang lelah itu bisa jadi sebuah kalimat penggugah, sebuah cerita indah. Kata-kata inspiratif, lirik musik, senyuman seorang kawan atau bahkan pelukan hangat dari anak-anak dan keluarga. Sebuah gestur you’re not alone. Sebuah titipan doa: I hope you win the battle you tell noone about. Sebuah harapan, tetap bertahan. You can do it. Atau ibarat lagu penggugah dari penyanyi Ghea Indrawari, “…selama ini kau hebat, hanya kau tak didengar.”
Kadang juga, kita perlu menangis. Air mata yang menyembuhkan. Allah yarham Bapak pernah berkata, “Kadang kita hanya memerlukan tempat saja untuk menangis. Air mata itu sudah kita simpan sejak lama.” Penyebabnya bisa apa saja, ya kelelahan hati itu. Menangis itu sehat. Ia menguatkan.
Hari Sabtu lalu saya mengajak keluarga untuk menonton film Children of Heaven. Film remake dari film peraih penghargaan Oscar tahun 1997 itu dikemas ulang dengan konteks ke-Indonesiaan. Secara teknis penggarapan naskah, film cukup berhasil menampilkan pesan utama dengan potret latar belakang tanah air tercinta. Saya tidak ingin menceritakan lebih jauh. Saya hanya ingin menyampaikan selamat dan terima kasih pada setiap pihak yang terlibat. Sungguh, banyak sentuhan hikmah yang saya peroleh untuk mengistirahatkan lelahnya pikiran itu. Kita selalu dapat melihat satu peristiwa, bahkan film dalam hal ini, dalam bingkai kacamata personal kita. Dari latar belakang peristiwa kehidupan kita. Saya tersentuh melihat persaudaraan yang indah. Saya terharu menyaksikan ikhtiar seorang ayah. Saya larut dalam kebersamaan perjuangan. Saya kagum pada kesetiaan nilai yang dipertahankan.
Yang indah itu prosesnya. Kata kawan saya, seorang marketing perumahan, “Rezeki itu pada usahanya. Kalau ada yang deal, itu bonus.” Luar biasa! Inilah sentuhan hikmah itu.
Semoga filmnya bertahan lama di bioskop. Saya dengar masih bersaing dengan film-film yang menawarkan ketakutan. Bagi anggota grup yang berkeleluasaan, yuk mari kita sempatkan memperkenalkan pesan dalam film itu pada keluarga kita. Kalau memungkinkan, siap kita agendakan nonton bareng. Bu Admin nanti yang koordinasikan. Semoga dapat jadi penyejuk di tengah menghangatnya berbagai hal yang kita hadapi dalam hidup kita.
Sehat wal ‘afiyah selalu keluarga semua, dalam sebaik dan seindah perjalanan kehidupan.
@miftahrakhmat
