Wajah Ceria dan Al-Jannah

Kita selalu terkenang dan membicarakan kebaikan-kebaikan Ustadz Jalal dan Bunda Euis Kartini yang kita peringati Haul nya ini sebagai, mereka yang wajahnya identik dengan senyuman, keceriaan dan keramahan yang dirasakan ketulusannya.

KHAZANAH

Dr. Dimitri Mahayana, M.Eng

12/31/20256 min read

Kita selalu terkenang dan membicarakan kebaikan-kebaikan Ustadz Jalal dan Bunda Euis Kartini yang kita peringati Haul nya ini sebagai, mereka yang wajahnya identik dengan senyuman, keceriaan dan keramahan yang dirasakan ketulusannya.

Barangkali, teladan mereka berdua ini juga yang dalam riwayat-riwayat Hadis dan Akhbar disebut dengan al-bisyr.

Kita sekarang juga masih ada di bulan Az Zahra as… , di mana di dalamnya kita banyak mengenang dan merawat ingatan kita atas Az Zahra as.

Ijinkan saya memulai majelis yang mulia ini dengan membacakan dari Az Zahra as, suatu hikmah yang amat mendalam dan indah.

بِشْرٌ فِي وَجْهِ الْمُؤْمِنِ يُوجِبُ لِصَاحِبِهِ الْجَنَّةَ.

"Keceriaan di wajah orang mukmin mewajibkan surga bagi pemiliknya."

(Bihar Al-Anwar juz 75 hal 401)

Penjelasan:

• بِشْرٌ (bisyr) = keceriaan, wajah yang berseri

• فِي وَجْهِ الْمُؤْمِنِ (fī wajhi al-mu'min) = di wajah orang mukmin

• يُوجِبُ (yūjibu) = mewajibkan, mengharuskan

• لِصَاحِبِهِ (li-ṣāḥibihi) = bagi pemiliknya

• الْجَنَّةَ (al-jannah) = surga

Menampakkan wajah yang cerah dan ramah kepada sesama mukmin adalah amalan yang pahalanya sangat besar, hingga menjamin surga bagi yang melakukannya.

Hadis ini sungguh menakjubkan saya. Ternyata syarat untuk masuk surga tidaklah sesulit yang saya fikirkan.

Pada saat terpikir berbagai dosa dan kesalahan saya, terkadang dunia menjadi demikian gelap. Akhir-akhir ini, saya kadang mengamalkan memasukkan membaca surah Al Zalzalah di salah satu shalat sunnnah, kalau hari itu mendapat Rahmat dan Taufik dari Nya untuk melakukannya. Hasilnya sungguh luar biasa.

Hati tergoncang.Kadang rasanya penuh dengan ketakutan. Itulah yang mungkin menurut Guru kita semua Kyai Miftah, percikan makna “latarowunnal jahiim”; yakni seorang hamba dengan yakin melihat “al jahiim” ada dalam setiap amalnya tanpa kecuali. Bahwa amal lahir batinnya penuh dengan kecacatan. Dan semua kecacatan itu bermula dari tidak syukur nikmat. Tidak syukur nikmat yang paling utamanya adalah tidak mensyukuri nikmat terbesar bagi kita , yakni Kanjeng Nabi Saw dan keluarganya yang suci as.

Di antaranya mungkin adalah hadis dari Sayyitu al-Nisaa fil ‘alamin di atas. Sangat layak kita syukuri dengan ribuan rasa syukur. Apalagi Guru-Guru kita yang kita peringati haulnya hari ini telah memberi Pelajaran dan teladan yang demikian indah dalam mengamalkannya.

Selalulah BAHAGIA. Selalu cerilah. Upayakan wajah senantiasa TERSENYUM saat berinteraksi dengan sesama. Jadilah kepribadian yang menebarkan KEBAHAGIAAN bagi sesama. Maka wajib atas kita surga (catatan kaki berlaku).

Mari kita coba menambah syukur nikmat kita seraya merawat ingatan kita pada yang untuk mereka kita Haul dengan mencoba memahami Al BISYR ini lebih dalam.

Pertama, riwayat-riwayat tentang Al-Bisyr.

البِشْر - Keceriaan

١ـ رَسُولُ اللهِ‏ِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ):

حُسْنُ الْبِشْرِ يَذْهَبُ بِالسَّخِيمَةِ.

1- Rasulullah ﷺ bersabda: "Kebaikan dalam keceriaan menghilangkan kedengkian [orang lain]." [al-Kafi, j. 2, h. 103, no. 6]

٢ـ رَسُولُ اللهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ):

اِلْقَ أَخَاكَ بِوَجْهٍ مُنْبَسِطٍ.

