Tuhan Bersifat Impersonal dan Personal dalam Filsafat Islam

Dalam filsafat Sadrian, Tuhan dipahami sebagai Wujud Mutlak atau Wujud Murni tanpa batas, tanpa komposisi, dan tanpa kekurangan. Tuhan bukanlah satu entitas di antara entitas-entitas lain, melainkan realitas wujud itu sendiri dalam intensitas tertingginya.

FILSAFAT

Ustadz Mohammad Adlany, Ph.D.

1/24/20263 min read

Salah satu ketegangan klasik dalam diskursus teologi dan filsafat ketuhanan adalah pertanyaan: apakah Tuhan bersifat personal atau impersonal? Dalam perdebatan modern, Tuhan personal sering dipahami sebagai subjek sadar yang berkehendak dan berelasi dengan manusia.

Sementara Tuhan impersonal dipahami sebagai prinsip metafisis tertinggi yang melampaui kesadaran dan relasi. Dikotomi ini kerap melahirkan kesalahpahaman seolah-olah Tuhan harus dipilih antara “pribadi yang berkehendak” atau “realitas absolut yang dingin dan abstrak”.

Filsafat Islam, khususnya dalam sintesis metafisika Mulla Ṣadra, menawarkan jalan keluar dari dikotomi tersebut. Dengan bertumpu pada prinsip "kehakikian wujud" dan "gradasi wujud", filsafat Sadrian memungkinkan pemahaman bahwa Tuhan bersifat impersonal secara ontologis, namun bersifat personal secara relasional.

Wujud Mutlak Tuhan dan Dimensi Impersonalitas-Nya

Dalam filsafat Sadrian, Tuhan dipahami sebagai Wujud Mutlak atau Wujud Murni tanpa batas, tanpa komposisi, dan tanpa kekurangan. Tuhan bukanlah satu entitas di antara entitas-entitas lain, melainkan realitas wujud itu sendiri dalam intensitas tertingginya.

Kehakikian Wujud dan Konsekuensinya

Prinsip kehakikian wujud menegaskan bahwa yang sungguh-sungguh nyata dan hakiki adalah wujud, bukan kuiditas. Karena itu, Tuhan sebagai puncak realitas bukanlah kuiditas tertentu yang “memiliki” wujud, tetapi wujud itu sendiri. Konsekuensinya, Tuhan tidak dapat dipahami sebagai individu personal seperti manusia.

Tuhan tidak berada dalam kategori psikologis: emosi, perubahan, atau proses mental. Tuhan melampaui kategori “aku” dalam pengertian antropomorfik.

Di sinilah makna impersonalitas ontologis Tuhan: bukan berarti Tuhan tidak sadar atau tidak mengetahui, tetapi bahwa kesadaran dan pengetahuan-Nya tidak bersifat diskursif, temporal, atau psikologis.

Ketunggalan Mutlak

Mulla Ṣadra menegaskan bahwa Tuhan adalah realitas yang sepenuhnya tunggal. Pada Tuhan, seluruh sifat-Nya adalah wujud-Nya itu sendiri. Karena itu, Tuhan tidak memiliki “sifat tambahan” sebagaimana makhluk. Ini semakin menegaskan bahwa Tuhan, secara ontologis, tidak dapat direduksi menjadi “pribadi” dalam pengertian biasa.

Gradasi Wujud dan Dasar Relasi Tuhan–Makhluk

Walaupun Tuhan bersifat impersonal secara ontologis, filsafat Sadrian tidak jatuh ke dalam deisme atau absolutisme metafisis yang memutus relasi Tuhan dengan alam. Kunci relasi tersebut terletak pada doktrin gradasi wujud.

Wujud bersifat satu secara hakikat, namun bergradasi dalam intensitas dan kesempurnaan. Tuhan berada pada puncak gradasi tersebut, sementara makhluk berada pada tingkat-tingkat bawah.

Implikasinya, relasi Tuhan dan makhluk bukan relasi eksternal, melainkan relasi ontologis-asimetris. Makhluk “hadir” dalam Tuhan secara bergantung mutlak, sementara Tuhan tidak bergantung pada makhluk.

Pengetahuan Tuhan terhadap Makhluk

Dalam filsafat Sadrian, pengetahuan Tuhan atas makhluk bersifat ilmu ḥuḍhuri, yakni Tuhan mengetahui makhluk karena makhluk hadir secara eksistensial di hadapan-Nya.

Tidak ada perantara konseptual atau temporal. Ini membuka ruang bagi pemahaman sifat Tuhan yang personal secara relasional, tanpa menurunkan Tuhan ke level psikologi manusia.

Sifat-Sifat Tuhan yang Bersifat Relasional (Dimensi Personal)

Walaupun Tuhan adalah Wujud Mutlak yang impersonal secara ontologis, Al-Qur’an dan tradisi teologis filsafat Islam menegaskan sifat-sifat Tuhan yang berhubungan langsung dengan makhluk seperti Maha Mengetahui, Maha Pengasih, Maha Mendengar, Maha Menjawab doa. Dalam perspektif Sadrian, sifat-sifat ini dipahami secara filosofis, bukan antropomorfis.

Kehendak Tuhan (Iradah)

Kehendak Tuhan bukanlah keputusan temporal setelah pertimbangan, melainkan bahwa identik dengan eksistensi Tuhan sebagai sumber keteraturan dan tujuan alam.

Dengan demikian, penciptaan bersifat disengaja (teleologis), namun tanpa perubahan atau proses psikologis dalam diri Tuhan.

Rahmat, Cinta, dan Kedekatan

Rahmat Tuhan dalam filsafat Sadrian dipahami sebagai emanasi atau pancaran wujud, bukan emosi sentimental.

Ketika Al-Qur’an menyatakan bahwa Tuhan “dekat” atau “mengabulkan doa”, kedekatan ini adalah kedekatan ontologis, bukan spasial atau emosional.

Namun bagi makhluk yang mengalami relasi tersebut, Tuhan sungguh hadir secara personal dan bermakna.

Tuhan: Bukan Person, tetapi Berelasi Secara Personal

Sintesis Sadrian dapat dirumuskan secara ringkas sebagai berikut: Tuhan bukan person dalam pengertian individu psikologis dan Tuhan melampaui personalitas, tetapi tidak meniadakan makna personalitas.

Relasi Tuhan dengan manusia bersifat personal dari sisi manusia, namun tetap impersonal dari sisi ontologi Tuhan. Dengan demikian, doa bukan dialog dua subjek setara, melainkan proses penyelarasan eksistensial makhluk dengan sumber wujudnya.

Wahyu bukan komunikasi linguistik biasa, melainkan manifestasi ilmu ilahi pada tingkat kesadaran kenabian.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa filsafat Sadrian menawarkan kerangka teologis-filosofis yang matang untuk memahami Tuhan sebagai Wujud Mutlak yang impersonal secara ontologis, sekaligus realitas yang personal secara relasional. Pendekatan ini menghindari dua ekstrem: antropomorfisme teologis dan absolutisme metafisis yang kering.

Dengan kerangka ini, keimanan tidak terjebak pada citra Tuhan yang terlalu manusiawi, namun juga tidak kehilangan makna doa, etika, dan relasi spiritual.

Tuhan tetap transenden dalam wujud-Nya, sekaligus imanen dalam relasi-Nya—sebuah sintesis yang menjadi salah satu kontribusi terbesar filsafat Islam, khususnya melalui pemikiran Mulla Ṣadra. *** (Ditulis oleh Ustadz Mohammad Adlany, Ph.D.)