Wafatkanlah kami Bersama Al-Abrar: Ma'rifah Ramadhan

Al-Qur’an menggunakan istilah Al-Abrar untuk menyebut manusia-manusia pilihan yang kualitas kebaikannya telah matang. Mereka bukan sekadar pelaku kebajikan sesekali, tetapi pribadi yang menjadikan kebaikan sebagai watak, nafas, dan arah hidup.

RAMADHAN

Prof DR KH Kholid Al Walid

3/9/20262 min read

رَبَّنَآ اِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُّنَادِيْ لِلْاِيْمَانِ اَنْ اٰمِنُوْا بِرَبِّكُمْ فَاٰمَنَّا ۖرَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّاٰتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْاَبْرَارِۚ

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru pada keimanan, yaitu ‘Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,’ maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang selalu berbuat kebaikan (al-abrar)." (QS Āli ‘Imrān [3]:193)

Ayat ini sekaligus doa yang sering kita lantunkan dan merupakan salah satu doa yang dianjurkan untuk menjadi bagian bacaan ketika kita Thawaf mengelilingi Ka'bah. Ini tentu menunjukkan bahwa do'a ini merupakan do'a yang penting kita tengadahkan keharibaan Allah SWT.

Menariknya dari do'a ini adalah permohonan agar Allah mewafatkan kita bersama dengan Al-Abrar. Bersama (ma'a) menunjukkan bahwa dia tidak termasuk dari golongan Al-Abrar, seperti halnya kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar. Menunjukkan bahwa Allah melindungi, menguatkan orang-orang yang sabar.

Sehingga memohon di wafatkan bersama Al-Abrar bermakna memohon agar mendapatkan kebaikan sebagaimana yang didapat oleh Al-Abrar. Seperti seorang santri yang menemani Kyainya untuk mengisi majlis maka santri tersebut mendapatkan penghormatan seperti penghormatan yang diberikan pada sang Kyai. Pendapat umumnya menyatakan demikian ketika kita memohon untuk bersama Al-Abrar.

Namun dalam tafsir Bayan al-Sa'adah sebuah tafsir Sufi, penulisnya al-Kalabazi menyatakan bahwa seorang pendosa yang bertaubat dia kembali pada golongan orang-orang yang baik dan harapannya adalah ia dapat terus berada pada kedudukan tersebut dan selalu dalam golongan orang-orang baik atau Al-Abrar.

Sekiranya kita bukan termasuk Al-Abrar maka siapa Al-Abrar yang dimaksud? Atau kita sudah termasuk Al-Abrar namun kita khawatir wafat justru tidak termasuk golongan tersebut sehingga kita dianjurkan untuk selalu melantunkan doa tersebut? Keduanya makna tersebut bisa jadi benar namun bagaimanakah kriteria Al-Abrar?

Al-Qur’an menggunakan istilah Al-Abrar untuk menyebut manusia-manusia pilihan yang kualitas kebaikannya telah matang. Mereka bukan sekadar pelaku kebajikan sesekali, tetapi pribadi yang menjadikan kebaikan sebagai watak, nafas, dan arah hidup. Kata Al-Abrar berasal dari akar kata Al-Birr yang bermakna kebaikan yang luas, ketulusan yang dalam, serta kebajikan yang menyeluruh—lahir dan batin.

Ketika Imam Al-Hasan Ibn Ali berjumpa dengan seorang Khawarij yang memaki-makinya dengan perkataan kotor ada penduduk Madinah yang berkata "Wahai cucu Rasulullah, mengapa engkau tak membalas makian orang tadi? " Al-Hasan berkata "Aku tidak tahu harus berkata apa karena kami tidak pernah di ajarkan berkata kotor".

Al-Hasan (as) merupakan bagian dari Ahlul Bait Nabi Saw yang Allah SWT bersihkan jiwa mereka. Sebagaimana Allah SWT berfirman :

ۗاِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًاۚ

"Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa darimu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (QS Al-Aḥzāb [33]:33)

Ahlul Bait Nabi Saw tentu adalah Al-Abrar demikian juga para kekasih Allah SWT yang hidup mereka selalu berada dalam kesalehan dan kebaikan. Kita yang masih sering berada di antara keburukan dan kebaikan adalah sangat wajar memohon agar selalu bersama Al-Abrar baik dalam kehidupan kita di dunia maupun di akhirat. Kenapa? Karena anugerah Allah SWT kepada Al-Abrar ini sangat luar biasa. Perhatikanlah beberapa ayat berikut :

ۗ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ لِّلْاَبْرَارِ

"Apa yang di sisi Allah itu lebih baik bagi orang-orang yang selalu berbuat baik." (QS Āli ‘Imrān [3]:198)

اِنَّ الْاَبْرَارَ يَشْرَبُوْنَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُوْرًاۚ

"Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum (khamar) dari gelas yang campurannya air kafur." (QS Al-Insān [76]:5)

اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍۙ

"Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan." (QS Al-Infiṭār [82]:13)

كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْاَبْرَارِ لَفِيْ عِلِّيِّيْنَۗ

"Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyīn." (QS Al-Muṭaffifīn [83]:18)

Kita tentu berharap dapat di wafatkan bersama Al-Abrar atau masuk dalam kedudukan dan golongan Al-Abrar. Maka untuk itu kita perlu selalu berupaya membersihkan hati, mengukir hati kita dengan kebaikan dan menghiasi setiap gerak-gerik kita dengan perbuatan baik. Niscaya Allah masukkan kita pada kedudukan Al-Abrar dan menggabungkan kita di dunia dan akhirat bersama al-abrar. ***