2- Rasulullah ﷺ bersabda: "Temuilah saudaramu dengan wajah yang cerah." [Ibid. no. 3]

٣ـ رَسُولُ اللهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ):

إِنَّكُمْ لَنْ تَسَعُوا النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ، فَالْقُوهُمْ بِطَلَاقَةِ الْوَجْهِ وَحُسْنِ الْبِشْرِ.

3- Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya kalian tidak akan mampu merangkul semua orang dengan harta kalian, maka temuilah mereka dengan wajah yang berseri dan keceriaan yang baik." [Ibid. no. 1]

٤ـ الإِمَامُ عَلِيٌّ (عَلَيْهِ السَّلَامُ):

الْبَشَاشَةُ حِبَالَةُ الْمَوَدَّةِ.

4- Imam Ali as. bersabda: "Senyuman adalah jerat kasih sayang." [Bihar al-Anwar, j. 69, h. 409, no. 120]

٥ـ الإِمَامُ عَلِيٌّ (عَلَيْهِ السَّلَامُ):

الْبِشْرُ شِيمَةُ الْحُرِّ.

5- Imam Ali as. bersabda: "Keceriaan adalah sifat orang yang merdeka." [Ghurar al-Hikam, no. 656]

٦ـ الإِمَامُ عَلِيٌّ (عَلَيْهِ السَّلَامُ):

سَبَبُ الْمَحَبَّةِ الْبِشْرُ.

6- Imam Ali as. bersabda: "Sebab dari kecintaan adalah keceriaan." [Ibid. no. 5546]

٧ـ الإِمَامُ عَلِيٌّ (عَلَيْهِ السَّلَامُ):

إِنَّ بِشْرَ الْمُؤْمِنِ فِي وَجْهِهِ، وَقُوَّتَهُ فِي دِينِهِ، وَحُزْنَهُ فِي قَلْبِهِ.

7- Imam Ali as. bersabda: "Sesungguhnya keceriaan orang mukmin ada di wajahnya, kekuatannya ada di agamanya, dan kesedihannya tersimpan di hatinya." [Ibid. no. 3454]

٨ـ الإِمَامُ عَلِيٌّ (عَلَيْهِ السَّلَامُ):

بِشْرُكَ يَدُلُّ عَلَى كَرَمِ نَفْسِكَ.

8- Imam Ali as. bersabda: "Keceriaanmu menunjukkan kemuliaan jiwamu." [Ibid. no. 4453]

٩ـ الإِمَامُ عَلِيٌّ (عَلَيْهِ السَّلَامُ):

إِذَا لَقِيتُمْ إِخْوَانَكُمْ فَتَصَافَحُوا، وَأَظْهِرُوا لَهُمُ الْبَشَاشَةَ وَالْبِشْرَ، تَتَفَرَّقُوا وَمَا عَلَيْكُمْ مِنَ الْأَوْزَارِ قَدْ ذَهَبَ.

9- Imam Ali as. bersabda: "Apabila kalian bertemu saudara-saudara kalian, maka berjabat tanganlah, dan tunjukkanlah kepada mereka senyuman dan keceriaan; dengan demikian ketika kalian berpisah, semua dosa kalian telah hilang." [Bihar al-Anwar, j. 76, h. 20, no. 3]

١٠ـ الإِمَامُ عَلِيٌّ (عَلَيْهِ السَّلَامُ):

إِنَّ أَحْسَنَ مَا يَأْلَفُ بِهِ النَّاسُ قُلُوبَ أَوِدَّائِهِمْ، وَنَفَوْا بِهِ الضِّغْنَ عَنْ قُلُوبِ أَعْدَائِهِمْ: حُسْنُ الْبِشْرِ عِنْدَ لِقَائِهِمْ، وَالتَّفَقُّدُ فِي غَيْبَتِهِمْ، وَالْبَشَاشَةُ بِهِمْ عِنْدَ حُضُورِهِمْ.

10- Imam Ali as. bersabda: "Sesungguhnya sebaik-baik cara yang dengannya manusia dapat merangkul hati orang-orang yang mereka cintai, dan menghilangkan kedengkian dari hati musuh-musuh mereka adalah: kebaikan dalam keceriaan ketika bertemu mereka, menanyakan kabar mereka ketika tidak hadir, dan bersikap ramah kepada mereka ketika hadir." [Ibid. j. 78, h. 57, no. 124]

Selalu berusaha ceria ketika bertemu sesama mukmin, dan menjabat tangan mereka, rajin mengikuti majelis ilmu dan perkhidmatan dan menebar keceriaan; ternyata dapat menghapus dosa-dosa. Dan bila senyum dan wajah ceria ketika berinteraksi dengan sesama manusia menjadi karakter; maka jiwa kita melaluinya bertransformasi menjadi jiwa yang surgawi. Jiwa yang menebarkan kebahagiaan bagi keluarga dan sesame manusia. Menurut alfaqir, ini sungguh luar biasa dan termasuk di antara hal-hal yang targhib, - yakni menumbuhkan harapan akan Kasih SayangNya dan AmpunanNya walaupun dosa-dosa kita tak terhitung.

Al-Quran sering kali menggambarkan wajah-wajah orang beriman di surga sebagai yang penuh keceriaan dan cahaya.

Misalnya, dalam Surah Al-Insan ayat 11: "Maka Tuhan mereka melindungi mereka pada hari itu dari siksa neraka, dan mereka bertemu dengan wajah yang ceria dan hati yang gembira." Ayat ini mengilustrasikan bagaimana keceriaan bukan hanya ekspresi luar, tapi buah dari iman yang kuat, di mana musibah duniawi digantikan dengan kebahagiaan abadi di jannah.

فَوَقٰىهُمُ اللّٰهُ شَرَّ ذٰلِكَ الْيَوْمِ وَلَقّٰىهُمْ نَضْرَةً وَّسُرُوْرًاۚ

Fa waqāhumullāhu syarra żālikal-yaumi wa laqqāhum naḍrataw wa surūrā(n).

Maka, Allah melindungi mereka dari keburukan hari itu dan memberikan keceriaan dan kegembiraan kepada mereka.

Begitu juga Surah Al-Ghasyiyah ayat 8-11:

Wujūhuy yauma'iżin nā‘imah(tun).

Pada hari itu banyak (pula) wajah yang berseri-seri,

9

لِّسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ ۙ

Lisa‘yihā rāḍiyah(tun).

merasa puas karena usahanya.

10

فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍۙ

Fī jannatin ‘āliyah(tin).

(Mereka) dalam surga yang tinggi.

11

لَّا تَسْمَعُ فِيْهَا لَاغِيَةً ۗ

Lā tasama‘u fīhā lāgiyah(tan).

Di sana kamu tidak mendengar (perkataan) yang tidak berguna.

"Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, karena usahanya mereka merasa senang." Barangkali, ini mengisyaratkan bahwa bentuk jiwa yang ceria merupakan salah satu ciri para Ahli Surga. Dan sebagai ekstensinya di alam material adalah. Wajah yang ceria.

Mengikuti teladan Ustadzna Jalal, keceriaan bukan hanya domain spiritual; sains psikologi modern juga menjelaskannya melalui lensa humanistik, positif, dan transpersonal.

Dalam psikologi humanistik, yang dipelopori oleh Abraham Maslow dan Carl Rogers, keceriaan muncul dari pemenuhan kebutuhan dasar hingga aktualisasi diri. Faktor utamanya adalah unconditional positive regard—penerimaan diri tanpa syarat—yang membuat seseorang tetap ceria meski menghadapi kegagalan, karena mereka melihat setiap pengalaman sebagai bagian dari pertumbuhan. Bayangkan seorang ibu rumah tangga yang kehilangan pekerjaan; melalui pendekatan humanistik, ia belajar mensyukuri waktu bersama keluarga, sehingga wajahnya tetap berseri.

Psikologi positif, yang dikembangkan oleh Martin Seligman, menambahkan faktor seperti gratitude (syukur) dan resilience (ketahanan). Penelitian menunjukkan bahwa praktik syukur harian meningkatkan hormon endorfin, membuat wajah lebih ceria secara alami. Seligman dalam teori PERMA-nya (Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning, Achievement) menjelaskan bahwa keceriaan datang dari menemukan makna dalam musibah.

Sementara itu, psikologi transpersonal—yang mengintegrasikan spiritualitas—melihat keceriaan sebagai hasil dari pengalaman transenden, di mana individu melampaui ego dan terhubung dengan yang lebih besar, seperti dalam meditasi atau doa. Tokoh seperti Ken Wilber menggambarkan ini sebagai "puncak pengalaman" yang membawa kedamaian abadi, mirip dengan janji al-jannah dalam Islam. Kisah seorang pasien kanker yang tetap ceria melalui terapi transpersonal menunjukkan bagaimana faktor-faktor ini menyentuh hati, mengubah penderitaan menjadi sumber kekuatan.

"Dalam psikologi humanistik, yang dipelopori oleh Abraham Maslow dan Carl Rogers, keceriaan muncul dari pemenuhan kebutuhan dasar hingga aktualisasi diri. Faktor utamanya adalah unconditional positive regard—penerimaan tanpa syarat dari orang lain (seperti orang tua, teman, atau terapis), konsep kunci dari Carl Rogers—yang membantu seseorang mengembangkan penerimaan diri yang kuat, sehingga tetap ceria meski menghadapi kegagalan, karena mereka melihat setiap pengalaman sebagai bagian dari pertumbuhan. Bayangkan seorang ibu rumah tangga yang kehilangan pekerjaan; melalui pendekatan humanistik dan dukungan keluarga yang menerimanya tanpa syarat, ia belajar mensyukuri waktu bersama keluarga, sehingga wajahnya tetap berseri.

Psikologi positif, yang dikembangkan oleh Martin Seligman, menambahkan faktor seperti gratitude (syukur) dan resilience (ketahanan). Penelitian menunjukkan bahwa praktik syukur harian meningkatkan neurotransmitter seperti dopamin dan serotonin, membuat suasana hati lebih positif dan wajah lebih ceria secara alami. Dalam teori PERMA-nya (Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning, Accomplishment), Seligman menjelaskan bahwa keceriaan juga datang dari kemampuan menemukan makna dan tujuan, bahkan di tengah musibah.

Sementara itu, psikologi transpersonal—yang mengintegrasikan spiritualitas—melihat keceriaan sebagai hasil dari pengalaman transenden, di mana individu melampaui ego dan terhubung dengan yang lebih besar, seperti dalam meditasi atau doa. Abraham Maslow menggambarkan ini sebagai 'peak experience' (puncak pengalaman) yang membawa kedamaian mendalam, sementara Ken Wilber mengembangkan teori integral tentang tingkatan kesadaran yang lebih tinggi—mirip dengan janji al-jannah dalam Islam. Kisah seorang pasien kanker yang tetap ceria melalui terapi transpersonal menunjukkan bagaimana faktor-faktor ini menyentuh hati, mengubah penderitaan menjadi sumber kekuatan."

Untuk menjadikan wajah kita selalu ceria, berikut lima rekomendasi sederhana yang bisa dilakukan sehari-hari:

Pertama, pahami 7 alasan untuk mensyukuri musibah (baca Doa dan Kebahagiaan, dan Agar Semua Bahagia). Di antaranya Falsafah Untung, dan Agar Tidak Menambah Dukacita Nabi Saw. Sehingga apa pun yang terjadi kita memilih untuk tidak terrasuki oleh anger (amarah), depresi dan kecemasan. Selalu tersenyum dengan penuh rasa syukur. Jangan pernah salahkan kondisi eksternal atas seluruh emosi negatif dalam diri kita. Salahkan diri sendiri. Perbaiki diri sendiri.

Kedua, mulailah hari dengan jurnal syukur (yakni jurnal Hamdalah)—tulis dalam lembar hati tiga Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin atau lebih untuk hal yang disyukuri setiap pagi, seperti napas sehat atau secangkir teh hangat, untuk membangun resilience ala psikologi positif.

Ketiga, praktikkan senyum di depan cermin selama satu menit bila perlu setiap hari, sambil mengingat hadis Sayyidah Zahra as tadi. Betapa mudah masuk surga bila kita selalu tersenyum ceria.

Keempat, jadikan setiap Shalat seolah ia adalah Shalat terakhir. Sehingga, jiwa kita benar-benar terlepas dari checklis urusan-urusan selain menyiapkan kematian yang akan menjemput setelah salam atau bahkan di tengah shalat. Fokus adab kesopanan di depan Raja Yang Maha Mulia Nan Penuh Kasih, dan fokus pada makna bacaan . Semoba beroleh koneksi spiritual, dan pengalaman transenden yang membawa kedamaian.

Kelima, jangan jadikan dunia akbaru hammina, kasihilah fuqara, jadikan khidmat pada sesame sebagai ideologi hidup.

Mari tebarkan senyum senantiasa berharap Syafa’at Sayyidah Zahra as dan Ayahandanya saw dan suaminya as dan keturunan suci Sayyidah Zahra ‘alaihimus salam.

Wa maa taufiiqii illa billah ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib." ***